Belajar dari Kisah Penduduk Sebuah Negeri: Tafsir Surat Yasin (Bagian 2)

Tentang Artikel :

Al-Quran banyak menggunakan metode cerita (story telling) untuk menyampaikan pesan-pesannya. Diantaranya adalah kisah menarik tentang penghuni sebuah negeri yang disampaikan pada surat Yasin ini. Banyak pesan dan hikmah yang terdapat pada kisah ini.


WAKOOL-ID-- A'udzubiLLahi mina asy-Syaithani ar-Rajiim. BismiLLahi ar-Rahmani ar-Rahiim. 

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا اَصْحٰبَ الْقَرْيَةِۘ اِذْ جَاۤءَهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ

13. Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka;

اِذْ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوْهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوْٓا اِنَّآ اِلَيْكُمْ مُّرْسَلُوْنَ

14. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, “Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.”

قَالُوْا مَآ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَاۙ وَمَآ اَنْزَلَ الرَّحْمٰنُ مِنْ شَيْءٍۙ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَكْذِبُوْنَ

15. Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Kamu ini hanyalah manusia seperti kami, dan (Allah) Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu apa pun; kamu hanyalah pendusta belaka.”

Pada ayat-ayat sebelumnya dijelaskan tentang bagaimana penolakan masyarakat musyrikin Quraisy terhadap risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga Allah SWT memberikan penegasan dengan sumpah Nya bahwa Muhammad SAW adalah benar-benar Rasulullah dan selalu berada di jalan yang lurus. Namun demikian masyarakat musyrikin Mekah waktu itu justru menolak dengan kesombongannya, seperti onta yang lehernya diikat dan ditarik kebelakang, sehingga tidak mau meenerima hidangan hidayah yang disuguhkan di depannya. Di depan dan di belakang mereka seolah terbangun dinding yang menghalangi mereka untuk menemukan jalan yang benar. 

Allah kemudian menenangkan Nabi SAW bahwa tugas beliau hanyalah memberi peringatan, serta memberikan kabar gembira bagi manusia-manusia yang beriman. Bukan membuat manusia menjadi beriman. 

Selanjutnya mulai ayat 13 ini, Allah SWT memberikan petunjuk lagi kepada Nabi SAW dengan memberikan contoh sebuah kaum yang bertindak mirip dengan apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraish kepada Nabi Muhammad SAW. 

Kisah ini tentang penduk sebuah daerah yang menurut banyak ahli tafsir bernama Antokia, yang kalau sekarang berada pada sebagian wilayah Suriah (Halb/Aleppo) dan sebagian wilayah Turki. Penduduk daerah ini dikenal bertemperamen keras. Kepada mereka ini diutus dua orang Rasul, namun mereka mendustakannya. Kemudian dikuatkan lagi dengan mengutus Rasul yang ketiga, namun mereka tetap menolak dan berkata bahwa para Rasul itu tak lain hanyalah manusia biasa seperti mereka. Menurut mereka, Tuhan Yang Maha Pengasih tidak mungkin mengirimkan utusan untuk mereka yang membawa risalah yang membebani mereka. Atau kalaupun perlu, mereka congkak dengan menganggap dirinya lebih hebat dari para utusan Allah tersebut. Mereka menganggap bahwa para Rasul itu hanyalah pendusta belaka. 

kisah penduduk antokia

قَالُوْا رَبُّنَا يَعْلَمُ اِنَّآ اِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُوْنَ

16. Mereka berkata, “Tuhan kami mengetahui sesungguhnya kami adalah utusan-utusan(-Nya) kepada kamu.

وَمَا عَلَيْنَآ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

17. Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.

Para rasul tersebut kemudian merespon penolakan dari para pendusta dari penduduk daerah yang menurut sebagian riwayat adalah Antakiya tersebut dengan menyerahkannya pada Tuhan. Dan seandainya kami dusta terhadap-Nya, tentulah Dia akan menghukum kami dengan siksaan yang keras. Para rasul tersebut tidak memaksakan agar para pendusta itu mau mempercayainya. Mereka menyerahkannya pada Allah dan menyatakan bahwa tugasnya hanyalah menyampaikan peringatan dari Allah secara jelas. 

قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ

18. Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.”

Para penduduk daerah itu kehabisan dalil untuk membantah para Rasul. Karena kalau para rasul itu berdusta atas nama Allah, pastilah Allah akan menurunkan azab pada mereka. Sehingga para pendusta itu mengalihkan pembicaraan pada hal lain. Mereka berdalih bahwa sejak kehadiran para Rasul tersebut, mereka jadi bernasib sial. Sehingga kemudian mengancam akan menyiksa dan membunuh para rasul tersebut jika tidak mau menghentikan dakwahnya. 

قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

19. Mereka (utusan-utusan) itu berkata, “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”

Para rasul tersebut kemudian menjawab bahwa kesialan itu karena ulah kalian sendiri, bukan karena orang lain. Sungguh apa yang dilakukan oleh para penduduk itu telah melampaui batas. Karena mereka menuduh orang-orang yang mengajak untuk beriman pada Allah dengan pembawa sial dan mengancamnya dengan siksa yang pedih.

