Agama itu Akhlaq Mulia

WAKOOL.ID-- Al-Qur'an merupakan kitab yang sebuah kitab yang tiada keraguan sedikitpun didalamnya. Berisi firman-firman Allah Yang Maha Tinggi dan Agung yang merupakan pedoman dan petunjuk untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Dalam surat al-Qalam ayat 4, Allah SWT berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan Sesungguhnya Aku bersumpah bahwa Engkau (Muhammad) berada di atas kesempurnaan akhlaq yang agung. (QS. al-Qalam: 4)

Allah SWT Yang Maha Agung telah menjamin keagungan akhlaq nabi kita Muhammad SAW. Sehingga Allah memerintahkan kita untuk menjadikan beliau sebagai suri tauladan yang baik dalam menjalani kehidupan kita sebagai hamba Allah. Karena Rasulullah SAW adalah hamba Nya yang terbaik dari berbagai segi kebaikan.

Siti Aisyah ra pernah ditanya, bagaimana akhlak suamimu Muhammad saw?

Beliau tak berkata apa-apa kecuali menjawab dengan singkat, “Akhlaknya adalah Al-Qur’an

Bagi kita yang tidak sempat melihat Rasulullah maka lihatlah Al-Qur’an jika ingin mengetahui bagaimana sosok beliau. Bagi kita yang tidak pernah hidup bersama Rasulullah saw, tiada yang bisa menjelaskan kehidupan beliau melebihi Al-Qur’an. Karena seluruh keindahan yang Allah perintahkan dalam Al-Qur’an, itulah akhlak Rasulullah saw.

Akhlak itu bukan hanya sebatas mengucap permisi jika ingin melewati seseorang. Akhlak juga bukan sebatas tidak meninggikan suara dihadapan orang tua. Akhlak memiliki arti yang lebih luas dari itu semua.

Jika kita mencermati, sebenarnya seluruh ajaran agama ini ingin mengantarkan kita menjadi seorang yang berakhlak. Bukankah Rasulullah SAW mengatakan bahwa beliau diutus untuk tak lain untuk menyempurnakan akhlak mulia?

Seluruh pedoman Al-Qur’an ingin mengantarkan kita pada derajat akhlak yang luhur.

Coba perhatikan syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Apa hasil yang diharapkan didapat dari perintah sholat? Allah berfirman:

,إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ–
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Ternyata sholat ingin membawa kita untuk menjadi sosok yang berakhlak. Tidak menyakiti sesama. Terlepas dari perbuatan-perbuatan keji dan hina.

Bagaimana dengan puasa?
Berapa banyak seorang yang berpuasa namun hanya mendapat haus dan dahaga, sabda Rasulullah saw. Puasa bukanlah hanya sekedar menahan lapar dan haus. Puasa ingin menggiring kita kepada akhlak agar kita menahan seluruh tubuh dari dosa dan kesalahan. Agar kita ikut merasakan kepedihan yang diderita saudara kita yang lain. Inilah akhlak sesungguhnya.

Bagaimana dengan Zakat?
Zakat juga ingin mengajari kita untuk berakhlak. Jika zakat sudah dikeluarkan namun jiwa masih kotor berarti kita belum sampai pada tujuan zakat yang sebenarnya. Zakat ingin mengajari kita bagaimana kesusahan saudara kita yang membutuhkan bantuan. Bagaimana hidup bukan hanya mencari kebahagiaan namun ikut menyebar kebahagiaan untuk sesama.

.خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ–
Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

Bagaimana dengan Haji?

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ —
(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok, berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Bukankah ayat ini dengan jelas ingin mengajari kita bahwa sebenarnya Haji adalah perintah yang ingin membawa manusia menuju kepada manusia yang berakhlak. Bagaimana menjaga lisan dan indera kita untuk selalu dalam kebaikan.

Kita lihat bahwa dibalik setiap perintah-perintah agama, ada bimbingan kepada pelakunya untuk memiliki akhlaq yang mulia. Akhlaq yang mulia baik dalam hubungan dengan Sang Pencipta, sesama manusia, maupun dengan lingkungan dan penghuni alam semesta lainnya. Sedemikian pentingnya akhlaq mulia ini, Nabi SAW pernah menyampaikan bahwa:

Dunia tiada artinya kecuali agama, dan tidak ada agama kecuali dengan akhlak yang mulia. ( Jami’ul ‘Ulum wal Hikam : 399)

Ini bukan berarti bahwa agama itu hanya berisi akhlaq saja atau pilar lainnya seperti aqidah dan syariat itu tidak penting. Bukan, bukan seperti itu. Semua pilar penting. Aqidah itu ibarat pondasi, syariat itu ibarat jalan, dan akhlaq adalah buahnya. Seeorang yang memiliki aqidah yang benar, dan menjalankan syariat secara benar, maka seharusnya ia akan memiliki akhlaq yang mulia. Sehingga tingkat keberagamaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana kemuliaan akhlaqnya. Memang, Akhlak itu mudah dipelajari namun tidak mudah untuk dipraktekkan. Ia membutuhkan perjuangan, dan tentunya bantuan dari Allah SWT.

Untuk memberikan motivasi tambahan untuk kita, mari mengingat pesan Nabi kita SAW:

“Sesungguhnya yang paling dekat denganku kelak dan yang paling layak mendapatkan syafaatku adalah mereka yang lisannya paling jujur, paling menyampaikan amanah dan yang paling baik akhlaknya.

Tidak ada sesuatu yang lebih berat di mizan melebihi akhlak yang baik” (Rasulullah saw)

Bukankah apa yang disampaikan Nabi kita diatas sangat layak untuk diperjuangkan? Mari kita terus berusaha untuk memiliki akhlaq mulia. Semoga Allah SWT membantu kita semua. Aamiin YRA. [wkid/dkmalabror]


Tentang Artikel :

Agama itu akhlaq mulia. Bagaimana bisa seperti itu? Bagaimana agama memposisikan akhlaq dalam posisi yang sangat penting.


Download Apps