Menilai Pengaruh Dari Tren Di Masa Depan

Tentang Artikel :

Artikel ini berisi tentang analisa pekerjaan berorientasi masa depan


Analisa pekerjaan berorientasi masa depan

WAKOOL.ID - Analisa pekerjaan berorientasi masa depan akan menghasilkan deskripsi pekerjaan apa yang kemungkinan dilakukan di masa depan. Hal ini akan menghasilkan deskripsi pekerjaan atau posisi di masa depan yang mungkin terjadi akibat tren di lingkungan eksternal ataupun internal yang menghasikan perkerjaan yang baru dan memerlukan keahlian yang baru untuk mengerjakannya

Untuk menganalisanya kita perlu tahu cara menganalisanya dengan berbagai metode yang bisa dipakai. Tidak ada metode standar yang biasa digunakan dalam melakukan Analisa pekerjaan di masa depan, tetapi beberapa metode ini bisa digunakan, yakni sebagai berikut

How To Increase Your Chances Of Getting Hired | Quad Consultancy

 

1. Proses insiden kritis

Proses insiden kritis atau teknik insiden kritis (TIC) merupakan metode penelitian kualitatif yang telah digunakan sejak paruh pertama abad ke-20. Ini adalah alat yang saat ini digunakan untuk mengevaluasi pengalaman dan perilaku di berbagai bidang, mulai dari pemasaran hingga kedokteran gigi atau keperawatan. Secara khusus, Teknik Insiden Kritis telah berguna untuk mengevaluasi penyediaan layanan. Pada artikel ini kita akan melihat apa Teknik Insiden Kritis itu, bagaimana itu muncul dan bagaimana itu dapat diterapkan.

Flanagan mengembangkan lima langkah yang diperlukan pada saat menggunakan teknik insiden kritis. Langkah-langkah ini adalah yang digunakan secara umum dalam banyak teknik penelitian kualitatif berdasarkan pengamatan dan data anecdotal. Diantaranya

  1. Identifikasi tujuan utama. Yang pertama adalah ajukan pertanyaan penelitian, dari mana tujuan utama pengamatan diusulkan.
  2. Hasilkan suatu prosedur. Selanjutnya, perlu untuk menguraikan langkah-langkah tindakan spesifik. Pada prinsipnya ini tentang menentukan situasi konkrit yang akan diamati.
  3. Kumpulkan data. Data dapat dikumpulkan dengan berbagai cara.
  4. Analisis data. Setelah data telah dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah menganalisisnya. Ini berarti mendeskripsikan dan menerjemahkannya dengan cara yang memungkinkan kita untuk menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.
  5. Menafsirkan dan melaporkan hasil. Akhirnya, karena data telah dianalisis dan diorganisasikan dengan koherensi yang terkait dengan tujuan pengamatan, maka perlu mengidentifikasi potensi dan juga imitasi dari penelitian.

2. Teknik Delphi

Metode Delphi merupakan suatu proses memperoleh kesepakatan (consensus) dari sekumpulan tenaga ahli (expert) tanpa mereka mengetahui satu sama lain. Dalam metode ini, serangkaian kuesioner disebarkan kepada responden, kemudian jawabannya diringkas, yang selanjutnya disampaikan ke panel ahli untuk mendapat tanggapan (memberikan prakiraan). Pembahasan dapat dilakukan dalam beberapa putaran sampai tercapai suatu kesepakatan (consensus) diantara para ahli.

Dalam penggunaannya, team HR melakukan:

   • Memilih team panel berisi “ahli” yang terdiri dari pemangku jabatan yang telah ada, atasannya dan juga apabila diperlukan top manajemen perusahaan.

   • Membuat kuesioner yang menanyakan pendapat ahli tersebut mengenai kendala, tren, atau tugas yang mungkin mempengaruhi pekerjaan atau pekerjaan yang mirip

   • Memastikan pemilihan pertanyaannya jelas dan tidak ambigu

   • Mengirimkan pertanyaan kepada team panel

   • Memperoleh hasil pertanyaan sesi pertama dan menganalisanya

   • Menyiapkan pertanyaan sesi kedua berdasarkan jawaban sesi pertama untuk mempertegas jawaban team panel dengan menambahkan pertanyaan mengenai tren, pekerjaan atau tugas

   • Mengirimkan kuesioner

   • memperoleh jawaban dan menganalisanya

 

   • Hal ini akan terus dilakukan hingga jawaban dari team panel semuanya sama, biasanya setelah sesi ketiga atau keempat

 

3. Teknik Nominal Group

Teknik ini mirip dengan Teknik delphi dalam banyak hal kecuali partisipan mengevaluasi idenya dengan cara bertemu tatap muka, bukan dengan mengisi kuesioner. Teknik kelompok nominal atau NGT merupakan teknik pengambilan keputusan dalam diskusi kelompok yang dapat digunakan pada seluruh proses penilaian risiko. Teknik ini dapat mengatasi situasi di mana terdapat peserta diskusi yang lebih dominan dibanding peserta yang lain.

