Jagalah Keseimbangan dengan Adil: Tafsir Ar-Rahman (Bagian 2)

Tentang Artikel :

Allah SWT menciptakan alam semesta ini dengan penuh perhitungan dan keseimbangan. Maka kita dituntut untuk selalu menjaga keseimbangan itu dengan adil (qisth).


WAKOOL.ID-- Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan pendahuluan tafsir dari surat Ar-Rahman. Pada tulisan tersebut telah dijelaskan pula tafsir surat ar-Rahman sampai dengan ayat keempat, yang menjelaskan bukti dan wujud dari rahmat Allah yang Maha Rahman. Wujud rahmat Allah yang berikutnya setelah pengajaran al-Quran, penciptaan manusia dan bagaimana dapat memahaminya ada tersebar di alam semesta ini. Lihatlah bagaimana matahari, bulan, langit diciptakan dan diatur sedemikian rupa dengan penuh perhitungan yang sempurna. Bagaimana posisi, jarak, sifat, pergerakan, kecepatan, materi-materi yang dikandungnya, dan sebagainya. Sehingga apabila meleset sedikit saja dari pengaturan ini akan menyebabkan kehancuran bagi kehidupan.

Demikian juga segala makhluk hidup yang ada di bumi ini, seperti tumbuh-tumbuhan dan pepohonan, semuanya tunduk pada pengaturan Allah SWT Yang Maha Rahman. Dengan adanya tumbuhan dan pepohonan itu yang ditumbuhkan di muka bumi ini maka dapat menghasilkan udara yang menyegarkan, dapat menjadi makanan manusia berikut hewan peliharaannya. Darinya juga dapat menghasilkan energi, seperti disinggung pula dalam Surat Yasin ayat 80:

ِۨالَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الشَّجَرِ الْاَخْضَرِ نَارًاۙ فَاِذَآ اَنْتُمْ مِّنْهُ تُوْقِدُوْنَ

yaitu (Allah) yang menjadikan api (energi) untukmu dari pohon yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”

Semuanya diciptakan Nya secara seimbang dan serasi untuk manusia. Karena itu jangan sekali-kali rusak keseimbangan itu. Keseimbangan sejak dari dalam hati, pikiran, hingga ucapan dan perilaku. Manusia mesti menjaga dan menegakkan selalu keseimbangan itu. Hanya saja menegakkan keseimbangan itu mesti dengan "qisth".

Apa itu "Qisth"? Sering diartikan sebagai adil. Namun sebenarnya "qisth" itu lebih dari adil. Qisth itu adalah adil yang memuaskan semua pihak yang terkait. Jika kita menegakkan keadilan tapi salah satu pihak merasa tidak rela atau merasa dizalimi, maka kita belum menegakkan qisth. Qisth itu adil yang win-win.

Kalau kita melakukan transaksi muammalah dan telah terjadi kesepakatan, maka pastikan bahwa kesepakatan itu menguntungkan semua pihak. Jangan sampai merugikan yang satu, sementara pihak yang lain untung besar.

Kalau satu pihak harus menjatuhkan hukuman pada pihak lainnya yang memang seharusnya dia terima, maka usahakan bahwa pihak terhukum itu telah menyadari kesalahan yang telah dilakukannya. Sehingga ia seharusnya merasa rela menjalani hukuman tersebut, menyadari kesalahannya dan tidak ingin mengulanginya lagi. Bukan merasa telah dizalimi. Karena kalau demikian yang terjadi maka tujuan dari hukum untuk menegakan keseimbangan dengan adil (qisth) itu tidak akan tercapai.

Dengan keseimbangan itu maka manusia akan dapat hidup dengan damai sejahtera bersama dengan makhluk-makhluk ciptaan Nya yang lain. Semua kebutuhan akan dipenuhi  dan keindahan terhampar siap untuk dinikmati.

قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ زَكّٰٮهَا

9. sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),

وَقَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰٮهَا

10. dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams: 9-10)

Sungguh telah sukses orang yang menjaga keseimbangan itu . Dan sungguh telah merugi orang yang mengotori/merusak keseimbangan itu. Baik keseimbangan jiwa (mikro kosmos) maupun keseimbangan alam semesta (makro kosmos). Demikian janji Allah yang Maha Rahman.

Lalu nikmat Tuhan kamu yang manakah yang Kamu dustakan?

Apa jawaban kita atas pertanyaan Allah itu? [wkid/alabror]


ARTIKEL TERKAIT