Berkompromi dengan Kejahatan

Tentang Artikel :

Kejahatan itu canggih. Seringkali orang menggunakannya untuk memenuhi ambisinya. Tak jarang pula orang merasa dapat mengalahkannya dengan masuk ke dalamnya. Apa yang akan terjadi ketika seseorang bergaul dan berkompromi dengan kejahatan?


WAKOOL.ID-- Reinhold Hensch. Dia adalah seorang biasa-biasa, dengan kemampuan biasa-biasa tapi punya nafsu besar untuk menjadi orang hebat. Dia mau melakukan apapun asalkan tujuan jadi orang besar itu bisa tercapai. Nafsunya itu mendapatkan jalan ketika dia jadi anggota NAZI. Dia pun kemudian dikenal sebagai salah satu pembunuh paling brutal yang dimiliki oleh NAZI. Dia dijuluki "Monster" (Das Ungebeuer) bahkan oleh anak buahnya sendiri. Dia akhirnya jadi salah satu buron perang yang paling dicari. Dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri ketika akan ditangkap oleh pasukan Amerika di sebuah gudang bawah tanah di Frankfurt.

Paul Schaeffer. Seorang wartawan senior yang sudah berkecimpung di media-media besar dunia. Dia memutuskan untuk menerima tawaran menjadi pemimpin redaksi majalah yang dimiliki NAZI, Berliner Tageblatt. Dia tahu bahwa media itu adalah corong propaganda NAZI. Ia bahkan mungkin lebih tahu dari orang-orang lain tentang apa yang dikejar NAZI selama ini. Tapi ia berfikir ia bisa membuat perbedaan. Ia berkata, “Justru karena kekejian yang terjadi inilah saya harus menerima pekerjaan itu,” ia menjelaskan. Dia tidak menggubris peringatan orang-orang di sekelilingnya yang khawatir bahwa ia akan dimanfaatkan oleh NAZI untuk memberikan tedeng kehormatan dan menipu dunia luar. Dan benarlah, akhirnya NAZI memanfaatkan Schaeffer persis seperti yang dikhawatirkan teman-temannya. Jabatan, uang dan kehormatan pun dicurahkan kepadanya. Setiap ada berita tentang kekejian NAZI yang bocor, Schaeffer dikirim ke kedutaan-kedutaan dan koresponden-koresponden asing untuk meyakinkan mereka bahwa semua itu tidak benar.

Pelajaran

Dua figur diatas adalah salah satu contoh dari banyak sekali kasus lainnya yang serupa dalam sejarah. Kasus tersebut saya ambil dari buku memoar Peter Drucker yang berjudul "Adventures of a Bystander". Kedua orang dalam contoh kasus diatas sama-sama mencoba bergaul dan berkompromi dengan kejahatan. 

Dari kasus pertama, Reinhold Hensch mencoba menggunakan kejahatan untuk memenuhi ambisinya. Dia yang sebelumnya adalah "nobody" dan sering diremehkan orang kemudian ingin menjadi orang yang disegani dan dihormati, apapun caranya akan dilakukan. Kesalahan bukan pada ambisinya, tapi kompromi pada segala caranya itu yang sangat berbahaya. Orang seperti ini akan dapat berubah menjadi "Monster" yang mengerikan dan tak terbayangkan kelakuannya. Bahkan oleh si pelaku sendiri. Kita mungkin pernah menemui orang-orang yang seperti ini. Sebenarnya "modal"-nya pas-pasan tapi ambisinya luar biasa untuk menjadi orang Top. Orang yang begini bisa berubah menjadi berdarah dingin dan sadis. Walaupun terhadap atau saudara sendiri, tak segan akan ia sikat tanpa ampun.

Atau terkadang juga awalnya orang ini berasumsi mau melakukan satu kejahatan untuk mendapatkan ambisinya itu, sambil berangan-angan setelahnya dia mau taubat dan berhenti bergaul dengan kejahatan. Survey membuktikan, biasanya angan-angannya itu akan tetap menjadi angan-angan. Kejahatan akan diikuti dengan kejahatan berikutnya untuk menutupinya dan terus berlanjut sampai kehinaan menghampirinya.

Dari kasus kedua, ada orang-orang seperti Schaeffer yang mungkin ada niat baik di awalnya, Dia tahu betul bahayanya berhubungan dengan kejahatan. Tapi ada kesombongan padanya, dia berfikir bisa merubah kejahatan dengan masuk ke dalam kejahatan tersebut dan merubahnya dari dalam. Peringatan dari teman-temannya tidak dia gubris bahwa dia justru akan dimanfaatkan oleh kejahatan untuk memberikan legitimasi-legitimasi. Kita juga sering menemukan orang-orang seperti ini. Dia merasa kuat bahwa ia bisa merubah/mempengaruhi kejahatan dengan masuk ke dalam kejahatan tersebut. Dengan melakukan pembelaan-pembelaan. Dan seterusnya dia akan dimanfaatkan oleh kejahatan yang terorganisasi itu menjadi komoditasnya. 

Dalam “memoar”-nya (Adventures of a Bystander), Drucker mengatakan bahwa kejahatan itu sesuatu yang hebat dan canggih sehingga manusia sering diperalat olehnya. Karenanya manusia tidak boleh mempertahankan ataupun menggunakan kejahatan dengan cara apapun, karena cara itu pastilah jalan kejahatan. Manusia akan menjadi instrumen kejahatan ketika, seperti Hensch, ia berfikir bisa mengendalikan kejahatan untuk memenuhi ambisinya. Dan manusia juga akan menjadi instrumen kejahatan pula ketika, seperti Schaeffer, ia bergabung dengan kejahatan dengan alasan untuk mencegah terjadinya hal yang lebih buruk.

Drucker mengakhiri bagian itu dengan bertanya:

“Siapa yang lebih kejam, monster atau anak domba? Mana yang lebih buruk, dosa Hensch karena nafsunya untuk berkuasa atau kesombongan Schaeffer dan dosanya karena pongah? Mungkin dosa terbesar bukanlah kedua dosa kuno itu, dosa terbesar adalah dosa abad ke-21, yaitu dosa karena bersikap masa bodoh, dosa seorang ahli biokimia terkenal yang tak membunuh dan tak berbohong, tapi menolak memberi kesaksian ketika, mengutip kata-kata di Injil, ‘Mereka Menyalibkan Tuhanku!’.”

Alllah SWT berfirman dalam al-Qur'an:

"Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu" (QS.Al-Maidah: 63).

Orang-orang yang berilmu (Ulama/cendikiawan/tokoh panutan) yang tidak melarang orang berkata bohong dan melakukan yang dilarang saja sudah dikecam keras. Lalu bagaimana dengan yang bukan saja tidak melarang, tapi justru menjadi pelaku kebohongan untuk ambisi-ambisi tertentu. Atau menjadi pembela kebohongan karena kesombongannya merasa dapat merubah kejahatan dengan pembelaan dan dukungannya. Naudzu biLlah. [wkid/picture:iai.tv]


ARTIKEL TERKAIT