ISTRI

Tentang Artikel :

Istri adalah salah satu ciptaan Tuhan yang dijadikan berpasangan dengan suaminya. Terdapat banyak mutiara berharga dari Al-Qur'an ketika menjelaskan tentang istri atau pasangan ini. Tulisan ini dengan segala keterbatasannya, berusaha menjelaskan sebagian mutiara dan keindahannya itu.

WAKOOL.ID-- Allah SWT  berfirman:

"Dan di antara tanda-tanda Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. Ar-Ruum: 21)

Ada banyak mutiara berharga yang bisa kita renggut dari ayat yang mungkin sering kita dengar, hampir pada setiap menghadiri acara akad pernikahan. Momen yang oleh Allah disetarakan kesakralannya dengan perjanjian Allah sangat kuat dan serius, yang dalam Al-Qur'an diistilahkan dengan "Perjanjian yang Kuat" (Mitsaaqan Ghalizha).

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُۥ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَٰقًا غَلِيظًا

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. An-Nisa: 21)

Kata yang sama digunakan oleh Allah misalnya ketika Allah mengambil perjanjian dengan Bani Israil sampai-sampai Allah angkat Gunung Thursina di atas kepala Bani Israil untuk menunjukkan sangat seriusnya perjanjian yang diambil (mitsaaqan ghalizha):

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ ٱلطُّورَ بِمِيثَٰقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْبَابَ سُجَّدًا وَقُلْنَا لَهُمْ لَا تَعْدُوا۟ فِى ٱلسَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَٰقًا غَلِيظًا

Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: "Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud", dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. (QS. An-Nisa: 154)

Seolah Allah ingin mengingatkan bahwa perjanjian pernikahan adalah perjanjian yang kuat, kokoh dan sakral. Konsekuensi dari peremehan terhadap perjanjian itu dapat mengakibatkan kehancuran. Bayangkanlah ketika seseorang melakukan perjanjian (akad) nikah itu, seolah gunung Thursina diangkat di atas kita, yang setiap saat bisa Dia jatuhkan untuk membinasakan orang yang mempermainkan perjanjian agung tersebut.

Kembali pada ayat yang disebut pada awal tulisan ini, setidaknya terdapat dua mutiara yang menggugah kesadaran saya belakangan ini dari ayat diatas (Ar-Rum: 21).

Pertama, bahwa istri itu adalah bagian dari tanda-tanda Nya. Ya, tentu seluruh alam semesta ini adalah bagian dari tanda-tanda Nya. Tapi ketika Allah menegaskan secara spesifik dalam ayat ini, maka itu artinya kita perlu mencamkan betul bahwa istri itu (dan juga suami bagi istri) adalah tanda-tanda Nya yang amat penting untuk disadari. Melihat istri itu seharusnya mengantarkan kita pada mengingat dan mengagumi Penciptanya. Seperti dalam surat al-Mulk, Allah membanggakan ciptaan-ciptaannya yang selalu sempurna sesuai dengan fungsinya.

Maa taroo fi khalqirrahmani min tafaawut, tak akan kamu lihat dari ciptaan Sang Maha Pengasih itu yang tidak seimbang.

Farji'il bashara, hal taroo min futuur? Maka lihatlah lagi, adakah kau lihat sesuatu yang cacat?

Tsumma irji'il bashara karrotaini...kemudian ulangi pandangi lagi dan lagi maka pandanganmu akan kembali dalam keadaan letih tanpa menemukan cacatnya.

Dengan cara pandang itu, maka kita akan selalu bisa menghormati, mengagumi, mensyukuri, bersabar, menyayangi pasangan yang selalu menemani kita di saat suka dan duka itu. Juga menjadi ujian bagi kita siapa yang dapat berbuat terbaik, meneladani akhlaq Sang Maha Rahman Rahim.

