Belajar dari Isra Mi'raj Sang Nabi

Tentang Artikel :

Isra Mi'raj merupakan sebuah peristiwa dahyat yang terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW. Mengkaji peristiwa ini terus melahirkan mutiara-mutiara yang tak pernah berhenti. Apa saja diantara mutiara-mutiara yang dapat kita ambil dari pengungkapan Al-Qur'an terkait peristiwa agung ini?

WAKOOL.ID- Pada bulan Rajab terdapat sebuah peristiwa yang amat dahsyat yang wajib diimani dan renungkan nilai dan pesan yang terkandung di dalamnya. Yaitu peristiwa Isra Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai kapan peristiwa Isra dan Mi’raj nya Nabi Muhammad SAW tersebut terjadi. Kita tidak ingin membahas perbedaan pendapat mengenai kapan terjadinya persitiwa tersebut, melainkan yang jauh lebih penting adalah apa hikmah yang dapat kita ambil dari peristiwa agung tersebut. Disini kita akan mencoba menggali mutiara-mutiara yang terdapat pada ayat al-Qur'an yan menceritakan tentang peristiwa tersebut.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-Isra: 1)

Allah SWT ketika menyampaikan peristiwa tersebut memulainya dengan kata “Subhana”, yang dapat diartikan antara lain bahwa apapun pemaknaan yang akan kita ambil dari peristiwa ini, selalu ingat untuk menyucikan Allah dari segala sifat makhluq. Menjauhkan segala keburukan/kelemahan dari Allah SWT. Bahwa Allah memiliki/membutuhkan ruang dan waktu dalam melaksanakan kehendak-kehendakNya. Bahwa ada sesuatu yang menyerupai kedudukan Nya yang maha tinggi, walaupun setinggi apapun derajat makhluq Nya. Setinggi apapun derajat Nabi kita SAW, tetaplah beliau adalah hamba Nya.

Selanjutnya ayat tersebut menggunakan kata "Asro bi abdihi" (memperjalankan hambaNya). Allah yang memperjalankan. Sehingga jangan bandingkan perbuatan Allah dengan perbuatan hamba. Allah Maha Mampu melakukan segala sesuatu yang Dia kehendaki. Dialah yang memegang kerajaan langit dan bumi, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jangan sedih dan tetap semangat/optimis dalam kondisi apapun. Dalam sebuah riwayat, peristiwa Isra mi’raj ini terjadi pada 'amul huzn, dimana nabi dalam kondisi sedih karena ditinggal dua orang tercintanya, pembela dan pendukung utama dakwahnya. Yaitu Sayyidah Khadijah as dan Abu Thalib ra.

Hal menarik berikutnya adalah penggunakan kata "Abdihi". Bahwa nabi SAW adalah hambaNya. Derajat tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang makhluq adalah ketika dia telah menjadi hambaNya. Karena telah mencapai tujuan penciptaannya. Wa ma khalaqtu aljinna wal insa illa liya’buduun.

Kemudian selanjutnya disebutkan bahwa peristiwa Isra tersebut terjadi pada sebagian malam (Laylan). Sebagian malam. Kenapa dipilih dilakukan pada sebagian malam? Karena malam itu adalah waktu yang istimewa untuk melakukan komunikasi khusus dengan Allah SWT. Nabi di awal-awal turunnya wahyu yang diterima sudah dipesankan:

يٰٓاَيُّهَا الْمُزَّمِّلُۙ

wahai orang yang berselimut

قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًاۙ

hidupkan malam kecuali sedikit

نِّصْفَهٗٓ اَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيْلًاۙ

(yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu,

اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ

atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan.

اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا

Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu

اِنَّ نَاشِئَةَ الَّيْلِ هِيَ اَشَدُّ وَطْـًٔا وَّاَقْوَمُ قِيْلًاۗ

Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa); dan (bacaan pada waktu itu) lebih berkesan.

Kemudian selanjutnya disebutkan "Minal Masjidil haram ilal masjidil Aqsha" (Dari masjidil haram ke masjidil aqsa). Pada saat peristiwa itu kedua masjid tersebut belum ada. Tapi Allah sudah menjelaskan bahwa di kedua tempat itu akan menjadi masjid dan menjadi tempat yang penuh keberkahan. Perjalanan dari masjid ke  masjid juga menunjukkan posisi sentral masjid dalam kehidupan muslimin.

Kalau peristiwa Isra adalah perjalanan horizontal, maka mi’raj adalah perjalanan vertikal. Menuju Allah SWT. Dalam perjalanan mi’raj ini Nabi SAW mendapatkan perintah Sholat yang merupakan lambang penjalinan hubungan baik dengan Allah SWT. Hal ini menunjukkan bagaimana Islam adalah agama yang memerhatikan hubungan horizontal maupun vertikal.

Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Dan karakteristik orang yang bertakwa disebutkan dalam awal surat al-Baqarah ayat 2-4: 

1) Beriman pada yang ghaib;

(2) Mendirikan shalat;

(3) Menginfakkan sebagian rezekinya;

(4) Beriman pada yang disampaikan pada Rasulullah dan nabi2 sebelumnya;

(5). Meyakini adanya hari pembalasan

Kita tidak cukup hanya melakukan sholat sebagai simbol hubungan baik dengan Allah SWT. Tapi kita juga wajib menjaga hubungan dengan sesama makhluq. Membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Tanpa itu maka ancaman kecelakaan bagi orang yang sholat.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ .(maka celakalah orang yang sholat)

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ (yang lalai akan nilai-nilai sholatnya)

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ (yang melakukannya untuk dilihat sesama)

وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ (dan enggan (memberikan) bantuan.)

Semoga dengan mengingat peristiwa Isra Mi’raj yang agung ini, kita dapat senantiasa menjaga hubungan baik kita dengan Allah SWT dan juga memperbaiki hubungan kita dengan sesama. Menjalankan keberagamaan yang seimbang. Semoga Allah SWT membantu kita semua. Aamiin YRA.[wkid]

Disarikan dari KHUTBAH JUM'AT MASJID AL-ABROR 

28 RAJAB 1442H / 12 MARET 2021M

Oleh: Umar Alhabsyi

 

ARTIKEL TERKAIT