Respon terhadap Rasul yang membawa sial ini juga dialami oleh rasul-rasul sebelumnya. Misalnya apa yang disampaikan oleh Firaun pada Nabi Musa as (al-A'raf: 131). Atau apa yang dialami oleh Nabi Saleh (An-Naml: 47). Juga yang diterima oleh Nabi Muhammad saw (An-Nisa: 78).

وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَۙ

20. Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah utusan-utusan itu.

اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۔

21. Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Penolakan masyarakat pada para Rasul itu mendorong seseorang lelaki yang berasal dari ujung kota untuk menasehati mereka. Dalam riwayat disebutkan bahwa lelaki tersebut bernama Habib an-Najjar. Seorang yang dulunya adalah pendosa dan kemudian bertaubat dan mengikuti ajaran Nabi Isa as. Dia menasehati kaumnya agar mereka mengikuti ajakan para utusan yang mengajak pada petunjuk dengan tanpa pamrih apapun. Terdapat beberapa hal menarik dari ayat ini, antara lain:

  • Disebut disini seorang lelaki dari ujung kota. Mengapa ujung kota, kok bukan tengah kota? Hal ini mungkin mengisyaratkan kebersihan hati orang yang tidak berada di "tengah kota" yang seringkali penuh dengan konflik kepentingan. Orang yang tidak terlibat dalam konflik kepentingan akan dapat berfikir lebih jernih dalam melihat hakikat persoalan. Sedangkan orang yang berada di dalam konflik kepentingan, maka pikirannya akan memiliki bias konfirmasi (confirmation bias) yang akan membuat kesalahan-kesalahan dalam menilai dan mengambil keputusan.

  • Salah satu karakteristik pendakwah yang perlu diikuti adalah ketiadaan pamrih. Para penyeru itu tidak memilki pamrih dan ambisi apa-apa di balik ajakannya. Dia tidak berharap kekuasaan, kekayaan, pengaruh atau kepentingan-kepentingan lain selain ingin mengajak kepada kebaikan dan petunjuk. Orang-orang seperti inilah yang layak untuk diikuti

وَمَا لِيَ لَآ اَعْبُدُ الَّذِيْ فَطَرَنِيْ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

22. Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.

ءَاَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً اِنْ يُّرِدْنِ الرَّحْمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يُنْقِذُوْنِۚ

23. Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Jika (Allah) Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.

اِنِّيْٓ اِذًا لَّفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

24. Sesungguhnya jika aku (berbuat) begitu, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata.

اِنِّيْٓ اٰمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُوْنِۗ

25. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)-ku.”

Kemudian lelaki dari ujung kota itu melanjutkan ajakannya dengan penjelasan logika yang indah. Mengapa harus menyembah Allah? Beliau menjelaskan setidaknya 3 argumentasi berikut:

  1. Karena Allah yang menciptakanku. Disini lelaki itu menggunakan kata aku (mengapa aku, bukan mengapa kamu). Hal ini menunjukkan sopan santun dalam berdakwah untuk tidak menunjuk-nunjuk orang sebagai obyek, tapi mulailah dari diri sendiri. 

  2. Karena kepada Allah pula kita semua akan kembali kelak. Disini lelaki itu menggunakan kata ganti "engkau" (turja'uun). Hal ini jika disandingkan dengan frase sebelumnya menunjukkan kebersamaan antara penyampai (pendakwah) dengan yang disampaikan (obyek dakwah). Allah yang menciptakan aku (dan juga engkau), dan kepada Nya pula engkau (dan juga aku) akan kembali. 

  3. Karena hanya pada Allah Yang Maha Pengasih saja dapat diharapkan pertolongannya dalam setiap permasalahan dan musibah. Tak ada selain Dia yang dapat dijadikan tempat bergantung dan berharap pertolongan dan kasih sayangnya.

Oleh karena itu maka kalau saya menyembah kepada Tuhan selain Allah, ya jelas sekali kesesatannya. Sehingga karenanya saksikan dan dengarkanlah bahwa sungguh aku beriman pada Tuhan Pemelihara kalian. Disini lelaki itu mengatakan beriman pada Tuhan Pemelihara (Rabb) kalian, bukan berkata pada Tuhanku saja. Karena Allah adalah Tuhanku, Tuhan kalian, dan Tuhan pemelihara seluruh alam semesta. 

Disini sekali lagi mengajarkan kepada kita bagaimana metode dakwah itu adalah dengan menyampaikan argumentasi yang jelas, menggunakan adab sopan santun, tidak menghakimi orang lain, mulai dari diri sendiri, serta menunjukkan kebersamaan antara aku (subyek dakwah) dan engkau (obyek dakwah). --bersambung, Insya Allah-- [wkid/dkmalabror]


ARTIKEL TERKAIT