Kepo bisa Membunuhmu!

Tentang Artikel :

Rasa ingin tahu itu sebenarnya bagus. Tapi ketika keingin tahuan itu berlebihan pada hal-hal yang sebenarnya tidak penting dan manfaat, maka itu justru akan membahayakan terutama buat pelakunya sendiri. Seperti kata pepatah kuno: Curiousity killed the cat.


WAKOOL.ID-- Curiousity killed the cat. Keingin tahuan telah membunuh sang kucing .

Maksud dari pepatah kuno ini tentu bukan rasa ingin tahu yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Tapi yang dimaksud disini adalah rasa keingin tahuan urusan orang lain sehingga membuat kita bertingkah polah seperti detektif investigatif untuk segala sesuatu yang dialami orang lain. Padahal tak ada faedahnya dia mengetahui itu. Tak bisa mengubahnya dan tak pula ada manfaatnya untuk pelaku maupun dirinya sendiri.

Orang lain ganti mobil atau beli rumah, dia sibuk kepengen tahu darimana orang itu dapat duitnya. Ada suami istri ribut, dia sibuk cari data. Mungkin si suami begini, mungkin si istri begitu, dan seterusnya. Istilah anak sekarang, kepo nya nggak ketulungan.

Kepo

Ada yang bilang kepo ini berasal dari singkatan bahasa inggris "Knowing Every Particular Object". Mengetahui segala sesuatu. Tapi kalau diartikan seperti itu, maka mestinya "kepo" itu bagus dong. Tentu beda antara "knowing" dengan "want to know" kan?

Menurut Ivan Lanin (pengamat bahasa), kata "kepo" merupakan adaptasi dari Kaypoh dalam bahasa Hokkian, yang berarti orang yang sibuk dengan urusan orang lain. Fudhul banget kata orang arab. 

Derren Brown dalam bukunya "Happy" mengatakan bahwa menahan gejolak ingin tahu urusan orang lain itu bisa menentramkan hati. Seorang filusuf Romawi terkenal yang bernama Seneca berpendapat bahwa orang yang suka mencari-cari gosip itu sebenarnya sedang mencari sesuatu yang dapat membuatnya marah. Senada dengan itu, Plutarch (filusuf yunani) antara lain mengatakan bahwa para suami yang mencoba mencari tahu apa yang dilakukan oleh para istri ketika tidak sedang bersama mereka itu hanya akan memicu pertengkaran. Sama halnya dengan memata-matai anak di waktu-waktu sendiri mereka. Ketahuilah bahwa tidak mengetahui semua hal itu justru bisa membuat kita bahagia.  

Zaman Dulu dan Kini

Para filusuf jaman dulu itu bisa dengan mudah bicara demikian. Orang-orang dulu lebih mudah untuk tidak kaypoh dengan urusan orang lain. Karena untuk mengetahui segala hal tentang orang lain itu juga tidak mudah. Perlu niat dan energi yang seringkali tidak sedikit. Beda dengan sekarang. Setiap hari kita dibombardir dengan info-info yang mengganggu ketentraman kita oleh berbagai platform media sosial. 

Apalagi berinteraksi secara online itu berbeda sekali dengan interaksi langsung. Secara online orang bisa mengatakan sesuatu yang hampir tidak mungkin dia katakan kalau ia bertemu tatap muka. Orang-orang kontroversial dengan beragam tingkat kegilaan/kewarasan tiba-tiba bermunculan dimana-mana di era media sosial ini. Padahal mereka ini dalam dunia nyata seringkali orang-orang yang biasa-biasa, jauh dari kontroversial.

Hal-hal tersebut memicu banyak sekali konflik-konflik yang tidak perlu. Siapapun dapat menulis pendapatnya tentang apapun. Begitu kita buka facebook, misalnya, langsung terpampang di depan kita pertanyaan: "apa yang Anda pikirkan?" Maka jari-jari pun terdorong untuk menari-nari menuliskan apapun yang ada di benak kita tentang apapun. Seringkali kurang disadari bagaimana kira-kira dampak bagi yang membacanya. Lebih jauh lagi bagaimana jika ia kemudian disebarkan kemana-mana, dan seterusnya.

Poin saya disini adalah kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang pikirkan setiap saat. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang sedang istri/suami/anak kita pikirkan atau lakukan setiap saat. Apalagi orang lain. Apa yang orang lain pilih, apa pendapat orang tentang berbagai peristiwa yang sedang terjadi. Jadi buat apa terus menerus memenuhi kepala kita dengan berbagai hal yang berada diluar jangkauan kendali kita?! Apalagi dengan data-data yang tidak jelas kebenarannya. Apalagi untuk mendapatkannya telah menghabiskan waktu dan sumber daya kita yang sangat berharga.

Hal-hal itu akan memenuhi memori kepala kita yang sangat mahal ini dengan sesuatu yang hanya akan membuat kita marah, khawatir, dan tidak bisa konsentrasi pada hal-hal yang sebenarnya berada dibawah kendali kita. Yaitu pikiran, perasaan dan tindakan-tindakan kita.  Itu kan yang nanti akan diminta pertanggung jawabannya?

Be productive, Be Happy! Kepomu bisa membunuhmu. [wkid]


ARTIKEL TERKAIT

Berburu Kebahagiaan