Tamak Sumber Kehinaan (VIDEO)

Tentang Artikel :

Penjelasan hikmah ke-58 dari kitab Al-Hikam karya Syaikh Ibn Atha'illah As-Sakandari.

Dengarkan



WAKOOL.ID-- Hikmah ke-58 dari Al-Hikam karya Syaikh Ahmad ibn Atha'illah As-Sakandary berbunyi:

"Tidak tumbuh cabang-cabang kehinaan/kerendahan, kecuali di atas benih ketamakan"

Kata tamak (طمع) dari sisi bahasa berarti harapan yang sangat kuat. Sebenarnya kata ini tak selalu berarti negatif seperti penerapannya yang kita kenal dalam Bahasa Indonesia. Misalnya ketika Nabi Ibrahim As sangat berharap pengampunan Allah pada ayat berikut:

وَالَّذِيْٓ اَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لِيْ خَطِيْۤـَٔتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ

dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.”(QS. Asy-Syuara': 82)

Hanya yang menjadi hal penting disini adalah kepada siapakah harapan kuat tersebut ditujukan. Nabi Ibrahim As pada ayat diatas menujukan harapan beliau pada Allah SWT, Yang Maha Pengampun dan Penguasa hari pembalasan.

Inti dari keberagamaan adalah Tauhid. Dimana Tauhid mengajarkan pada kita bahwa sumber dari segala sesuatu itu tak lain hanyalah Allah SWT. Bahkan tak ada wujud, selain wujud Nya SWT. Sehingga orang beragama seharusnya meyakini bahwa segala hal yang dia harapkan dan butuhkan itu semuanya tak lain berasal Allah SWT. Oleh karena itu sungguh tak layak seorang beragama untuk berharap kebutuhan-kebutuhannya dapat dipenuhi dari orang, sesama makhluq ciptaan Allah SWT. Seolah orang tersebut yang dapat memberikan kebutuhan tersebut pada dirinya. Padahal orang itu sama seperti dia, sama-sama meminta kebutuhannya kepada Allah SWT. 

Ketika seseorang meminta kebutuhannya pada sesama makhluk, maka di mata Allah maupun mata manusia dia akan menjadi dianggap lebih rendah. Seperti sabda Nabi SAW bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.

Namun apabila seseorang mengungkapkan kebutuhannya pada Allah, maka pada saat itu kedudukannya akan naik di mata manusia maupun di mata Allah. Karena Dia Yang Maha Karim itu sangat senang dan berharap hamba bermohon kepada Nya. Dia akan kecewa kalau hamba Nya bermohon kepada selain Nya.

Jangan salah paham! Hal ini bukan berarti kita tidak boleh melakukan saling tolong menolong dengan sesama manusia. Namun saling bantu membantu tersebut hendaknya bersifat sejajar, saling bertukar manfaat, transaksional muamalah yang saling menguntungkan. Semuanya dilakukan dengan keyakinan bahwa hanya Allah lah yang akan memberikan kebutuhan pada kita, bukan manusia sesama ciptaan Allah. 

Lebih jauh setiap manusia didorong untuk memiliki kemampuan, keahlian dan kelebihan yang dengannya dapat menjadi bahan untuk saling bertukar pertolongan antara satu dengan yang lainnya. Karena manusia yang satu membutuhkan bantuan manusia yang lain dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. Karena adanya saling membutuhkan dalam kesejajaran tersebut, maka diharapkan akan tercipta kemandirian yang menyebabkan saling menghormati satu dengan lainnya. 

Sebaliknya ketergantungan seseorang terhadap manusia lainnya akan berpotensi menimbulkan kerendahan dan kehinaan di mata pihak lain yang lebih kuat.

Kesimpulannya, ada setidaknya 4 (empat) jalan untuk menghindarkan diri kita dari kehinaan dan kerendahan diri akibat tamak yang kita bahas ini, yaitu:

(1) Tauhid. Yaitu meyakini bahwa hanya Allah sajalah yang dapat memberikan segala sesuatu pada kita. Oleh karenanya hanya berharaplah pada Allah SWT, bukan pada yang lain.

(2) Hanya kepada Allah lah kita meminta pertolongan, jangan meminta-minta pada selain Nya. Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in (hanya kepada Mu lah kami mengabdi, dan hanya kepada Mu lah kami meminta pertolongan).

(3) Pelajari Al-Qur'an. Banyak sekali ayat-ayat dalam al-Qur'an yang mengajarkan pada kita tentang hakikat yang sesungguhnya dari segala sesuatu. DIharapkan dengan petunjuk-petunjuk tersebut, kita dapat terhindar dari sifat tamak, yakni berharap kepada selain Allah SWT.

(4) Selalu tingkatkan kemampuan diri, agar dapat memiliki kemandirian sehingga dapat terhindar dari kehinaan karena bergantung pada sesama makhluk. Kehinaan ini tidak hanya dapat berlaku secara individual saja. Melainkan dapat pula berlaku untuk komunitas yang lebih besar. Seperti negara, misalnya, juga sangat perlu untuk memperkuat kemandirian. Sehingga dengannya negara tersebut dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan negara-negara yang lainnya. 

Sebaliknya ketergantungan sebuah negara pada negara lainnya, akan menyebabkan negara tersebut menjadi dipandang rendah oleh negara lain. Bahkan mereka dapat kehilangan haknya untuk menentukan nasibnya sendiri. 

Semua itu pangkalnya adalah tamak: sangat berharap dan menggantungkan nasib kepada sesama ciptaan Allah SWT. 

Seperti kata Syaikh Ibn Atha'illah, tidak tumbuh ranting-ranting kehinaan/kerendahan melainkan bersumber dari ketamakan. [wkid/picture:eramadani]

Disarikan dari Kajian Al-Hikam di Masjid Al-Abror Bandung, oleh Ustadz Abdullah Hasan (video ceramah di bawah)


ARTIKEL TERKAIT

Luruskan Niat

Syukurmu Untukmu