Rasional atau Emosional?

Tentang Artikel :

Ketika seseorang mengambil suatu keputusan soal moral dan politik, faktor apakah yang lebih berperan? Emosional atau Rasional? Mungkin sebagian (besar) dari kita merasa bahwa keputusan yang kita ambil itu rasional. Tapi apa iya?

WAKOOL.ID-- Ketika seseorang mengambil suatu keputusan soal moral dan politik, faktor apakah yang lebih berperan? Emosional atau Rasional? Mungkin sebagian (besar) dari kita merasa bahwa keputusan yang kita ambil itu rasional. Tapi apa iya?

John Haidth dalam bukunya "The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion" punya pendapat berbeda. Berbeda dengan pandangan pada umumnya, bahwa emosilah yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan atau judgment seseorang terkait moral dan politik, bukan rasio. Pandangan yang berlaku di barat selama berabad-abad juga meyakini supremasi rasio dan logik diatas emosi. Dan ini pun masih banyak berlaku sampai sekarang. Tapi berbagai penelitian mutakhir justru menunjukkan sebaliknya. Faktor emosi tidak dapat dijadikan faktor sekunder lagi dibandingkan logika. Berbagai riset dan pembuktian dijelaskan secara mendalam dalam buku tersebut. 

Buku yang juga dijadikan referensi mata kuliah Ethics di TU Delft Belanda ini menjelaskan bahwa sebenarnya manusia ini adalah makhluk yang cenderung lebih intuitif, ketimbang rasional. Sehingga ketika dituntut untuk mengambil keputusan, maka intuisilah yang pertama akan bekerja. Baru kemudian faktor rasio datang berikutnya untuk mem-backup keputusan intituitif nya itu. Sehingga rasionalitas yang datang setelah intuisi itu bukan berperan seperti hakim yang obyektif. Tapi ia bekerja seperti pengacara, yang memberikan justifikasi dan pembelaan-pembelaan terhadap keputusan intuisi tersebut. Baik justifikasi untuk orang lain maupun untuk diri sendiri, untuk menjaga reputasi kita dan kepentingan-kepentingan pribadi tertentu.

Itu kurang lebih tesis yang diungkapkan oleh John Haidth dalam bukunya tersebut. Menurut saya ada setidaknya dua pelajaran penting yang bisa kita ambil dari apa yang diungkap oleh buku di atas adalah:

Pertama, bahwa untuk mempengaruhi orang lain, maka argumentasi rasional saja tidak cukup. Justru pertama sekali yang mesti disentuh adalah sentimen emosionalnya terlebih dahulu. Jangan belum-belum sudah mengatakan "Kamu tu ngawur!", "Kamu mana ngerti?!, dan sejenisnya. Maka kemungkinan besar dia akan tutup telinga dan lawyer rasionalitasnya akan segera bangkit bekerja untuk membela pendiriannya. Seharusnya kalau mau mempengaruhi seseorang pertama kali yang harus dilakukan adalah "senyum" dan menjadi pendengar yang baik.

Walaupun memang sulit untuk bisa seperti itu karena perbedaan yang mungkin sangat diametral. Tapi menunjukkan kehangatan, rasa hormat dan keterbukaan untuk berdialog adalah sangat penting sebelum menjelaskan rasionalitas pendapat kita. Kalau tidak jangan harap orang akan mendengar argumentasi kita, sebaik apapun itu.

Kontras dengan penelitian tersebut, fenomena yang terlihat di sekeliling kita, khususnya pada tahun-tahun politik, justru menunjukkan sebaliknya. Para pihak yang berkompetisi justru saling menyerang dengan menohok, merendahkan, dan melukai pihak yang berseberangan dengannya. Sebutan-sebutan sarkastis memenuhi ruang sosial kita sehari-hari. Aneh sekali. Apakah sebenarnya yang diinginkan? Mau mempengaruhi orang yang di seberang dengan cara-cara "rasional" belaka tanpa mempedulikan faktor emosional lawannya? Kalau cara begitu yang dilakukan, maka yang ada justru pihak yang berseberangan itu akan justru berusaha sekuat tenaga menggunakan "pengacara" rasionalitasnya untuk mempertahankan pendapat, reputasi dan mungkin kepentingan-kepentingan pribadinya. Jadi kalau obyektifnya adalah untuk mempengaruhi keputusan orang, maka cara-cara tersebut hampir pasti akan gagal. Kecuali kalau sekedar mau puas-puasan nafsu saja. Entah siapa yang untung, siapa yang rugi tak peduli. Yang penting nafsu terlampiaskan.

Kedua, menurut saya sebenarnya kedua faktor diatas (emosional dan rasionalitas) dapat bertemu pada sebuah titik temu. Caranya adalah melalui spiritualitas. Dengan berusaha membersihkan hati kita dari berbagai hal yang mengotori, seperti kebencian, iri, hasad, dan kotoran-kotoran lainnya, maka semua fakultas yang dianugerahkan Allah pada diri kita dapat bekerja dengan semestinya untuk mengambil keputusan yang terbaik.

Kata Allah, Qad Aflaha man zakkaaha, wa qad khaaba man dassaaha. Sungguh telah beruntung/sukses orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya (QS. Asy-Syams). 

Di ayat yang lain Allah SWT memberi kabar gembira pada hamba-hamba Nya yang mau mendengarkan berbagai pendapat-pendapat dan mengikuti yang terbaik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah dan mereka itulah orang-orang yang tercerahkan. (rujuk QS. Az-Zumar: 18).

Seringkali karena kotoran-kotoran hati tersebut, maka informasi yang mau diterima hanyalah informasi yang mendukung pendapatnya saja. Sementara informasi-informasi yang bertentangan atau tidak mendukung pendapatnya tidak akan menarik perhatiannya untuk dilirik apalagi dibaca. Berbagai stempel langsung disematkan. Lalu berusaha sekuat tenaga mencari informasi lain sebagai tandingan. Walau tidak nyambung tidak apa-apa, yang penting bisa menjatuhkan kelompok di seberang sana. Demikian terus, sedemikian sehingga lama kelamaan pendirian akan semakin teguh. Jarak akan semakin jauh. Akan semakin sulit untuk memahami teman-temannya yang berbeda pendapat dengan dirinya. Kok bisa ya si dia berpendapat begitu? Kok bisa ya? Dasar kamu ini memang ....... !! Nah kan?! [wkid]


ARTIKEL TERKAIT

Kalbu dan Gender