Pendidikan Agama Islam

Tentang Artikel :

Awalnya, Pendidikan Islam bisa terjadi karena adanya beberapa proses islamiah. Proses ini terbagi menjadi dua yaitu tasawuf dan mahzab fikih, dalam proses tersebut para pedagang dan kaum sifi lah yang memegang peran sangat penting dalam menyebarkan ajaran islam dengan menjangkau daerah-daerah diseluruh nusantara.


PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

WAKOOL.ID - Islam adalah agama yang diciptakan Allah SWT dan kepada umat manusia melalui para nabi dan rasul.

Ajaran Islam seharusnya sudah menjadi kewajiban bagi seluruh umat rasulullah SAW untuk dipelajari. Sumber dari ajaran Islam terdapat dalam Al-Qur'an dan Hadits, dalam kedua sumber itu pendidikan lebih dikenal dengan istilah yang pengertiannya terkait dengan At-Tarbiyah. Pendidikan Islam memiliki misi paling religius, yaitu membentuk karakter kepemimpinan setiap manusia atau bisa dikenal juga dengan sebutan muttaqin . Orang yang muttaqin ini bisa pula disebut dengan sebaik-baiknya manusia. Selain dari misi religi diatas, pendidikan Islam juga memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Pertama, mengenalkan manusia kepada ayat-ayat kauniyah atau ciptaan Allah yang dapat disaksikan di alam semesta.
  • Kedua, pendidikan Islam membantu manusia bertindak dan berkata dengan Ahklak yang mulia dan memiliki budi pekerti luhur.
  • Ketiga, dapat mengajarkan umat tentang kitab-kitab yang diturunkan Allah SWT kepada para nabi, terutama Al-qur'an yang menjadi dasar utama pendidikan ini. 
  • Keempat, mengajarkan hikmah dalam artian mengajarkan tentang keadilan dan keadilan dalam masyarakat.
  • Kelima, mengajarkan ilmu pengetahuan, hal ini kehidupan sebenarnya pendidikan Islam tidak hanya berspesifik pada agama namun didalamnya ada pula pembelajaran dan bekal.

Lalu bagaimana pendidikan agama Islam bisa sampai menyebar di Indonesia?

Awalnya, Pendidikan Islam bisa terjadi karena adanya beberapa proses islamiah. Proses ini terbagi menjadi dua yaitu tasawuf dan mahzab fikih, dalam proses tersebut para pedagang dan kaum sifi lah yang memegang peran sangat penting dalam menyebarkan ajaran Islam dengan menjangkau daerah-daerah diseluruh nusantara. Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, pendidikan Islam diselenggarakan oleh penduduk setempat dengan menggunakan metode yang ada. Sebagai contohnya dengan mendirikan pesantren, sekolah, atau bahkan dengan mengaji dibeberapa masjid, madrasah dan rumah sendiri. Di indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan pendidikan dibagi menjadi 3 golongan, yaitu (1) pendidikan yang berlandaskan ajaran keagamaan, (2) pendidikan yang berlandaskan penjajahan dan (3) pendidikan yang berlandaskan kemerdekaan. Pada abad ke-13 inilah para saudagar Gujarat India datang ke nusantara lalu memulai pendidikan berajaran Islam dengan menjalin kontak dengan para pedagang jawa dan sumatra dikawasan pesisir karena dibeberapa pedalaman masih pekat dengan ajaran agama Hindu dan ajaran yang lainnya. Pendidikan Agama Islam diawali dengan mempelajari huruf abjad Arab (hijaiyyah), mengiikuti guru (ustadz) yang sedang membacakan kitab Al-Qur’an, dan diajarkan beberapa ilmu sesuai dengan kitab-kitab Islam.

Dalam setiap pendidikan tentu terdapat tokoh-tokoh yang berperan penting dalam mengembangkannya, termasuk juga pada Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Tokoh-tokoh besar tersebut sangat andil dalam memperbaharui konsep dan sistem pendidikan Indonesia. Ada lima tokoh besar yang mengembangkan Pendidikan Agama Islam dinusantara dengan berbagai pandangannya. Tokoh tersebut yaitu,

