Tafsir Surat Yasin (Bagian 1)

Tentang Artikel :

Surat Yasin adalah surat yang sangat populer di kalangan muslimin. Banyak keutamaan yang menurut riwayat dimiliki oleh surat ini. Surat ini juga disebut dengan jantungnya Al-Qur'an. Tulisan ini membahas kajian tafsir dari Surat Yasin ini untuk ayat 1-12.


WAKOOL.ID-- Surat dengan 83 ayat ini turun di Mekkah. Tema yang paling banyak dipaparkannya adalah tema-tema seputar aqidah. Surat yang sangat akrab dibaca di kalangan muslimin ini menurut sebuah hadits Rasulullah SAW dikatakan sebagai jantungnya al-Qur'an. 

Surat ini banyak berbicara tentang hal-hal mendasar dan pokok dari agama seperti Kenabian, Tauhid, dan hari pembalasan. Ia berbicara tentang pengukuhan nabi dan dakwah para nabi. Dia berbicara tentang keagungan Allah di alam semesta ini, hari kebangkitan, tanya jawab di pengadilan hari akhir nanti, kenikmatan-kenikmatan surga dan kesengsaraan yang akan dialami oleh para penghuni neraka. 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Kalimat bismillahi arRahmani arRahim merupakan pembuka Al-Qur'an. Bahkan juga tercantum dalam kitab-kitab samawi lainnya. Rasulullah SAW selalu memulai setiap aktifitasnya dengan mengucapkan kalimat mulia ini. Demikian juga para Nabi lainnya pun mengucapkan basmallah ketika memulai aktifitas-aktifitasnya. Seperti misalnya Nabi Nuh as ketika akan berlayar ditengah ombak yang begitu besar, beliau memanggil para pengikutnya dengan menyeru "BismiLlahi majreha wa mursaha....", Naiklah kamu sekalian, dengan menyebut nama Allah, di waktu berlayar dan berlabuhnya (QS. Hud: 41). 

Demikian juga Nabi Sulaiman as ketika menulis surat untuk mengajak Ratu Saba beriman, beliau memulai suratnya dengan Bismillahi arRahman arRahim (innahu min sulaimaan, wa innahu bismillahi arRahman arRahim). 

Ala kulli hal, mengucapkan bismillah sebelum memulai aktifitas berarti mengikut sertakan Allah SWT dalam aktifitas kita tersebut. Dan kalau Allah ikut serta dalam setiap aktifitas kita, maka pastilah keberkahan akan selalu meliputinya. Bismillah adalah bagian dari pola hidup setiap muslim.  

1. يٰسۤ

2. وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ

3. اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ

4.  عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ

MAKNA YASIN

Ya Sin. Adalah salah satu ayat yang berisi huruf muqatha'at dalam al-Qur'an. Dia tidak dibaca seperti umumnya pembacaan ayat atau kata-kata dalam bahasa Arab. Ia dibaca dengan mengeja huruf per huruf hija'iya penyusunnya. Seperti halnya Alif laam mim, Alif lam raa, Qaf, Nun, dst. Berbagai ahli tafsir menyampaikan pendapat yang berbeda-beda untuk menafsirkan apa makna dari kata Yasin pada ayat ini. Beberapa pendapat yang cukup populer antara lain:

