Dia Manusia Biasa? Ketinggian Kedudukan Rasulullah SAW dalam Surat Al-Kahfi

Tentang Artikel :

Pada akhir surat al-Kahfi antara lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang manusia biasa. Dan seringkali dengan berbekal potongan ayat tersebut, lalu sebagian kita menempatkan beliau SAW pada posisi yang salah, sebagaimana mereka menempatkan manusia-manusia biasa lainnya. Setiap ayat tertulis memiliki konteks yang jika dilepaskan maka kita akan mendapatkan pemahaman yang dapat melenceng jauh dari seharusnya. Tulisan ini menjelaskan apa yang saya pahami dari konteks tersebut. WaLlahu a'lam bimuradihi.


WAKOOL.ID—Menurut Imam Abdullah bin Alwi Al Haddad ra dalam thariqah Alawiyah, Al ‘Abd merupakan suatu maqam. Maqam Al ‘Abd adalah maqam tingkatan seseorang yang telah sampai pada Maqm Al Washl dan mampu mengendalikan diri karena kekuatan warid dalam menerima Waridah Al Ilahiyah hingga dalam waktu bersamaan dapat menyaksikan Allah SWT sebagai Al Maujud Al Mutlaq, dan dapat pada waktu itu pula dia merasakan dirinya hanya sebagai hamba. Bagi Imam Al Haddad, maqam Al ‘Abd merupakan maqam tertinggi bagi seorang salik yang washil karena kala seseorang sampai pada derajat ini, berarti keinginannya telah menyatu dengan keinginan-Nya. Dia tidak lagi menyaksikan adanya wujud yang hakiki kecuali wujud Nya, dan dia telah sampai di penghujung tujuan penciptaan alam ini, termasuk jin dan manusia yang hanya untuk beribadah (menjadi ‘abd Nya)[i].

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku (menjadi ‘abd Nya)” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Surat Al-Kahfi dibuka dengan kalimat kabar (bermakna juga perintah) untuk mengucapkan puji syukur terhadap dua nikmat teragung yang diberikan Allah kepada kita. Kedua nikmat teragung tersebut adalah: diutusnya Hamba Nya (Rasulullah SAW) dan kitab yang dibawanya, yaitu al-Qur’an.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya (Rasulullah SAW) dan Dia tidak menjadikannya (ada sekecil apapun) kekurangan (ketidak sesuaian dengan fitrah). (QS. Al-Kahfi: 1)

Dalam awal surat al-Kahfi ini dan berbagai ayat-ayat al-Qur’an lainnya, Nabi kita SAW diberikan predikat “hamba Nya” secara mutlak, tanpa harus menyebutkan atribut nama untuk menjelaskannya. Seperti ketika Allah menyebutkan nabi-nabi lain seperti abdana dawudabdana ibrahimabdana musa, dan lain-lain. Allah SWT dalam al-Qur’an juga tidak pernah memanggil Rasulullah SAW dengan langsung menyebut nama beliau, seperti halnya pada nabi-nabi lainnya. Allah SWT memanggil beliau dengan Ya ayyuha an-Nabiy, Ya ayyuha ar-Rasul, Ya ayyuha al-Muzammil, …dst”. Berbeda dengan panggilan Allah kepada nabi-nabi lainnya, seperti Ya Isa ibnu Maryam, Ya Ibrahim, Ya Dawud, Ya Yahya…dst. Bahkan Allah SWT melarang orang memanggil beliau SAW seperti memanggil seorang biasa.

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)…” (QS. An-Nuur: 63)

Selanjutnya dalam surat Al-Kahfi ini banyak dijelaskan pula berbagai kelebihan Nabi Muhammad SAW diantara seluruh manusia. Seperti bagaimana ketinggian empati beliau SAW pada setiap manusia, yang menyebabkan beliau sangat sedih ketika mendapati manusia tidak mau mendengar pesan-pesan yang disampaikan pada beliau. Ini tak lain karena rasa cinta yang begitu tinggi pada seluruh hamba Allah. Prof Quraish Shihab mengatakan setiap nabi dan rasul mempunyai kesamaan yakni mencintai umatnya. Namun demikian kecintaan dan kasih sayang Rasulullah pada umatnya lebih besar dibanding para nabi dan rasul lainnya. 

Rasulullah SAW tidak berkenan umatnya mendapatkan azab sekalipun mereka menolak seruannya. Rasul justru mendoakan agar suatu saat Allah SWT memberikan hidayah pada mereka. Satu-satunya sifat “Rahim” yang oleh Allah dalam al-Quran diberikan kepada manusia hanyalah kepada Nabi Muhammad SAW. Kita menemukan 114 kali kata “Rahim” disebut dalam al-Qur’an. Diantaranya 113 menunjuk pada Allah, dan hanya satu menunjuk kepada selain-Nya, yaitu tak lain hanya kepada nabi Muhammad SAW. Bahkan hanya kepada beliau SAW, Allah SWT menyandingkan dua nama-Nya sekaligus, yaitu ar-Rauf dan ar-Rahim. Tidak ada kepada selain beliau.

Salah satu bentuk kemukjizatan al-Qur’an adalah keserasian dan keakurasian penggunaan kata dan penempatannya dalam ayat-ayatnya. Demikian juga halnya dalam Surat al-Kahfi ini. Surat ini seperti disebutkan diatas, dibuka dengan perintah memuji Nya atas dua nikmat agung yaitu hamba Nya (Rasulullah SAW) dimana diturunkan padanya kitab Nya yang sempurna.

Dan surat ini ditutup dengan penegasan kembali akan kesempurnaan kedua nikmat Allah tersebut.

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al-Kahfi: 109)

Pada ayat diatas, Allah SWT menyebutkan bahwa kalimat-kalimat Allah itu tidak terbatas. Takkan ada yang mampu menampung seluruh kalimat-kalimat Nya tersebut secara sempurna. Namun Allah SWT pada ayat berikutnya menegaskan:

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu….” (QS. Al-Kahfi: 110)

Pada ayat terakhir surat Al-Kahfi ini ditegaskan bahwa kalimat-kalimat Allah yang tidak terbatas tersebut telah diturunkan dan diterima oleh Rasulullah SAW yang secara fisik adalah manusia biasa seperti kita. Rasulullah SAW adalah manusia yang dapat menampung kalimat-kalimat Tuhan secara sempurna. Tidak ada manusia yang dapat menampung kalimat-kalimat Nya secara sempurna seperti beliau SAW. Rasulullah SAW adalah seorang manusia yang di awal surat disebut sebagai hamba Nya secara mutlak, yang menurut Imam Al-Haddad ra merupakan maqam tertinggi bagi seorang salik yang washil karena kala seseorang sampai pada derajat ini, berarti keinginannya telah menyatu dengan keinginan-Nya.

Dan di penutup surat ini disebutkan bahwa beliau adalah manusia biasa yang paling dapat menampung kalimat-kalimat Nya yang tak terbatas. Sungguh serasi pembuka dan penutup Surat al-Kahfi yang indah ini. Menegaskan bahwa Rasulullah adalah manusia yang sempurna, al-Insan al-Kamil. ShallaLLahu ‘alaihi wa aalihi. [wkid/picture:idntimes]


[i] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, (Jakarta: Amzah,2005)


ARTIKEL TERKAIT