MEMAKNAI MUSIBAH

Tentang Artikel :

Kita pasti semua sedih dan terguncang dengan bencana yang datang berturut-turut menimpa negeri ini. Tapi cara sebagian kecil orang di negeri ini menanggapi bencana ini kadang membuat kita lebih sedih. Tidak hanya dari kalangan awamnya, melainkan juga dari kalangan yang mengatas namakan dirinya sebagai "ustadz" dan kaum terpelajar. Diekspos secara publik pula. Menurut pengamatan saya yang terbatas, setidaknya selalu ada 3 narasi yang selalu muncul setiap bencana terjadi.


WAKOOL.ID—Kita pasti semua sedih dan terguncang dengan bencana yang datang berturut-turut menimpa negeri ini. Tapi cara sebagian kecil orang di negeri ini menanggapi bencana ini kadang membuat kita lebih sedih. Tidak hanya dari kalangan awamnya, melainkan juga dari kalangan yang mengatas namakan dirinya sebagai "ustadz" dan kaum terpelajar. Diekspos secara publik pula. Menurut pengamatan saya yang terbatas, setidaknya selalu ada 3 narasi yang selalu muncul setiap bencana terjadi:

1. Menghukum korban: Saat bencana terjadi, bukannya berempati, kita malah menjatuhkan vonis pada korban bencana dengan ungkapan “daerah itu layak mendapat bencana karena banyak maksiat”. Ungkapan ini bisanya dibumbui dengan cerita-cerita yang berusaha menguatkan asumsi itu. Seorang teman pernah cerita bahwa sehari setelah Tsunami Aceh terjadi, rekannya yang warga negara asing yang tinggal di Bandung langsung tergerak menjadi relawan. Namun tetangganya yang warga negara Indonesia terlihat sama sekali tidak tergerak karena menganggap bencana itu adalah hukuman. Bencana yang seharusnya menjadi sarana berempati, menjadi ajang menghukum.

2. Menghubungkan bencana dengan event sosial atau politik. Inilah hobi kita dalam cocokologi, mencocok-cocokkan suatu hal dengan hal lain. Dengan dalil “tak ada yang kebetulan di dunia ini” kita dengan mudah mencocok-cocokkan fenomena alam dengan berbagai peristiwa. Maka setiap orang punya tafsirnya sendiri-sendiri sesuai dengan preferensi, kepentingan dan identitasnya. Dan mereka menganggap tafsir mereka adalah tafsir paling benar. Bencana yang seharusnya membuat kita merenung, malah menjadi ajang lomba menafsir dan mencocok-cocokan.

3. Manafsirkan niat kemanusiaan para pihak yang membantu. Kerja kemanusiaan di wilayah bencana adalah kerja mulia. Namun selalu ada cerita-cerita menarik di dalamnya. Salah satunya adalah saling menafsirkan niat. Satu pihak menafsirkan suatu bantuan sebagai pencitraan. Pihak lain membanggakan suatu kelompok relawan sejati yang tak gila promosi. Bencana sebagai wahana mempersatukan kemanusiaan menjadi pembicaraan sektarian.

Kehidupan dunia ini terdiri dari beragam peristiwa. Ada yang menyenangkan, dan ada yang menyedihkan.  Tak ada kebahagiaan yang mutlak di dunia ini terkecuali pasti bercampur dengan kesedihan. Semua peristiwa yang terjadi itu adalah cara Allah SWT mendidik kepada kita, sebuah ujian agar kita mengambil pelajaran darinya. Kita harus selalu bersangka baik pada Allah SWT bahwa semua kejadian (baik ataupun buruk) itu ada hikmah penting bagi kita di baliknya.

Dahulu sebagian orang berpendapat bahwa kondisi baik atau buruk yang dihadapi oleh manusia itu merupakan cermin Ridha atau Murka Allah SWT. Jika mereka mendapatkan kesenangan, maka mereka menganggap telah dimuliakan Tuhannya, sedangkan jika mendapatkan musibah maka mereka mengatakan Tuhan telah menghinakannya.

Maka adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku.”

Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” (QS. Al-Fajr: 15-16)

Allah SWT menolak dengan tegas pendapat seperti itu, sehingga pada ayat berikutnya Allah SWT menafikannya dan memberikan petunjuk sikap seharusnya adalah dengan saling menolong sesama, membantu yang lemah dan membutuhkan.

Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, (QS. Al-Fajr: 17-18)

Sungguh keliru orang yang beranggapan, bahwa hamba Allah yang paling shaleh adalah orang yang paling jauh dari cobaan, bahkan cobaan merupakan tanda keimananDi dalam hadits disebutkan:

Dari Mush’ab bin Sa’ad, dari bapaknya, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian yang setelahnya dan setelahnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar keimanannya. Siapa yang imannya tinggi, maka ujiannya pun berat, dan siapa yang imannya rendah maka ujiannya disesuaikan dengan kadar imannya. Ujian ini akan tetap menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di bumi tanpa membawa dosa.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits lain diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya cobaan, dan Allah apabila mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka. Barang siapa yang ridha, maka ia akan mendapatkan keridhaan-Nya dan barang siapa yang kesal terhadapnya, maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Oleh karena itu, seorang muslim yang tertimpa musibah, jika ia seorang yang shaleh, maka cobaan itu menghapuskan kesalahan-kesalahan yang lalu dan mengangkat derajatnya. Namun jika ia seorang pelaku maksiat, maka cobaan itu akan menghapuskan dosa-dosanya dan sebagai peringatan terhadap bahaya dosa-dosa itu. Allah SWT berfirman:

“Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada Allah).” (QS. Al A’raaf: 168)

Bencana secara umum dipahami sebagai apa saja yang menimpa manusia yang tidak menyenangkan. Namun demikian baik dan buruk menurut pandangan kita itu belum tentu sama dalam pandangan Allah SWT:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216).