  1. Pada umumnya ayat-ayat yang berisi huruf muqatha'at diikuti dengan pembicaraan tentang al-Qur'an. Seperti dalam surat al-Baqarah, misalnya, setelah Alif laam miim, dilanjutkan dengan dzalika alkitabu laa raiba fiih (kitab al-qur'an itu tidak ada keraguan padanya...). Dan berbagai ayat-ayat yang lain. Sehingga dengan berdasarkan ini, sebagian mufassir berpendapat bahwa huruf-huruf ini merupakan tantangan untuk membuat semacam ayat al-Qur'an yang tersusun dari huruf-huruf semacam itu. Al-Qur'an ini tersusun dari huruf-huruf hijaiyah semacam itu, coba kalau engkau mampu buatlah semisal surat-surat dalam al-Qur'an dengan huruf-huruf tersebut. Namun untuk surat Yasin, ini pendapat yang melemahkan adalah karena setelah Yasin walaupun menyebut juga al-Qur'an, tapi bentuknya adalah sumpah. "Demi Al-Qur'an yang penuh dengan kebijaksanaan". Bukan membicarakan al-Qur'an seperti pada ayat-ayat muqatha'at lainnya. 
  2. Yasin, adalah panggilan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Pendapat ini dikenal luas di kalangan ulama sejak dahulu. Seperti halnya juga "Toha" yang juga dikenal sebagai salah satu panggilan untuk Rasulullah SAW. Sehingga dalam banyak syair, doa dan sholawat yang ditulis oleh para ulama sejak dahulu seringkali memuat kata-kata Yasin dan Toha yang ditujukan untuk Rasululullah SAW. Seperti misalnya dalam Sholawat Badar yang dikenal luas itu menyebutkan "Sholatullah salamullah, 'alaa Toha Rasulillah. Sholatullah Salamullah, 'alaa Yasiin Habiibillah". Pendapat ini dikuatkan pula karena setelah menyebut Yasin, kemudian Allah bersumpah demi al-Qur'an dan lalu meneguhkan bahwa sesungguhnya Engkau (wahai muhammad/yasin) adalah sungguh seorang Rasul yang berada di atas jalan yang lurus. Jadi kalimatnya menjadi serasi jika digabungkan. "Wahai Muhammad/Yasin, Demi Al-Qur'an yang penuh kebijaksanaan, Sesungguhnya engkau adalah benar-benar seorang rasul, yang berada di atas jalan yang lurus". Demikian juga pada surat Toha. Ia akan menjadi serasi ketika ditafsirkan dengan cara yang sama dengan diatas.
  3. Masih banyak lagi pendapat ahli tafsir yang lain. Ada yang menganalisis dengan komposisi dan jumlah huruf, dll. Karena banyaknya perbedaan tersebut, maka sebagian ulama memilih untuk tidak mengartikannya, melainkan dengan "Hanya Allah yang Tahu". 

Pesan-Pesan Penting Lain

1. Allah SWT sebenarnya tidak perlu bersumpah. Allah SWT bersumpah antara lain untuk menegaskan pentingnya apa yang akan disampaikan, menepis keraguan orang, dan untuk meyakinkan orang. Umumnya Allah swt bersumpah menggunakan sesuatu yang memiliki keagungan dan keistimewaan. Pada ayat ini Allah swt bersumpah menggunakan al-Qur'an untuk menegaskan keagungan al-Qur'an dan meyakinkan apa yang akan disampaikan berikutnya.

2. Kata hakim bisa berarti memiliki hikmah dan juga kokoh. Hikmah hanya dimiliki oleh sesuatu yang hidup. 

3. Ketika Nabi SAW diserang dengan berbagai tuduhan peyair, penyihir, orang gila, dll, maka Allah bersumpah untuk menegaskan kebenaran apa yang disampaikan oleh Nabi SAW. 

4. Pada ayat 3 dan 4, Allah SWT disamping menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah, juga menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW berada di atas jalan yang lurus. Jadi kalau kita mau mengikuti jalan yang lurus, maka lihatlah dimana Nabi Muhammad SAW berada, ikutilah jalan beliau SAW, maka kita akan berada di jalan yang lurus tersebut. Ayat ini juga merupakan jaminan Allah bahwa Nabi SAW tidak pernah melenceng. Beliau selalu berada di jalan yang lurus. Jalan yang kita minta dibimbing ke arahnya pada setiap rakaat sholat-sholat kita. Ihdina ash-shirath al-mustaqiim.

 تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙ 

5. (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang,

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اُنْذِرَ اٰبَاۤؤُهُمْ فَهُمْ غٰفِلُوْنَ

6. agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai.

1. Al-Qur'an turun dari Dzat Yang Maha perkasa dan Maha Penyayang. Mereka yang berpegang dengan al-Qur'an akan mendapatkan kemuliaan, pengasihan, dan kekuatan. 

2. Diturunkannya kitab-kitab oleh Allah SWT merupakan tanda cinta dan kasih sayang Allah SWT pada manusia.

3. Apabila al-Qur'an ini diingkari maka ia akan berhadapan Allah SWT yang Mahaperkasa dan Maaha hebat. Dan bila menerima al-Qur'an maka ia akan mendapatkan limpahan Rahmat-Nya.

4. Salah satu tujuan diutusnya para Nabi dan Rasul adalah untuk memberi peringatan dan membangun kesadaran manusia (litundzira).

5. Diutusnya para nabi dan rasul adalah salah satu wujud kasih sayang Allah SWT pada manusia agar dapat selamat dan bahagia di dunia maupun akhirat.

 لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلٰٓى اَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

7. Sungguh, pasti berlaku perkataan (hukuman) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.

 اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ

8. Sungguh, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, karena itu mereka tertengadah.

1. Bahwa pesan-pesan yang dikandung oleh Al-Quran itu adalah sesuatu yang pasti benar, namun sayangnya kebanyakan orang tidak mengimaninya.

