Benarkah Nabi Bermuka Masam?

Tentang Artikel :

Terdapat kontroversi pemakanaan dari para ahli tafisr terhadap awal Surat Abasa mengenai benarkah seseorang yang ditegur Alah dalam ayat itu karena bermuka masam adalah Rasulullah SAW. Mari kita ikut penjelasannya.


WAKOOL.ID-- Surat Abasa merupakan surat yang turun di Makkah, sehingga tergolong ke dalam kelompok surat-surat makkiyah. Surat yang terdiri atas 42 ayat ini menurut sebagian riwayat diturunkan setelah turunnya surat An-Najm. Surat ini menjelaskan beberapa pokok penting tentang aqidah, keimanan pada Allah dan hari Akhir, serta adab dalam berdakwah.

Surat ini diawali dengan kalimat-kalimat teguran tentang “seseorang” yang bermuka masam dan memalingkan wajahnya ketika seseorang buta datang menemui Rasulullah SAW untuk bertanya sesuatu hal yang dia perlukan. Sedangkan saat itu Rasulullah SAW sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy.

Sikap bermuka masam dan berpaling ini yang kemudian ditegur oleh Allah SWT melalui awal surat ini. Namun demikian terdapat perbedaan pendapat mengenai siapakah “seseorang” yang bermuka masam dan berpaling tersebut sehingga mendapatkan teguran Allah SWT ini. Karena bentuk kata ganti (dhamir) yang digunakan dalam ayat-ayat tersebut menggunakan bentuk kata ganti orang ketiga. Biasanya dalam al-Qur’an apabila ditujukan kepada Rasulullah SAW, maka kata ganti yang digunakan adalah bentuk kata ganti orang kedua (seperti “engkau”, “wahai nabi”, “wahai rasul”, dan sejenisnya). Alhasil hal ini telah menimbulkan perbedaan pendapat para ahli tafsir seperti akan diuraikan masing-masing argumentasinya di bawah ini.

Pendapat 1: Rasulullah SAW yang Bermuka Masam

Pendapat ini didasarkan pada hadits yang disebutkan sebagai asbab an-nuzul dari turunnya surat Abasa ini. Diantaranya Ibnu Katsir menuliskan riwayat berikut sebagai sebab turunnya surat Abasa ini:

Rasulullah SAW di suatu hari sedang berbicara dengan salah pembesar Quraisy, yang beliau sangat menginginkan dia masuk Islam. Ketika beliau SAW sedang berbicara dengan suara yang perlahan dengan orang Quraisy itu, tiba-tiba datanglah Ibnu Ummi Maktum, salah seorang yang telah masuk Islam sejak lama. Kemudian Ibnu Ummi Maktum bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sesuatu dengan pertanyaan yang mendesak. Dan Nabi SAW saat itu sangat menginginkan andaikata Ibnu Ummi Maktum diam dan tidak mengganggunya, agar beliau dapat berbicara dengan tamunya yang dari Quraisy itu karena beliau sangat menginginkannya mendapat hidayah. Untuk itulah maka beliau bermuka masam terhadap Ibnu Ummi Maktum dan memalingkan wajah beliau darinya serta hanya melayani tamunya yang dari Quraisy itu. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya dalam surat Abasa.

Berdasarkan hadits tersebut diatas yang diriwayatkan sebagai sebab turunnya ayat surat Abasa, maka kelompok mufassir ini berpendapat bahwa Rasulullah SAW lah yang telah bermuka masam dan berpaling dari seorang tuna netra (Abdullah bin Ummi Maktum) dan lebih mementingkan untuk berdakwah pada para pemuka Quraisy.

Walaupun demikian, betapapun, penganut pendapat ini tidak mengurangi keyakinannya akan keluhuran akhlaq Rasulullah SAW yang merupakan suri tauladan yang baik (uswah hasanah) untuk manusia. Hal ini juga didasarkan akan penjagaan (ishmah/ma’sum) Rasulullah SAW dengan pengertian bahwa Allah SWT selalu menjaga Rasulullah SAW dari berbuat yang salah atau kurang baik. Sehingga ketika Rasulullah SAW melakukan kesalahan atau sesuatu yang kurang baik maka Allah SWT langsung menegur beliau SAW.

Pendapat 2: BUKAN Rasulullah SAW yang Bermuka Masam

Pendapat ini meyakini bahwa yang dimaksud dengan “dia” yang bermuka masam dan berpaling itu bukanlah Rasulullah SAW. Pendapat tersebut didasarkan atas beberapa premis sebagai berikut:

  1. Bahwa mustahil ayat al-Qur’an yang satu bertentangan dengan ayat al-Qur’an yang lain.
  2. Bahwa jika terdapat ayat al-Qur’an yang samar atau multi tafsir, maka usahakan berpegang pada ayat al-Qur’an yang lebih jelas dan terang maknanya
  3. Bahwa ayat Al-Qur’an merupakan sumber hukum yang tertinggi, sehingga apabila ada sumber hukum di bawahnya yang bertentangan dengan ayat al-Qur’an yang jelas maka riwayat tersebut haruslah ditolak. Atau jika ada riwayat hadits yang bertentangan dengan al-Qur’an yang jelas maka riwayat tersebut mestilah ditolak, karena pastilah bukan dari Nabi SAW yang tak mungkin menyelisihi al-Quran.