  1. KH. Ahmad Dahlan, beliau belajar pendidikan agama sudah sedari kecil dan masuk pesantren pada tahun 1875. Pengetahuan yang dimiliki KH Ahmad Dahlan sebagian besar adalah otodidak, dalam pemikiran beliau pendidikan Islam hendaknya meliputi pendidikan moral, pendidikan individu, dan pendidikan kemasyarakatan. 
  2. KH. Hasyim Asy’ari yang bernama lengkap Muhammad Hasyim ibn Asy’ari ibn Abd. Al Wahid ibn Adb. Al Halim yang mempunyai gelar pangeran Bona seorang kiai yang pemikiran dan sepak terjangnya berpengaruh dari daerah Aceh sampai Maluku Bahkan sampai pula ke Melayu. dalam pemikiran pendidikan beliau mengutif langsung dari ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, pendapat ulama dan syair yang mengandung hikmah. 
  3. KH. Imam Zarkasyi, beliau lahir di Gontor Jawa Timur pada tahun 1910 dan meninggal pada maret 1985. Tidak banyak tercantum dalam sejarah namun imam Zarkasyi belajar agama dipesantren Joresan. 
  4. Hamka, yang bernama asli Haji Abdul Malik Karim Amrulloh lahir di Sumatra Barat pada tahun 1908 M.beliau mendapat panggilan abuya yang berasal dari bahasa minangkabau berarti orang yang dihormati. Sejak kecil ia menerima dasar-dasar agama dari sang ayah, berbeda dengan tokoh-tokoh yang lain, pendidikan dalam pandangan hamka terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan jasmani dan rohani sebagai fitrah manusia yang didasari keagamaan.
  5. Tokoh yang terakhir yaitu, Mahmud Yunus, dilahirkan di Batu Sungkar pada 10 februari 1899 dan wafat pada tanggal 16 januari 1982. Menurutnya pendidikan bertujuan menyiapkan anak-anak didik agar ketika dewasa mereka mampu dan sanggup melakukan pekerjaan dan amalan akhirat, serta tercipta kebahagiaan dunia dan akhirat.

Jauh sebelum para tokoh di Indonesia lahir lalu mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia, ada pula beberapa tokoh yang mengembangkannya diluar Nusantara. Para tokoh ini pun cukup terkenal diantaranya yaitu ada Imam Ghazali atau dengan nama aslinya adalah Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghazali. Beliau lahir di Persia pada tahun 1058 M, tujuan pendidikan menurut beliau adalah mengarah pada realisasi tujuan keagamaan dan ahklak dengan ditekankan pada perolehan keutamaan kepada Allah. Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa sesungguhnya tujuan dari pendidikan ialah mendekatkan diri kepada Allah Azza wa jalla. Lalu ada Ibn Sina yang bernama lengkap Abu ‘Ali Al-Husayn Ibn Abdullah yang populer dengan sebutan Avicenna di daerah barat, beliau lahir di Afshana pada tahun 980 M.ilmu yang beliau ajari adalah membaca Al-Qur’an, dan ilmu agama seperti tafsir, fiqh, ushuluddin dan sebagainya. Pemikiran beliau terhadap pendidikan Islam terbagi menjadi 2 yaitu ilmu yang kekal dan ilmu yang tidak kekal, sedangkan tujuan pendidikannya diarahkan kepada pengembangan potensi yang dimiliki seseorang menuju perkembangan sempurna, mengarahkan masyarakat untuk bekerjasama dan pendidikan yag bersifat keterampilan. Ibn Khaldun, kelahiran  Tunisia dan berasal dari keturunan kerajaan Bani Hafzh. Ibn Khadun mengatakan bahwa barang siapa tidak terdidik oleh zaman, maksudnya barang siapa yang tidak memperoleh tatakrama yang dibutuhkan sehubungan pergaulan bersama melalui orang tua mereka yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal dari mereka maka ia akan mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengajarinya. Terakhir ada Ikhwan As-Shafa, beliau terkenal dengan risalahnya yang memuat doktrin – doktrin spiritual dan sistem filsafat mereka. Ikhwan Al-Shafa muncul karena dilatarbelakangi oleh keprihatinan kepada pelaksanaan ajaran Islam yang telah tercemar oleh ajaran diluar Islam, beliau berpendapat bahwa semua ilmu itu harus diusahakan, ilmu demikian didapat oleh panca indera. Dalam memperoleh setiap ilmu, Ikhwan as safa mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu umum karena kebutuhan ilmu pada jiwa manusia tidak memiliki keterbatasan.

Dalam hal ini sangat penting bagi masyarakat untuk tetap memegang teguh pendidikan termasuk pendidikan agama Islam agar tetap terjaga dalam kesesatan. Selain itu tidak hanya tokoh-tokoh besar, para ulama, guru, para ustadz, generasi-generasi muda zaman sekarang pun bisa ikut andil dalam menyebarkan ajaran Islam. Maka diperlukannya kesadaran untuk memperdalam ilmu dalam Islam. [wkid/]

 

 

Daftar Pustaka

Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam Di Indonesia. (2005). jakarta: Rajagrafindo Persada.

Sejarah Pendidikan Islam. (2021). batu: Literasi Nusantara.

maksum. (1999). sejarah dan perkembangannya. madrasah: logos wacana ilmu.

 


ARTIKEL TERKAIT