Kedua, bahwa  ada 3 kata dalam al-Qur'an yang diterjemahkan sebagai istri. Walaupun demikian, namun masing-masing memiliki makna khusus yang khas dan konsisten. Ketiga kata tersebut adalah Imro'ati (إمرأتي ), Shahibati (صاحبتي ), dan Zaujaty (زوجتي).

Kata Imro'ah/Mar'ah (wanita) digunakan Al-Qur'an ketika hubungan antara suami istri bersifat jasmaniah, tapi tanpa ada keselarasan pemikiran dan cinta kasih diantara keduanya. Misalnya ketika menyebut istri Nabi Nuh (إمرأة نوح) dan Luth AS (إمرأة لوط) yang tak sejalan dengan suaminya. Atau istri Fir'aun (إمرأة فرعون) yang sholihah namun tak sepemahaman dengan suaminya.

Kata Shohibati digunakan al-Qur'an ketika karena suatu sebab tertentu hubungan jasmaniah maupun harmoni pemikiran antara keduanya menjadi terputus. Misalnya kata shohibati digunakan ketika menceritakan peristiwa hari Kiamat nanti. Dimana pada hari itu semuanya berjalan sendiri-sendiri. Saudaranya, ibu bapaknya, istri (shohibatihi) maupun anak-anaknya semua lari darinya.

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ

وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ

وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ

لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ

pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (QS. Abasa: 34-37)

Hilanglah segala macam harmoni dan kasih sayang antara suami isteri pada saat yang mencekam itu.

Kemudian yang ketiga adalah kata Zaujati, digunakan al-Qur'an ketika terdapat hubungan jasmaniah, keselarasan pemikiran dengan disertai cinta kasih antara mereka. Terdapat harmoni hubungan jasmani dan ruhani diantara suami dan istri. Kata "zauj" ini yang juga digunakan dalam ayat yang digunakan pada ayat yang saya kutip di awal tulisan ini. 

Namun dalam Alqur'an terdapat kasus unik, yaitu dipilihnya oleh Allah kata Imro'ah dari lisan Nabi Zakaria di surat Maryam:

وَاِنِّيْ خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَّرَاۤءِيْ وَكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا ۙ

Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku (imro'ati) seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu (QS. Maryam: 5)

Apakah terdapat kekurang harmonisan pada pasangan tersebut? Mungkin hal itu disebabkan karena ada "masalah" antar keduanya dalam soal keturunan, sebab sang isteri mandul sampai usia tua, sehingga mengganggu harmoni diantara keduanya dalam pikiran, walaupun terdapat kasih sayang mendalam diantara mereka.  Hal itu menyebabkan Zakaria AS. mengeluh kepada Allah dalam ayat diatas . Namun begitu Allah "memperbaiki cacat isterinya" dan mengaruniai rezeki agung dari Allah berupa anak yang bernama Yahya, maka seketika itu Allah memakai kata Zaujah untuk isteri Nabi Zakaria:

فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya (zaujahu)dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami. (QS. Al-Anbiya: 90)

Pada kesempatan lain, Allah SWT menyebut istri Abu Lahab dalam surah Al-Lahab:

وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ

Dan (begitu pula) istrinya (imro'atuhu), pembawa kayu bakar. (QS. Al-Lahab: 4)

Hal tersebut kiranya menunjukkan bahwa pasti ada yang tak beres dalam harmoni diantara suami isteri paman Nabi SAW yang bernama asli Abdul 'Uzza dan beristrikan Ummu Jamil saudara perempuan Abu Sufyan itu.

Subhanallah, sebuah konsistensi yang luar biasa dalam pemilihan kata-kata oleh Allah dalam Alqur'an.

Semoga Allah SWT memudahkan kita semua untuk membangun dan menjaga keluarga bersama istri/suami (zauj) kita menjadi keluarga yang selalu membawa ketenangan, cinta dan kasih sayang.  Sesungguhnya pada keluarga yang seperti itu benar-benar terdapat tanda-tanda Nya. Tanda-tanda Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Aamiin YRA. [wkid]


ARTIKEL TERKAIT