Dilema Media Sosial dan Skak Mati Kemanusiaan

WAKOOL.ID-- Sebuah mobil sedan melaju kencang menabrak tiang penerangan di bundaran di tengah jalan yang cukup lebar tidak jauh dari dimana saya tinggal. Kecelakaan tersebut antara lain diakibatkan karena pengemudinya yang seorang wanita muda itu terpecah konsentrasinya akibat memeriksa notifikasi di ponselnya. Puji syukur, tidak ada korban jiwa pada kecelakaan tersebut. Hal yang ingin saya angkat disini bukan soal siapa dan mobil apa yang dia kendarai saat itu, tapi bagaimana daya tarik dan bahayanya benda kecil bernama ponsel itu yang selalu setia di dekat kita, sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi. 

mobil nabrak karena media sosial handphone

Gambar: kejadian mobil menabrak tiang karena pengemudinya memeriksa ponsel ketika mengemudi (kejadian di Arcamanik Bandung)

Fenomena keterikatan orang dengan ponsel dan media sosial ini merupakan salah satu topik yang diangkat dalam film dokumenter produksi Netflix berjudul "Social Dilemma". Film ini membuka mata bagaimana media sosial dapat membuat kehancuran yang luar biasa dahsyat. Kengerian-kengerian dibalik dapur media sosial dijelaskan dengan sangat bagus oleh orang-orang yang berada di garis depan lahirnya fitur-fitur unggulan platform tersebut. Termasuk diantaranya dari Google, Facebook, Instagram, Twitter, Pinterest, dan sebagainya. Juga para ahli, psikolog, peneliti yang otoritatif terkait hal ini. 

Tak usahlah disebut lagi bahwa keberadaan Internet dan media sosial itu banyak manfaatnya. Ia memudahkan manusia untuk bisa terhubung, berbagi pengetahuan, berkolaborasi, dan sebagainya. Namun jangan lupa ada bahaya dibaliknya yang luar biasa dahsyatnya. Bahaya dari tak terkendalinya penggunaan media sosial ini bahkan mengancam eksistensi kemanusiaan. Ya, existensial threat for humanity

dilema media sosial

Akar Permasalahan

Business model. Akar dari semua permasalahan-permasalahan ini terletak pada model bisnis dari perusahaan-perusahaan penyedia platform media sosial ini. Bisnisnya mencari perhatian sebanyak-banyaknya orang dan selama mungkin (attention economy). Skema ini yang mendorong semua hal ini terjadi. Pemilik platform melakukan berbagai upaya agar semakin banyak orang yang betah nongkrong di platformnya. Kalau bisa sampai tingkat kecanduan, sehingga bisa selama mungkin mereka eksploitasi. Karena dengan begitu mereka dapat mendulang uang dari para pemasang iklan. Dari situlah mereka mendapatkan kekayaan terbesarnya. 

Pendapatan Facebook, misalnya, berhasil tumbuh sepuluh kali lipat dalam rentang 5 tahun. Dari 7,87 milyar dollar di 2013 menjadi 70,7 milyar dollar di 2018. Pada tahun 2018 tersebut, net income dari raksasa media sosial tersebut sebesar 18,49 milyar dolar. Dan sebagian besar pendapatan Facebook didapatkan dari iklan. Uang besar inilah yang berusaha mereka pertahankan dengan segala cara melalui eksploitasi sisi-sisi yang tak terbayangkan dari manusia yang dijadikan komoditasnya.

Bagaimana mereka melakukannya?

Artificial Intelligence

Mereka menciptakan algoritma tertentu berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Platform tersebut mempelajari dengan cermat perilaku dari setiap penggunanya. Apa yang dia kunjungi, berapa lama, apa yang dilakukan sebelum dan setelahnya, bagaimana komentarnya, yang disukai, dan sebagainya. Semua data itu disimpan. Ya, disimpan dan diolah sedemikian rupa dengan sumber daya komputasi yang nyaris tak berbatas. Untuk apa? Untuk mempelajari Anda, dan kemudian membuat Anda para pengguna media sosial itu mengikuti apa yang dimaui oleh platform untuk terus nongkrong dan meramaikan lapak-lapak mereka itu. 

