Syukurmu Untukmu

Tentang Artikel :

Mensyukuri nikmat atau mengingkarinya adalah untuk kepentingan diri manusia sendiri. Allah SWT sama sekali tidak membutuhkannya. Apa dampak yang akan diterima oleh orang yang bersyukur atau kufur atas berbagai nikmat-nikmat Allah itu?


WAKOOL.ID-- Pada hikmah ke-62 dari kitab Al-Hikam karya Syaikh Ibn Atha'illah As-Sakandari dikatakan:

"Siapa yang tidak mensyukuri nikmat, berarti ia membuat jalan bagi hilangnya nikmat itu. Dan siapa yang mensyukurinya, berarti ia telah mengikat nikmat itu dengan ikatan yang kuat"

Mensyukuri nikmat itu tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan saja. Seandainya syukur itu cukup dengan menyatakannya secara lisan saja, maka tentu sebagian besar manusia itu bisa termasuk ke dalam golongan orang yang bersyukur. Padahal Allah dalam banyak ayat menyatakan bahwa hanya sedikit dari hamba Nya yang bersyukur. Misalnya:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (QS. Saba': 13)

Syukur itu juga perlu diwujudkan dalam tindakan yaitu dengan menggunakan nikmat-nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita sesuai dengan maksud dan tujuan nikmat tersebut diciptakan dan diberikan pada kita. Kita mensyukuri nikmat penglihatan, misalnya, dengan menggunakannya untuk melihat yang baik, mencari ilmu pengetahuan, dll. Demikian juga dengan nikmat-nikmat lainnya juga mesti kita gunakan sesuai dengan tujuan dia diciptakan dan dianugerahkan pada kita. Tentu ini sangat sulit kita lakukan secara sempurna. Apalagi nikmat Allah itu tak terhitung jumlahnya.  

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nahl: 18)

Dengan menggunakan definisi syukur diatas, maka memang akan sangat sulit kita dapat menjadi hamba yang bersyukur secara sempurna. Sehingga Allah mengatakan bahwa hanya sedikit hamba Nya yang bersyukur.

Namun setiap manusia harus berusaha sekuat kemampuan untuk bersyukur atas nikmat-nikmat dari Allah. Yaitu dengan berusaha memenuhi kewajiban yang terdapat pada setiap nikmat tersebut. Misalnya pada nikmat harta, ada kewajiban untuk mengeluarkan zakat dan infaqnya, serta menafkahkannya pada jalan yang diridhai Allah SWT. Demikian pula halnya dengan nikmat Allah lainnya mesti kita penuhi kewajiban yang melekat padanya dan menjauhi yang dilarang darinya.  Apabila seorang manusia telah berusaha untuk melakukannya dengan sekuat kemampuannya, maka mudah-mudahan Allah SWT dapat menerimanya ke dalam kelompok orang yang mensyukuri nikmat.

Allah SWT mengatakan bahwa apabila seseorang bersyukur maka sungguh pasti akan ditambahkan nikmat kepadanya, dan sebaliknya apabila kufur (menutupi) nikmat tersebut maka ingatlah bahwa siksa Allah itu sangat pedih.

Dalam hikmah ke-62 ini, Syaikh Ibn Atha'illah menyebutkan bahwa barangsiapa tidak menyukuri nikmat Allah, maka ia telah membuka jalan bagi hilangnya nikmat tersebut. Kata "membuka jalan" itu bukan berarti nikmat yang ada pada orang yang tidak bersyukur itu pasti akan hilang. Hal tersebut akan bergantung pada penilaian Allah SWT. Ada baiknya kita menghubungkannya dengan hikmah sebelumnya (ke-61) yang berbunyi "Orang yang tidak tergerak mendekat kepada Allah dengan kelembutan kebaikan pemberian-Nya, maka ia akan diseret supaya ingat kepada Allah dengan rantai ujian"

Allah mencintai seluruh hamba2Nya. Dia ingin hamba2Nya bisa bahagia dan memperoleh kenikmatan di sisi Nya. Sementara tak ada kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki itu dapat diperoleh melainkan melalui jalan2 yang diridhai Nya. Supaya hamba-hambaNya itu tergerak sendiri untuk mendekat pada Allah, maka Allah SWT mengguyuri mereka dengan kelembutan limpahan kebaikan. Sehingga diharapkan karena diberikan berbagai kebaikan tsb, mereka akan tergerak untuk mendekat kepadaNya dan memperoleh kebahagiaan yang hakiki. 