2. Kata "Adzqan" merupakan jamah dari "dziqn" yang artinya dagu. Sedangkan kata "Maqmuh" berasal dari kata qamh bair yang artinya unta yang tertengadah, yaitu unta yang menengadahkan kepalanya ketika disodori air. Ini merupakan perumpamaan kebenaran yang disodorkan pada manusia, tetapi mereka mala menengadahkan kepalanya karena *sombong*.

3. Belenggu di leher itu juga bisa berarti bentuk hukuman di akhirat kelak bagi orang yang mendustakan ayat-ayat al-Qur'an dan Nabi-Nya. 

4. Belenggu-belenggu itu juga dapat juga berarti keyakinan-keyakinan yang menyesatkan yang membelenggu mereka, mengikat leher-leher mereka. Tugas Nabi adalah mengangkat belenggu-belenggu itu, tapi sayangnya manusia banyak yang tidak mau.

5. Orang-orang yang melawan Nabi dan ajaran-ajaran yang dibawanya, akan mendapatkan kehinaan seperti orang yang lehernya dibelenggu.

وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ

9. Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

 

وَسَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

10. Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga.

1. Kepada orang-orang yang menolak ajaran Allah yang dibawa oleh Nabi, karena sombong, pendirian sesat yang tidak mau ditinggalkan, kelalaian, dll, maka ia pandangannya seperti orang yang tertutup dinding di depan dan belakangnya. Sehingga ia tidak dapat melihat apa yang ada di depannya maupun di belakangnya dengan benar.

2. Dinding di depan mereka itu bisa jadi adalah angan-angan panjang yang terlalu tinggi sehingga melalaikan segalanya. Sedangkan dinding di belakang mereka itu bisa jadi adalah lupa akan dosa-dosanya di masa lalu. Keduanya membuat manusia tidak dapat menemukan jalan yang benar.

3. Allah swt membimbing manusia dengan memerintahkan mereka untuk mempelajari apa yang ada dalam jiwa mereka dan alam semesta ini. Namun orang-orang kafir malah membangun penghalang yang menghalangi upaya mereka untuk memikirkannya.

4. Orang-orang kafir menghadapi jalan yang buntu karena ulah mereka sendiri yang tidak mau menerima petunjuk.

5. Ketika akal dan hati seseorang tertutup oleh penghalang, maka kebenaran tidak akan tampak. Atau hanya keburukan saja yang akan tampak padanya. Naudzubillah.

6. Karena itu bagi mereka sama saja diberi peringatan ataupun tidak, mereka tidak akan beriman. Ini akibat penghalang dinding yang dia bangun sendiri. Dosa-dosa yang dia lakukan, kesombongan untuk menerima petunjuk, angan-angan panjang yang melalaikan, dll yang akan menghalangi dirinya untuk mendapatkan petunjuk dari peringatan yang diberikan padanya.

اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ 

11. Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.

1. Orang mukmin akan merasa takut akan kewibawaan Allah swt. Tapi takutnya orang-orang mukmin ini terhadap Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga ia akan mendekat. Berbeda dengan takut seseorang pada binatang buas, yang akan mendorongnya untuk berlari menjauh. 

2. Dimana ada takut, maka disana ada kasih. Cermati ayat "dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih".

3. Takut pada Allah swt ini utamanya pada tempat-tempat yang sepi, dalam kesendirian. Sementara kita tidak perlu memaerkan ketakutan kita pada Allah swt pada keramaian. 

4. Tugas Nabi dan para pewarisnya (ulama/da'i) hanyalah memberikan peringatan dan kabar gembira. Tidak bisa dan tidak boleh memaksa orang untuk mengikuti pesan/petunjuk yang disampaikannya. 

5. Orang-orang yang mau menerima dan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah swt yang disampaikan oleh Nabi maka dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah dan diberikan pahala kemuliaan yang berlimpah. 

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ

12. Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas. 

Dan setelah menegaskan bahwa tugas Rasul hanyalah menyampaikan, kemudian Allah SWT di ayat ini menegaskan kembali bahwa Allah SWT kelak akan menghidupkan orang-orang yang telah mati untuk mempertanggung jawabkan seluruh apa yang telah dilakukan, bagaimana respon setiap manusia terhadap ajakan para rasul. Bahkan tak hanya amal perbuatan kita saja yang dicatat tapi juga jejak-jejak yang ditinggalkan semasa kita hidup di dunia juga terrekam dalam sebuah kitab yang jelas. [wkid]

--bersambung, Insya Allah--


ARTIKEL TERKAIT