Algoritma Artificial Intelligence (AI) mereka rancang untuk memberikan rekomendasi dan persuasi agar penggunanya terus lengket dan kecanduan untuk terus berinteraksi dengannya. Selalu kepikiran dan tak bisa jauh dengannya walau cuma sebentar. Terpikir terus dalam setiap aktifitas maupun diamnya. Lebih dari orang yang sedang kasmaran. Sedang baca buku, bermain, olah raga, ibadah, di toilet, bahkan tidur sekalipun ingat dia. Termasuk juga ketika sedang nyetir seperti kecelakaan yang terjadi kemarin di dekat rumah. Amazing kan!

Polarisasi

Dahsyatnya pengaruh apa yang terjadi di media sosial pada pikiran setiap penghuninya juga menciptakan polarisasi pada masyarakat secara riil. Seperti disebut diatas, algoritma AI yang diterapkan pada platform medsos tersebut berusaha membuat agar orang mau berlama-lama di platformnya. Bahkan lebih jauh mau mengajak sebanyak-banyaknya orang lain untuk mau ikut masuk. Nah, disini kita akan melihat kejahatan baru dari algoritma AI demi model bisnis pemiliknya. 

Kejahatan itu adalah disinformasi, penyebaran informasi yang salah. Hal ini karena disinformasi menghasilkan pundi-pundi yang jauh lebih banyak dibanding informasi yang benar. Truth is boring, kebenaran itu membosankan, tidak menarik!! Sementara informasi yang salah, ngawur, ofensif itu jauh lebih cepat untuk menyebar dan menarik khalayak. Mungkin sebagian kita ada yang berfikir hanya sedikit orang "bodoh" yang akan terpengaruh dengan informasi-informasi seperti itu. Tapi, jangan salah, algoritma ini setiap saat terus bertambah pintar. Ia berhasil meyakinkan makin banyak orang terus setiap harinya. Bahkan untuk informasi yang buat orang yang berfikir jernih, akan mutlak menolaknya. Tapi kecanggihan algoritma ini membuat akal sehat bisa bertekuk lutut. 

Dan kejahilan kolektif ini dengan cepat menyebar. Melesat jauh lebih kencang dibanding kecepatan informasi yang benar. Di twitter, misalnya, penyebaran informasi ngawur bisa enam kali lebih cepat dibanding informasi benar. Bagaimana mau mengejar?! Ini ibarat orang mau mengejar mobil yang melaju 120 km/jam dengan menggunakan sepeda berkecepatan 20 km/jam. 

Disinformasi ini sengaja diciptakan untuk menciptakan keuntungan korporasi. Hal ini kemudian menciptakan polarisasi hebat di tengah masyarakat. Polarisasi yang sangat emosional. Algoritma ini terus berusaha merawat dan memperbesar polarisasi ini. Diciptakan terus model-model yang menarik perhatian dan meningkatkan screen time. Demi keuntungan perusahaannya. Kalau hal ini terus dibiarkan terjadi, maka pada skala besar akan menghancurkan pondasi dari kehidupan kemanusiaan. 

Bagaimana dengan Indonesia?

Menurut data Statista, pada Juli 2020 ini menunjukkan Indonesia adalah pengguna facebook terbesar ketiga di dunia. Hanya kalah dari India dan Amerika Serikat. Indonesia menyumbang 140 juta orang pada "negara facebook" yang berpenghuni aktif 2,6 milyar secara global. Sementara itu ada sekira 73 juta penghuni Instagram dan 11,2 juta penghuni twitter asal Indonesia pada juli 2020 kemarin. Hal ini tentu merupakan ladang menggiurkan bagi terjadinya disinformasi dan polarisasi di negeri yang semula terkenal dengan keramahan penduduknya ini. Sehingga kita saksikan --misalnya-- bagaimana polarisasi antar kelompok yang terus meruncing sejak menjelang Pilpres 2014 hingga saat ini tidak kunjung mereda. Berakhirnya pemilu tidak mampu mencairkan polarisasi itu. 

