Emphatic Listening 

Ojo rumongso biso, sing biso rumongso. 

Jangan merasa bisa, selalulah bisa merasa. 

WAKOOL.ID -- Pepatah jawa terkenal diatas menasihatkan agar kita selalu bisa tahu diri, pahami situasi dan kondisi dulu, jangan sok paling tahu, jangan terburu-buru menilai, dan seterusnya. 

Pernah nggak kita pergi ke dokter, kita baru bicara sepatah dua patah si dokter sudah langsung menulis resep? Apakah kita akan percaya dengan resep yang dia tulis? Apalagi kalau kemudian si dokter tersebut kemudian mencoret beberapa yang sebelumnya dia tulis sendiri. Saya pernah bertemu dengan dokter seperti ini. Senior sih senior, tapi saya tidak percaya diagnosa dia. 

Gimana rasanya kalau kita mau minta pendapat dari teman, istri atau suami. Lalu kita baru bicara sepatah dua patah, tapi sang teman, istri/suami sudah kasih pendapat kesimpulan. Apalagi kalau dia menyampaikannya sambil scrolling gadget di genggamannya atau sedang perhatikan hal lain. Padahal menurut ahli komunikasi, sikap, gestur dan suara yang dikeluarkan seseorang itu jauh lebih menentukan keberhasilan komunikasi dibandingkan dengan kata-kata yang disampaikannya. 

Steven Covey, memasukkan "seek first to understand, then to be understood" sebagai salah satu dari 7 kebiasaan orang-orang yang sangat efektif. Pahami dulu, baru kemudian minta dipahami. Orang-orang yang sangat efektif itu akan berusaha sepenuh hatinya untuk memahami orang lain, berusaha untuk berada pada kerangka berpikir dan kondisi mitra bicaranya terlebih dahulu, secara intelektual maupun emosional, baru kemudian memberikan pendapatnya. 

Orang-orang seperti inilah yang akan banyak didengar pendapatnya. Yang membuat orang siap dengan senang hati menerima berbagai instruksi, pendapat, dan rekomendasi-rekomendasinya. Orang akan menjadi pendengar yang baik, kalau ia juga merasa didengar dengan baik. 

Jelas bukan hal mudah, tapi sangat layak untuk diupayakan. Mendengar dengan empati. Emphatic listening

Bukankah kita diberi dua mata, dua telinga, dan satu mulut oleh Tuhan agar kita lebih banyak melihat dan mendengar ketimbang berbicara? 

Tuhan Yang Maha Bijaksana juga memberi kabar gembira melalui Rasul terkasih Nya SAW kepada hamba-hamba Nya yang mau mendengar berbagai pendapat dan perkataan, lalu setelah itu mengikuti yang paling baik diantaranya. 

....Berilah kabar gembira pada hamba-hamba Ku. (yaitu) mereka yang mau mendengarkan perkataan-perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat. (QS. Az Zumar: 17-18)

Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan kabar gembira diatas. Walaupun sayangnya kebanyakan orang mendengar pendapat orang lain dengan tujuan untuk segera menjawab, bukan untuk berusaha memahaminya. [wkid/picture:toolshero]


Tentang Artikel :

Ojo rumongso biso, sing biso rumongso. Jangan merasa bisa, selalulah bisa merasa. Kemampuan mendengar dan memahami seringkali tertutupi dengan nafsu ingin bicara, didengar dan dipahami.  Padahal kemampuan untuk mendengar dengan empati sangat penting untuk meraih kesuksesan.


Download Apps