Menikah, Surga atau Neraka?

Tentang Artikel :

Menikah atau tidak, adalah sebuah pilihan.

"Gak, sekali enggak tetap enggak. Dah hidup itu gak melulu tujuannya untuk menikah, punya anak, sibuk ngurus rumah tangga. Dua puluh empat jam kali tujuh hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, lalu buyar begitu saja karena sudah tak sejalan. Gak. Aku gak mau mengulang sejarah. Orang tuaku berpisah saat semuanya justru terlihat baik-baik saja. Dan itu berujung kehancuran. Sendiri lebih baik. Toh, masing-masing kita dilahirkan di dunia membawa tugas yang tak sama. Jika aku sendiri, artinya ada tugas yang mesti kuemban dan itu lebih leluasa kukerjakan tanpa gandengan."

Begitu ujar seorang teman yang saat ini usianya sudah di atas kepala empat. Ia seorang putri sulung dari empat bersaudara. Ketiga adiknya, lelaki, sudah pada berkeluarga. Ia kerap bercerita, tentang kehidupan rumah tangga adik-adiknya yang sering cekcok urusan mengatur rumah dan anak. Kadang berujung pada sikap saling menyalahkan ketika ada beberapa pekerjaan yang terbengkalai. Baginya, itu sangat bising. Dan ia sangat bersyukur tidak hidup di dalam situasi seperti itu. Ia merasa paling bahagia di antara saudara-saudaranya. Meski awalnya ia sempat down saat dikatakan perawan tua karena tak kunjung menikah.

Kata-kata di atas adalah isi hatinya saat saya bertanya, apakah sungguh tak ingin berumah tangga. Ia bukan tak laku. Banyak yang sudah memintanya menjadi istri. Namun, beliau tetap pada pendirian, tidak ingin menikah. Ia ingin membahagiakan banyak orang tanpa dibatasi dinding bernama pernikahan. Ia menyadari sebagai wanita, tentu ada batasan bila sudah diikat sebuah mahligai perkawinan. Ia tak ingin itu membatasi ruang geraknya sebagai aktivis sosial yang kerap turun hingga ke pelosok-pelosok. Ia tak ingin pergi sementara hati dinanti-nanti kehadirannya di rumah. Ia tak ingin kembali lalu terpaku pada senyum mereka yang menyayanginya dan tak ingin ditinggalkan lagi.

Baginya pernikahan adalah penjara. Masa lalu kedua orang tua, bahkan kehidupan pernikahan adik-adiknya adalah bentuk nyata neraka di pikirannya.

Baiklah, itu adalah pemikirannya yang lahir karena pengalaman. Meski bukan ia yang mengalami sendiri, tetapi apa yang terjadi berdampak pada jalan hidup yang ia ambil. Ia merasa kebebasannya saat ini adalah surga. Sementara pernikahan adalah neraka.

Saya yakin, kebanyakan pasangan pernah merasakan "neraka" dalam kehidupan rumah tangganya. Saya tak luput dari perasaan itu. Beberapa waktu yang lalu, saya merasakan panasnya pintu neraka dunia karena tak bisa mengendalikan diri dari kekecewaan, kekesalan, amarah dan sejenisnya yang membawa aura negatif. Saya menyadari satu hal, saat itu. Andai saja saya membuka pintu lebar-lebar dan melangkah ke dalamnya, mungkin saat ini rumah tangga saya sudah abu yang tertiup angin. Jejaknya tak bersisa. Beruntungnya, keinginan menciptakan surga jauh lebih besar dari egoisnya hati.

Menikah, surga atau neraka, hanya mindset dan bagaimana cara kita menjalaninya.

Sepuluh tahun lalu, saat saya memutuskan menikah, saya tak berpikir, akan menjalaninya seperti apa. Sementara, banyak orang yang mengenal saya sudah memberi pandangan-pandangan mengerikan. Bagaimana hubungan bisa berjalan dengan baik, apalagi ada ibunya anak-anak? Bagaimana kamu bisa menjadi ibu yang baik secara tiba-tiba sedang tak ada pengalaman sebelumnya? Bagaimana bisa kamu hidup kesusahan? Menikah itu untuk hidup jauh lebih nyaman, kenapa kau meninggalkan kenyamananmu demi sesuatu yang tak pasti. Dan masih banyak lagi pertanyaan keraguan atas keputusan saya menikah. Kenapa? Karena pernikahan saya tak normal. Wajar bila banyak asumsi, akan dibawa ke mana rumah tangga saya nantinya. Mungkin lain waktu akan saya kisahkan kembali sepenggal cerita yang mengantarkan saya pada kehidupan luar biasa di titik ini. Akan tetapi, sebagian besar suara di dalam hati berkata untuk menyimpannya. Toh, masa lalu itu sudah tak penting lagi. Bila dulu, saya juga sempat berikrar tidak akan menikah karena terlalu sering disakiti, nyatanya, saya begitu menikmati proses pendewasaan diri melalui sebuah pernikahan yang kerap memberi warna.

Menikah tak melulu soal romantisme bersama pasangan. Juga bukan soal cekcok pabila ada hal yang tak sejalan antara dua kepala. Bukan pula ribut persoalan cara mendidik anak, apalagi soal isi celengan untuk masa depan. Menikah adalah sebuah keputusan sedetik yang akan mengubah kehidupanmu selamanya. Bisa surga atau neraka, bahkan bisa keduanya dalam sekali waktu.

Bagi saya, apa pun itu, akan saya jalani dengan penuh ucapan syukur. Menikah atau tidak menikah, adalah pilihan yang siapa pun bebas untuk memilih. Dan mana kala kita sudah memilih, jalanilah dengan penuh tanggung jawab. Surga atau neraka, bisa kauciptakan, di mana pun kau tempatkan dirimu.

Rina Rinz

6 September 2020.