  1. Introduction. Pada tahap ini, fasilitator/moderator membuka sesi NGT, menyapa para peserta, sekaligus menjelaskan tujuan dan prosedur dari pertemuan
  2. Generating Ideas.Fasilitator mengutarakan pertanyaan atau masalah ke kelompok dalam bentuk tertulis di kertas. Selanjutnya, masing-masing peserta diminta untuk menuliskan seluruh ide yang muncul di kepalanya. Para peserta diminta untuk bekerja secara independen, tanpa berdiskusi sama sekali dengan peserta lain. Tahap ini membutuhkan sekitar 10 menit.
  3. Sharing & Recording Ideas. Selanjutnya, fasilitator meminta peserta untuk berbagi ide-ide yang sebelumnya sudah mereka tuliskan di kertas. Sang moderator menuliskan ide-ide dari tiap peserta pada papan tulis, supaya semuanya dapat melihat. Ide yang sama tidak disertakan, namun jika ada perspektif atau penekanan yang berbeda, dapat dimasukkan. Lanjutkan proses ini hingga seluruh ide dari tiap peserta dapat terdokumentasi. Pada tahap ini tidak ada diskusi atau debat, dan peserta boleh menuliskan ide-ide baru yang muncul sepanjang proses. Tahap ini membutuhkan sekitar 15-30 menit.
  4. Discussing Ideas. Selanjutnya, peserta diminta untuk memberikan penjelasan yang lebih detail mengenai ide-ide yang telah dikemukakan. Setiap peserta boleh mengajukan komentar ataupun pertanyaan mengenai ide-ide tersebut, dan yang menjawab tidak harus orang yang mengajukan ide tersebut. Intinya, fasilitator bertugas untuk memastikan bahwa tiap peserta dapat memberikan kontribusi pada diskusi, serta menjaga proses tetap netral, tanpa ada judgement atau serangan ke pihak tertentu. Fasilitator juga bertugas supaya seluruh ide dapat dibahas secara menyeluruh, dan tidak terpaku pada beberapa ide saja. Dalam tahap ini, tidak ada ide yang dieliminasi, hanya memberikan pemahaman mengenai ide-ide tersebut kepada para peserta dan memberi gambaran mengenai pentingnya ide-ide tersebut. Tahap ini membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit.
  5. Voting and Ranking on Ideas. Tahap terakhir, masing-masing peserta memberikan voting terhadap ide-ide yang ada. Sebelumnya, fasilitator harus menentukan terlebih dahulu kriteria-kriteria yang digunakan untuk voting ide. Jadi, misalnya tiap peserta diminta untuk memilih 5 ide terbaik dari daftar yang ada, kemudian mereka harus memberikan ranking prioritas bagi tiap ide tersebut. 1 untuk ide yang kurang penting, hingga 5 untuk yang paling penting. Ide yang memperoleh skor paling tinggi merupakan ide yang paling disukai dan disepakati bersama oleh kelompok

5. Skenario

Analisis skenario (scenario analysis) adalah proses menganalisis kemungkinan peristiwa masa depan dengan mempertimbangkan kemungkinan hasil alternatif. Ini dapat diterapkan pada banyak hal dalam ekonomi dan bisnis. 

   • Menentukan pekerjaan atau posisi yang ingin di Analisa

   • Menetukan sejauh mana di masa depan hal tersebut terjadi

   • Tentukan tren atau masalah yang mungkin terjadi terhadap pekerjaan yang ada sekarang

   • Buat asumsi mengenai sifat dari tren atau masalah tersebut yang kemungkinan terjadi di masa depan

    • Buat scenario, bisa lebih dari satu, yang menjelaskan kemungkinan dimasa depan (menjelaskan situasi, masalah atau kejadian tertentu)

   • Tanyakan beberapa partisipan yang memahami pekerjaan yang ingin di Analisa, bagaimana reaksi pemangku jabatan saat ini terhadap scenario tersebut

    • Buat deskripsi pekerjaan baru berdasarkan reaksi partisipan

6. Kuesioner

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya, dapat diberikan secara langsung atau melalui pos atau internet. Jenis angket ada dua, yaitu tertutup dan terbuka.

 

7. Wawancara

Menurut Charles Stewart dan W.B. Cash, wawancara adalah proses komunikasi dipasangkan dengan tujuan serius dan telah ditentukan dirancang untuk bertukar perilaku dan melibatkan tanya jawab. Wawancara adalah tanya jawab antara dua pihak yaitu pewawancara dan narasumber untuk memperoleh data, keterangan atau pendapat tentang suatu hal. Alternatif dari kuesioner adalah wawancara yang dilakukan secara tatap muka, melalui telephone, atau melalui video conference. Dengan menggunakan topik atau pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya, team HR menanyakan pemangku jabatan atau tenaga ahli mengenai tren dalam alur pekerjaan, industry, dan masalah lain yang mempengaruhi pekerjaan.

8. Observasi

Nawawi dan Martini menjelaskan bahwa observasi merupakan kegiatan mengamati, yang diikuti pencatatan secara urut. Hal ini terdiri atas beberapa unsur yang muncul dalam fenomena di dalam objek yang diteliti. Hasil dari proses tersebut dilaporkan dengan laporan yang sistematis dan sesuai kaidah yang berlaku. Cara lain untuk mendapatkan informasi mengenai pekerjaan dimasa depan adalah dengan membuat sebuah simulasi kondisi kerja dimasa depan yang kemungkinan (atau kita harapkan) terjadi, lalu amati apa yang dilakukan pemangku jabatan

9. Review dokumen

Team HR tidak harus selalu mengandalkan informasi dari pemangku jabatan dan atasannya. Tetapi bisa menganalisa berbagai dokumen yang terlibat dalam pekerjaan tersebut • Kendalanya adalah hasil dari Analisa ini belum tentu bisa digunakan untuk membuat deskripsi pekerjaan dimasa depan, selain itu berapa sering kata kunci muncul di dalam dokumen belum tentu menentukan bahwa hal tersebut penting dimasa depan.

 

[wkid/FritzGerald, K., Dent, B., M.F.D., dkk. (2008). Teknik Insiden Kritis: Alat yang Berguna untuk Melakukan Penelitian Kualitatif. Jurnal Pendidikan Gigi. 27 (3): 299-304, id.sainte-anastasie.org ]


ARTIKEL TERKAIT