Kecanggihan algoritma media sosial itu belum lagi diperkuat dengan ulah para buzzer yang memperuncing polarisasi. Baik buzzer yang tergerak sukarela karena kesuksesan persuasi media sosial maupun yang sengaja melakukannya demi uang. Hal ini juga berlaku untuk isu-isu lain yang digelorakan di media sosial sehingga menciptakan kelompok-kelompok yang masing-masing fanatik dengan kelompoknya. Isu-isu yang seringkali berbasis teori konspirasi seperti misalnya bumi datar, anti vaksin, atau anti-anti aliran tertentu. 

Jangan bayangkan mereka yang terkena arus ini hanyalah orang-orang yang kurang pendidikan. Banyak diantara penghuni masing-masing kutub ini adalah orang-orang berpendidikan tinggi. Tak terkecuali juga orang-orang yang dikenal masyarakat sebagai tokoh agama. Semuanya ikut dengan bangga dan semangat masuk barisan domba-domba yang ngantre memberikan sumbangan keuntungan pada raksasa media sosial ini. Dan konflik sosial serta ancaman perang saudara ada di depan mata.  

Dapatkah kita Mencegahnya?

Kita semua harus berupaya menghentikan yang sedang terjadi ini. Para penyedia platform akan selalu ingin menambah keuntungannya. Sehingga model bisnis diciptakan untuk menarik atensi orang. Untuk menguatkan atensi tersebut maka diciptakan polarisasi, radikalisasi, kebiadaban, dan seterusnya....kalau terus dibiarkan, maka: Skak mati!

Lalu bisakah kita mengerem laju perusakan yang sedang terjadi ini? 

Jawabannya: Bisa! Tapi upaya harus dilakukan oleh semua pihak secara bersama-sama. 

Pertama, dari pihak penyedia platform harus dituntut untuk bertanggung jawab memperbaiki algoritma AI yang sangat merusak itu. Ini harus ada tekanan luar biasa dari berbagai penjuru, karena uang yang beredar disini juga luar biasa raksasa.

dilema media sosial

Kedua, dari pihak pemerintah/regulator perlu membuat regulasi yang mengatur penyalah gunaan media sosial untuk penyebaran disinformasi. Termasuk pula pengaturan terkait perlindungan data pribadi dalam berinteraksi di media sosial

Ketiga, dari kita para penghuni media sosial harus sadar tentang adanya model bisnis berbasis perhatian mereka ini. Antara lain yang dapat dilakukan misalnya: 

(1) jangan ikuti rekomendasi media sosial, kendalikan sendiri perilaku Anda, lawan maunya platform.

(2) jangan hanya berteman dengan orang-orang yang sependapat saja, lawan polarisasi dengan mau mendengar pendapat-pendapat yang berbeda. Hanya berteman dengan orang yang sependapat saja akan menciptakan ruang gema (echo chambers) yang memperkuat terus pendirian kita, walaupun banyak mengandung disinformasi.

(3) banjiri Internet dan media sosial dengan informasi positif. Kalau tidak bisa membuat sendiri, paling tidak ikut menyebarkan informasi positif yang ada disana. 

(4) batasi diri berinteraksi dengan media sosial, perbanyak bergaul di dunia nyata. Dengan keluarga, sahabat, tetangga, dsb. Nikmati dan kelola dunia yang begitu indah ini diciptakan untuk manusia. 

Mungkin itu beberapa yang dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan dahsyat akibat media sosial ini. Supaya kita nanti dapat mempertanggung jawabkan dengan baik pada Tuhan, apa yang sudah kita perbuat dengan amanat menjaga semesta ini dengan baik. Sekuat kemampuan yang kita dapat lakukan. [wkid]


Tentang Artikel :

Dibalik media sosial yang begitu hiruk pikuk dan digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat, terdapat hal-hal mengerikan yang tidak banyak diketahui orang. Kengerian yang apabila tidak diantisipasi bersama-sama, maka akan sangat membahayakan kemanusiaan kita semua di masa depan.


Download Apps