Bermuka masam (‘abasa) dan memunggungi seorang miskin dan buta dan lebih mementingkan orang-orang besar menurut penganut pendapat ini sulit untuk dikatakan sebagai bukan perangai yang negatif. Al-Qur’an ditempat lain (rujuk Al-Muzammil 22-25) menggunakan kata yang sama (‘abasa) ini yang ditujukan kepada al-Walid bin Mughirah yang merupakan tokoh kafir yang memerangi Nabi SAW hingga akhir hayatnya. Sedangkan Allah SWT menjamin tentang keluhuran akhlaq Nabi SAW dalam banyak ayat Nya yang lain, seperti:

وإنك لعلى خلق عظيم

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Qs. al-Qalam: 4)

Pada ayat diatas, Allah SWT menegaskan secara berlapis-lapis tentang keluhuran akhlaq Nabi SAW. Yaitu dengan (1) kata “Inna” (sesungguhnya), lalu dikuatkan lagi dengan (2) kata “La” (sungguh), lalu dikuatkan lagi dengan (3) kata “’alaa” (di atas, maksudnya menguasai segala akhlaq baik), kemudian dikuatkan lagi dengan (4) tanwin pada kata “khuluqin yang menunjukkan kesempurnaan sesuatu (dalam hal ini akhlaq beliau); dan kemudian ditutup dengan penguatan lagi menggunakan kata (5) “’adziim” yang bermakna sangat agung (penggunakan kata “’adziim” dalam al-Quran hanya digunakan untuk sesuatu yang dahsyat seperti al-Quran al-AdziemArsy al-Adziem, dll.

Jadi penganut pendapat ini meyakini bahwa sangat tidak mungkin Rasulullah SAW yang ditegaskan berlipat-lipat tentang keluhuruan akhlaq nya itu melakukan sesuatu yang kurang pantas seperti bermuka masam dan berpaling tersebut. Walaupun kalau orang biasa, mungkin itu sesuatu yang bisa dikatakan wajar karena Abdullah bin Ummi Maktoum menyela-nyela pembicaraan Rasulullah SAW yang sedang berbicara dengan pihak lain. Tapi untuk figur Rasulullah SAW, tidak mungkin akan dilakukan yang demikian.

Ditambah lagi sejumlah ayat al-Quran lain yang memperkuat keyakinan tersebut, antara lain:

  1. Bahwa tidak ada yang keluar dari Rasulullah SAW kecuali hanyalah wahyu dari Allah SWT.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ

“dan tiadalah darinya (Muhammad SAW) menurut kemauan hawa nafsunya.”

إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٌ يُوحَىٰ

“Darinya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 2-3)

  1. Bahwa Nabi merupakan suri tauladan mutlak yang harus diikuti:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah [QS. al-Ahzab:21]

  1. Adanya penegasan Allah SWT bahwa Nabi SAW selalu berada di jalan yang lurus (shirat al-mustaqiem)

اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ

sungguh, engkau (Muhammad) adalah salah seorang dari rasul-rasul,

عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ

(yang berada) di atas jalan yang lurus (QS. Yaasin: 3-4)

Dan masih banyak ayat-ayat lain yang jelas dan tidak diperselisihkan maknanya mengenai kesucian Nabi SAW dari perangai yang kurang baik. Allah SWT menegaskan berulang-ulang dalam sejumlah ayat Nya supaya kita dapat dengan tenang dan sepenuhnya yakin dalam mengikuti apapun yang dari Nabi SAW. Apalagi dalam surat Abasa ini, kata ganti yang digunakan tidak jelas menunjuk kepada Nabi SAW (menggunakan kata ganti orang ketiga), sehingga penganut pendapat ini semakin yakin bahwa pasti bukanlah Nabi SAW yang bermuka masam dan berpaling itu. Melainkan seseorang lain yang saat itu berada dalam pertemuan tersebut. Adapun mengenai riwayat hadits yang dinisbatkan sebagai asbab an-nuzul surat ini pun mesti dipertanyakan karena bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang jelas dan tidak diperselisihkan. Apalagi sebagian hadits tersebut masih dalam derajat gharib dan munkar.

Adapun definisi keterjagaan (kemaksuman) nabi SAW oleh Allah SWT menurut penganut pendapat ini bukanlah menjaga Nabi SAW dalam arti menegur Nabi SAW ketika berbuat kesalahan atau hal yang kurang baik. Namun ketinggian keimanan dan keyakinan Nabi SAW lah (karena pengajaran Allah SWT dan berbagai hal yang beliau telah terima dari Nya) yang menjaga beliau sehingga mustahil berbuat salah. Seperti halnya seorang dewasa yang berakal sehat tidak mungkin mau loncat ke jurang karena yakin pasti akan celaka. WaLLahu a’lam.

Kesimpulan

Demikianlah awal surat Abasa ini memberikan pengajaran kepada kita bahwa kita tidak boleh membedakan perlakuan berdasarkan status sosial atau kondisi fisik seseorang. Pertimbangan yang selayaknya diambil adalah aspek kemanfaatan dari apa yang kita akan lakukan/berikan pada orang yang membutuhkan kita tersebut.

Kita mesti mendahulukan orang yang memang membutuhkan bantuan kita, dibandingkan kepada orang yang sombong atau merasa dirinya tidak membutuhkan kita.

Adapun mengenai perbedaan pendapat terkait siapakah “dia” yang bermuka masam dan berpaling itu, sebaiknya kita dapat saling menghargai perbedaan tersebut dan mengembalikan semuanya pada Allah yang Maha Tahu segala sesuatu. Dan kita semua harus tetap menempatkan figur Rasulullah SAW sebagai makhluq Nya yang berkepribadian agung, suri tauladan dan wajib kita semua taati sepenuhnya.

WaLlahu a’lam bi al-muradih. [wkid/alabror]


ARTIKEL TERKAIT