Allah yang Maha Kuasa dan Penyayang pasti punya tujuan baik dengan penciptaan alam semesta ini. Namun demikian tujuan baik tersebut bukan berarti akan dicapai melalui dunia yang tanpa kesulitan, kekurangan dan kesedihan. Allah SWT berfirman:

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sebagian rasa takut, rasa lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan berkah yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS Al-Baqarah: 155)

“Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih sempurna amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk:1-2)

Kedua ayat diatas menegaskan bahwa ujian dari Allah SWT itu adalah sesuatu yang pasti dan niscaya adanya. Semuanya untuk mendidik agar kita dapat menjadi hamba yang SABAR DAN UNTUK BERLOMBA-LOMBA MELAKUKAN AMAL YANG TERBAIK.

FIQIH KEBENCANAAN

PP Muhammadiyah membuat rumusan Fiqih Kebencanaan yang menurut saya sangat pas untuk dipedomani kita sebagai umat islam dalam memandang dan menyikapi bencana. Sehingga kita tidak terjebak dalam tiga narasi yang Saya sebutkan di awal.

Fiqih kebencanaan merupakan panduan kita untuk MEMANDANG dan MENYIKAPI bencana sesuai dengan semangat Al-Quran dan Al-Hadits. Cara memandang terbagi kepada dua yaitu teologis dan sosiologis. Sedangkan cara menyikapi terbagi kepada tiga yaitu etis, antisipatif dan teknis.

1. Cara memandang bencana secara teologis:

a. Allah Maha Kasih dan Sayang (rahmah) dan Maha Baik (QS. Al-An’am: 54), maka apapun yang diberikan pada manusia selalu baik dan penuh kasih.

“Dan, rahmat Ku meliputi segala sesuatu ” (QS Al A’raf : 156)

b. Manusia yang memahami dengan baik “hakikat” bencana akan mempersepsi bencana sebagai sebuah kebaikan (QS. 16:30), maka akan menjadi sarana meningkatkan kualitas iman.

Dan kemudian dikatakan kepada orang yang bertakwa, “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Kebaikan.” Bagi orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (balasan) yang baik. Dan sesungguhnya negeri akhirat pasti lebih baik. Dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,

c. Bencana bukan merupakan bentuk amarah dan ketidak-adilan Allah kepada manusia;

d. Sebaliknya bencana merupakan bentuk kebaikan dan kasih sayang (rahmah) Allah kepada manusia, yakni sebagai media untuk introspeksi seluruh perbuatan manusia yang mendatangkan peristiwa yang merugikan manusia itu sendiri.

2. Cara memandang bencana secara sosiologis:

a. Memahami peran manusia terhadap alam sebagai khalifah, menjaga kelestarian relasi dengan alam dan sesama manusia

b. Memiliki visi yang benar tentang perbedaan kondisi geografis alam di berbagai area di dunia (misalnya pengetahuan yang benar bahwa Indonesia adalah negara yang kaya dengan sumber daya alamnya namun di sisi lain terletak pada jalur gempa / ring of fire) serta memiliki perencanaan yang kuat untuk masa depan.

3. Cara menyikapi bencana secara etis:

a. Sabar, yaitu menyikapi bencana dengan hati, lisan dan tindakan nyata.

b. Syukur, yaitu menyikapi bencana dengan positive thinking & action akan kebaikan di balik setiap peristiwa.

4. Cara menyikapi bencana secara preventif/antisipatif:

a. Upaya pencegahan, rencana mitigasi dan kesiap-siagaan terhadap bencana (QS. Yusuf: 47-49),

Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan.

Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.

Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).”

b. Upaya yang bersifat tanggap darurat (fokus untuk memberikan pertolongan pertama pada para korban)

c. Upaya yang bersifat recovery dan rehabilitasi.

5. Cara menyikapi bencana secara teknis:

a. Penyiapan teknis baik terkait mitigasi, tanggap darurat maupun recovery

b. Pemenuhan hak korban

c. Teknis Ibadah pada saat bencana

d. Penanganan penyalah-gunaan bantuan

Jika kita semua memandang dan menyikapi bencana sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah diatas, maka kita tak akan menghukum korban dengan ungkapan seolah para korban memang layak mendapatkan bencana karena kemaksiatan yang dilakukan, atau asal menghubung-hubungkan secara sembrono bencana dengan kejadian sosial/politik yang sesuai atau menguntungkan kelompoknya.

Saudaraku, Apa yang akan kita ajarkan pada anak kita? Apakah kita akan mewariskan pada anak-anak kita keterampilan cocokologi serta sikap negatif pada bencana? Bencana datang dengan wajah yang netralSikap kita lah yang menentukan apakah itu jadi rahmah atau musibah.

Mudah-mudahan Allah SWT selalu mencurahkan rahmat-Nya kepada saudara-saudara kita yang sedang dalam kesulitan dan kesusahan. Dan mudah-mudahan hidayah, taufik, dan ‘inayahNya selalu terlimpah kepada kita semua. Aamiin YRA. [wkid/alabror/foto:cnnindonesia]


ARTIKEL TERKAIT