JANGAN MARAH

Tentang Artikel :

Marah adalah salah satu daya yang dimiliki oleh manusia. Daya yang dimiliki ini perlu dikendalikan sedemikian sehingga dapat menjadi kebaikan baik kepada setiap manusia. Bagaimana tuntunan Alllah dan Rasul-Nya mengenai hal ini?


WAKOOL.ID-- Allah SWT berfirman:

 وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ *وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ* وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang MENAHAN AMARAHNYA dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imraan: 133-134). 

Kita diperintahkan oleh Allah untuk berpuasa seperti kaum-kaum sebelumnya dengan tujuan agar kita menjadi orang yang bertaqwa (rujuk Al-Baqarah: 183). 

Sedangkan pada ayat yang dikutip di awal tulisan ini menyebutkan beberapa ciri dari orang yang bertaqwa. Salah satu ciri dari orang yang bertaqwa yang disebutkan pada ayat tersebut adalah kemampuannya untuk menahan amarah. 

Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW.,

“Berilah aku nasehat.” Beliau menjawab: “ Jangan marah.” Beliau mengulanginya beberapa kali, “Jangan marah.” (HR Bukhari).

Dalam hadits yang lain disebutkan “jangan marah, maka bagimu surga”.

Pada hadits tersebut diatas si penanya yang minta nasihat pada Nabi SAW mengulang-ulang pertanyaannya, seolah-olah dia mengira bahwa nasehat yang diberikan Nabi SAW kepadanya itu hanyalah sesuatu yang remeh. Maka dia ingin mendapatkan tambahan agar lebih berguna, sehingga tujuannya untuk masuk surga pun tercapai. Tapi ternyata Rasulullah SAW tetap memberi jawaban yang sama. Ini merupakan penegasan bahwa nasehat tersebut sudah cukup, jika benar-benar dipahami maksudnya dan diamalkan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari orang yang bertanya, bahwa ia berkata: “Setelah itu saya memahami, bahwa kemarahan mencakup seluruh kejahatan.” Artinya, jika tidak marah maka sebenarnya seseorang telah meninggalkan semua kejahatan. Dan barangsiapa yang meninggalkan kejahatan, maka ia akan mendapatkan semua kebaikan.

Diriwayatkan dalam sebuah hadits, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW:

Perbuatan apakah yang paling mulia?” Rasulullah SAW menjawab: “Akhlaq yang terpuji. Yaitu janganlah kamu marah, meskipun kamu mampu melampiaskan kemarahan.”

Kesabaran adalah kekuatan. *Kemarahan yang tak terkendali merupakan tanda kelemahan*. Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang kuat, bukanlah karena jago dalam bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abdullah Ibnu ‘Umar ra. bertanya kepada Nabi SAW: “Apa yang bisa menjauhkanku dari kemurkaan Allah SWT?” Rasulullah saw. menjawab: “Jangan marah.

Rasulullah SAW memberikan resep agar kita tidak dimarahi oleh Allah SWT, maka jangan marah

Kemarahan memberikan dampak negatif kepada dirinya maupun sekelilingnya.

Bagi diri seorang pemarah dampak negatif ini dapat kita amati misalnya ketika orang sedang marah maka warna kulitnya berubah, tekanan darahnya naik, badannya gemetar, gerakannya kacau, suaranya meninggi, mulutnya mengucapkan kata-kata yang kasar, keras, membentak, mencaci dan boleh jadi mengucapkan kata-kata yang diharamkan, dan lain-lain.

Bagi masyarakat sekelilingnya, kemarahan ini juga memberikan dampak negatif seperti menimbulkan permusuhan, dendam, sakit hati, putusnya silaturahim, dan sebagainya.

Betapapun, marah merupakan tabiat dan bawaan manusia. Salah satu daya yang diberikan Allah kepada setiap manusia adalah daya marah ini (quwwat al-ghadzab). Jadi daya marah juga diperlukan namun harus pada tempatnya dan dengan penuh pengendalian. Seorang yang senantiasa berhubungan dengan Allah swt. akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak marah. Yaitu dengan cara menjauhkan semua perkara yang dapat menimbulkan kemarahan dan berusaha meredam jika kemarahan telah meledak.

Para ulama menjelaskan beberapa faktor penyebab kemarahan antara lain adalah sombong, merasa tinggi hati, bangga diri, menganggap rendah orang lain, terlalu banyak bercanda, melakukan perkara-perkara yang tidak manfaat, ambisi untuk harta dan kedudukan yang berlebih. Seorang muslim didorong untuk mendidik dirinya agar menjauhi sifat-sifat tercela seperti diatas, yang pada giirannya dapat menyebabkan kemarahan yang tidak terkendali.

Teladan kita adalah sang manusia sempurna, kekasih Allah SWT, Rasulullah SAW. Sangat banyak contoh yang bisa kita ambil dari beliau SAW yang sosok dan ajaran yang dibawanya tak lain adalah Rahmat Allah swt bagi seluruh sekalian alam.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (QS. Ali Imran: 159)

Pesan laa taghdzab (jangan marah) ini yang singkat dan padat ini perlu diartikan pula secara lebih luas bahwa akhlaq mulia lah yang dapat membawa kita ke surga (kemenangan hakiki). Walaupun mudah diucapkan, tapi jelas tidak mudah untuk dilaksanakan secara konsisten. Hanya orang-orang kuatlah yang mampu melakukannya dengan pertolongan Allah SWT yang Maha Kuat dan Maha Sabar.

Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami untuk berbuat sebaik-baik amalan, sebaik-baik akhlak, tidak ada yang bisa menunjuki untuk berbuat sebaik-baiknya kecuali Engkau. Dan lindungi kami dari jeleknya amalan dan jeleknya akhlak, dan tidak ada yang melindungi dari kejelekannya kecuali Engkau.[wkid/dkm alabror]


ARTIKEL TERKAIT

Tafsir Surat Yasin (Bagian 1)

Standar Ganda

Kalbu dan Gender

Sudah Tahun Baru Lagi

Virus Fisik dan Jiwa!