Tuntunan Al-Qur'an dalam Memilih Panutan

Tentang Artikel :

Memilih pemimpin panutan memiliki dampak yang besar baik terhadap pribadi maupun kepada masyarakat secara umum. Oleh karenanya sejak dini Al-Qur'an telah memberikan tuntunan tentang bagaimana memilih orang yang akan kita jadikan panutan. Apa karakteristik dan ciri-cirinya?


WAKOOL.ID-- Kitab Al-Qur’an yang diturunkan di bulan suci Ramadhan ini merupakan petunjuk yang tak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Ia akan menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa sehingga Allah akan menyucikannya untuk menerima berbagai petunjuk yang dikandungnya.

Salah satu petunjuk penting yang disampaikan oleh al-Qur’an adalah petunjuk bagaimana kita memilih orang yang akan kita jadikan panutan. Dalam surat al-Qalam yang menurut banyak riwayat merupakan wahyu yang kedua turun setelah 5 ayat pertama surat Al-Alaq antara lain memberikan tuntunan soal penting ini.

Allah memberikan tuntunan bahwa hal yang harus menjadi karakteristik utama dalam memilih panutan adalah kemuliaan Akhlaq nya. Dan Allah memberikan pernyataan tentang keagungan akhlaq Nabi kita Muhammad SAW dengan berbagai penegasan dan penguatan dalam ayat berikut:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan Sesungguhnya Aku bersumpah bahwa Engkau (Muhammad) berada di atas kesempurnaan akhlaq yang agung.” (QS. al-Qalam: 4)

Sehingga kita dengan sangat yakin dapat menjadikan beliau SAW sebagai panduan tanpa ragu. Karena yang Maha Agung menyatakan keagungan akhlaq beliau SAW dengan sejelas-jelasnya.

Lalu, pada ayat-ayat selanjutnya surat al-Qalam menjelaskan karakteristik orang-orang yang berkebalikan dengan sifat-sifat manusia yang dapat dijadikan panutan. Apa saja sifat-sifat orang yang tidak boleh kita jadikan panutan itu?

Pertama, adalah Orang yang suka berbohong dan bersumpah (hallaafin). Orang yang suka bersumpah itu berarti mempermainkan nama Tuhan untuk memenuhi kepentingannya. Ia juga merupakan salah satu pertanda bahwa dia orang yang tidak terpercaya, sehingga ia mesti bersumpah agar orang percaya dengannya. Ia tak segan mengatas namakan Allah dan dalil-dalil agama untuk mendukung ambisi pribadi dan kelompoknya.

Kedua, Orang yang hina. Diantara karakteristik orang yang hina berulang disebut al-Qur’an adalah orang yang menyombongkan dirinya. Dia yang sebenarnya berasal dari air yang hina tapi merasa mulia dan menghinakan sesama ciptaan Allah SWT. Maka jadilah ia orang yang hina. Seperti Iblis yang sudah beribadah ribuan tahun, mendadak menjadi hina ketika ia merasa lebih baik dari manusia.

Ketiga, Orang yang suka mengumpat (memaki) orang. Dalam ayat lain dikecam dengan wailun li kulli humazatin lumazah (sungguh celakalah tiap-tiap orang mengumpat dan mencela)

Keempat, Orang yang kesana kemari menyebar fitnah dan adu domba memecah belah masyarakat.

Kelima, Orang yang suka menghalangi orang yang akan berbuat baik.

Keenam, Orang yang sering berbuat maksiat. Kemaksiatannya dikenal melekat padanya.

Ketujuh, Orang yang kaku dan kasar tutur kata dan perbuatannya.

Kedelapan, Orang yang dikenal karena kejahatannya. Kata “zaniim” yang digunakan pada ayat 13 surat al-Qalam ini juga dapat diartikan dengan orang yang dinisbatkan bukan pada orang tua sebenarnya (ini terkait dengan asbab annuzul dari ayat ini yang menurut riwayat turun untuk Walid bin Mughirah).

Mengapa orang bisa memiliki sifat-sifat seperti diatas?

Al-Qur’an menjelaskan bahwa mereka bisa memiliki karakteristik seperti diatas diakibatkan kesombongannya. Ia merasa terhormat dengan banyaknya kekayaan dan anak-anak atau pengikut yang dimilikinya. Maka ia tidak mau menerima lagi nasihat dan masukan-masukan yang baik.

Masak saya yang kaya ini mau mengikuti omongan orang itu?! Masak saya yang banyak ilmu dan pengikut ini mau mengikuti nasehat dia? dan ungkapan-ungkapan sejenis yang dapat menutup pintu masukan dan nasehat yang baik.
Maka kepada orang-orang seperti itu, tunggulah Allah akan hinakan dia, kata Allah dalam ayat berikutnya.

Sanasimuhu ‘ala al-khurtum. Sungguh akan kami beri tanda belalainya. Dalam bahasa Arab, penggunaan kata “hidung” biasa digunakan untuk menunjukkan konotasi negatif. Sebagaimana juga dalam bahasa Indonesia, misalnya kata “hidung belang”, “batang hidungnya”, dll yang biasa digunakan dengan konotasi negatif. Disini digunakan kata “belalai” yang menunjukkan kehinaan yang lebih terlihat mencolok.

Maksudnya orang yang sombong dan memiliki salah satu atau lebih karakteristik diatas maka dia akan dipermalukan dan dihinakan yang dapat disaksikan di depan umum. Naudzu biLlahi min dzaalik.

Semoga kita bisa menjauhi sifat-sifat seperti itu. Dan tidak menjadikan orang-orang dengan karakteristik seperti diatas sebagai panutan yang diikuti. Aamiin YRA.[wkid/alabror]


ARTIKEL TERKAIT

School Leader di Masa Krisis

Berburu Kebahagiaan

Standar Ganda

Tafsir Surat Yasin (Bagian 1)

JANGAN MARAH

Dikejar Kobaran Api