Racun

Tentang Artikel :

Sadarkah kita sudah memasukkan racun pada tubuh kita setiap hari? Sadarkah kita juga sering memberikan racun kepada komunitas di sekitar kita? Lingkaran setan penyebaran racun yang harus segera diputus.

WAKOOL.ID-- Mengapa kita lebih tertarik pada berita buruk? Karena kabar buruk itu dipandang lebih relevan dibanding kabar baik. Sederhananya, selama ribuan tahun, manusia dituntut untuk selalu waspada terhadap bahaya agar tetap hidup. Karena itu, manusia memiliki sesuatu yang disebut bias negatif (negativity bias). Artinya, informasi negatif memiliki dampak dua kali lipat bagi kita dibandingkan informasi positif.

Misalnya jika penerimaan kita bulan ini turun 10 persen, maka itu akan membuat kita dua kali lebih tidak bahagia daripada ketika penerimaan kita naik dengan kadar yang sama. Bias negatif ini seperti sudah sangat mengakar di dalam diri kita.

Media kemudian dengan cerdik memangsa kerentanan terhadap informasi negatif ini. Walaupun sebenarnya bukanlah media yang menanamkan kecenderungan ini dalam diri kita, tapi ia mengeksploitasinya dengan kejam. Demi untuk mendapatkan klik, oplah dan rating, media menempatkan berita buruk di bagian paling depan dan tengah. 

Hal ini juga berdampak buruk bagi tubuh. Kabar buruk memicu stres psikologis, menyebabkan hipotalamus otak melepaskan adrenalin. Kemudian, adrenalin ini menyebabkan peningkatan kortisol, yang kemudian membanjiri aliran darah. Ini melemahkan sistem imunitas tubuh dan juga menghambat produksi hormon pertumbuhan.

Dengan mengonsumsi semua berita ini (yang sebagian besarnya berita buruk), maka Anda membuat tubuh Anda stres, melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi, dan lebih jauh berpotensi menyebabkan masalah pencernaan dan pertumbuhan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Psychological Association, setengah dari semua orang dewasa menderita stres akibat kecanduan berita.

Lebih buruknya lagi adalah bahwa konsumsi berita itu seperti lingkaran setan yang sulit untuk dilepaskan. Stres melemahkan kemauan Anda. Tanpa kemauan untuk meletakkan ponsel atau mematikan komputer untuk membaca berbagai berita (yang sebagian besarnya negatif itu), maka Anda cenderung mengonsumsi lebih banyak berita. Dan siklusnya akan terus berlanjut.

Maka agama menganjurkan kita untuk lebih banyak menebarkan informasi positif dan lebih banyak berbuat sesuatu untuk meringankan beban saudara yang mengalami musibah. Supaya yang berkembang dan tumbuh subur adalah optimisme. Supaya orang tidak menjadi putus asa ketika ditimpa hal buruk. Bahwa memang dalam hidup itu ada saatnya "dhuha" yang menyegarkan dan ada saatnya "malam" yang menggelisahkan. Tapi ingatlah bahwa setiap masalah yang pernah kita hadapi selalu diberikan jalan keluar yang baik. Pada setiap kesulitan selalu ada berbagai kemudahan yang menyandinginya. Maka karena itu sebarkanlah berita-berita yang baik. Jangan sebaliknya justru semakin menguntungkan media yang haus klik dan rating dengan menebarkan berbagai informasi negatif. Jangan meracuni diri kita sendiri dan orang lain. Wa 'amma bini'mati rabbika fahaddits.[wkid/picture:shutterstock]

 

ARTIKEL TERKAIT