Namun apabila hamba-hamba Nya itu tidak mau/berhasil dirayu dengan kelembutan kebaikan-kebaikan dariNya, maka Dia Yang Maha Pengasih itu akan memberinya cobaan-cobaan untuk menariknya kembali ke jalan kebahagiaan dengan mendekat kepada Nya. Pada hakekatnya adzab itu berfungsi sebagai metode penetral/penawar dari Allah bagi hamba-hambaNya yang tergelincir dari jalan-Nya karena kekalahannya melawan godaan setan dan hawa nafsunya. 

Namun apabila hamba-hamba Nya itu melanggar dari jalan Nya karena kesombongannya, merasa tidak membutuhkan Allah, terang-terangan menantang Allah, maka ada pendekatan ketiga yang mengerikan. Yaitu Allah akan membiarkannya, mengulurnya sehingga pada suatu titik yang sudah parah maka baru Allah akan menampakkan kuasa Nya.  Atau yang juga dikenal dengan istidraj. Naudzu biLlahi min dzaalik.

Jadi ketika seorang itu tidak bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, maka Allah bisa menarik nikmat tersebut darinya (sebagai peringatan/ujian) atau bisa juga justru menambahnya untuk mengulurnya dalam rangka istidraj.

Namun apabila seseorang itu mensyukuri nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya, maka ia sebenarnya telah mengikat nikmat tersebut dengan rasa syukurnya. Karena rasa syukurnya tersebut adalah sesuatu kenikmatan yang juga perlu disyukuri lagi. Walaupun bisa saja nikmat asalnya sudah tidak ada atau berganti dengan nikmat yang lain. Allah SWT menjelaskan bahwa syukur kita itu adalah untuk kepentingan kita sendiri, bukan untuk Allah SWT. 

وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

"...Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji" (QS. Luqman: 12)

Sehingga kondisi zahir seseorang itu tidak menunjukkan seseorang itu sedang dalam keadaan diridhai Allah atau dimurkai Allah SWT. Seseorang yang secara kasat mata mendapatkan musibah dan ujian itu belum tentu karena dosa yang dia lakukan, tapi justru bisa jadi Allah ingin mengampuni dosa-dosanya atau meningkatkan derajatnya di sisi Allah SWT. Dan Seseorang yang secara kasat mata terlihat bergelimang nikmat juga belum tentu karena ridha Allah atau tanda dia telah bersyukur. Karena bisa jadi juga itu adalah penguluran (istidraj) yang sangat membahayakan dirinya sendiri.

Jadi yang paling penting bagi kita adalah berusaha untuk selalu bersyukur atas nikmat-nikmat yang Allah berikan pada kita. Kalau kita sudah berusaha sekuat kemampuan kita, maka semoga Allah SWT memaklumi dan memaafkan kekurangan syukur kita atas banyaknya kenikmatan-kenikmatan Nya. Karena Allah itu juga memiliki sifat Asy-Syakur, Yang Maha Bersyukur. Artinya Dia menerima sedikitnya rasa syukur kita (karena keterbatasan kemampuan) dibanding banyaknya pemberian-pemberianNya, dan memaafkan banyaknya kekurangan kita. Semoga kita termasuk kelompok hamba-hamba Nya yang bersyukur. Aamiin YRA.[wkid]

Disarikan dari Kajian Hikmah ke-62 dari Kitab Al-Hikam, karya Syaikh Ibn Atha'illah As-Sakandari di Masjid Al-Abror, tanggal 3 Maret 2021 dengan narasumber: Ustadza Abdullah Hasan.

Sesi #1: https://www.facebook.com/dkmalabror/videos/144005250910101

Sesi #2: https://www.facebook.com/dkmalabror/videos/134151585189053

 

ARTIKEL TERKAIT