Fiqih Zakat (2): Aturan Umum

Tentang Artikel :

Penjelasan praktis tentang Fiqih Zakat dalam Islam.

Disarikan dari Buku "Fiqih Praktis I: Menurut Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Pendapat Para Ulama", karya Muhammad Bagir

WAKOOL.ID-- Melanjutkan dari artikel sebelumnya, maka sebelum membahas lebih jauh tentang harta apa saja yang wajib dizakati, di bawah ini beberapa aturan umum yang harus diketahui berkenaan dengan kewajiban berzakat.

Siapakah Yang Wajib Mengeluarkan Zakat?

Setiap Muslim memiliki harta yang mencapai nishâb (jumlah minimal tertentu yang ditetapkan atas setiap jenis harta) diwajibkan mengeluarkan zakatnya. Termasuk juga anak yang belum baligh atau orang yang tidak waras akalnya, apabila memiliki harta sejumlah nishâb, maka walinya wajib mengeluarkan zakat atas nama mereka.

Demikian pula orang yang meninggal dunia, dan diketahui belum sempat mengeluarkan zakat atas hartanya, maka wajib atas para ahli warisnya membayarkan zakatnya sebelum harta tersebut dibagi-bagi untuk mereka.  

Persyaratan Nisab dan Haul Dalam Harta yang Wajib Dizakati

Nisab (nishâb) --batas minimal harta yang dimiliki seseorang sehingga menjadikannya wajib zakat-- dihitung dari harta yang melebihi keperluan pokok: sandang, pangan dan papan (pakaian, makanan, dan perumahan) serta kendaraan dan peralatan untuk keperluan pekerjaannya.

Selain itu, setiap jenis harta yang telah mencapai nisab, wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah dimiliki selama satu tahun penuh (atau yang disebut haul dalam istilah fiqih). Yang dimaksud di sini adalah tahun Hijriah (354 hari).

Kecuali harta hasil pertanian (dan zakat profesi, menurut sebagian ulama kontemporer), tidak memerlukan haul, melainkan harus segera dikeluarkan pada saat panen (atau saat diterima), sebagaimana akan dijelaskan kemudian pada pembahasan tentang zakat pertanian (dan zakat profesi serta hasil menyewakan gedung-gedung dsb).

Zakat Diambil dari Harta yang Tumbuh dan Berkembang

Persyaratan ketiga (setelah nisab dan haul) dalam harta yang wajib dizakati ialah, bahwa harta tersebut termasuk yang ‘tumbuh dan berkembang’, atau memiliki peluang untuk itu, sehingga dapat mendatangkan hasil atau keuntungan (laba) bagi pemiliknya. Oleh sebab itu, zakat tidak dipungut dari harta yang digunakan untuk keperluan pribadi, seperti rumah yang dihuni sendiri, atau kendaraan yang digunakan untuk keperluan pribadi. Sabda Nabi Saw dalam sebuah hadis sahih, “Tidak ada kewajiban shadaqah (yakni zakat) atas seorang Muslim dalam kuda tunggangan-nya ataupun hamba sahayanya.”

Kepemilikan Yang Sempurna

Persyaratan keempat adalah bahwa harta yang wajib dizakati merupakan milik seseorang secara sempurna. Maka tidak ada zakat atas harta yang tidak dimiliki secara sempurna ataupun yang tidak diketahui pemiliknya secara pasti. Misalnya, harta yang berada di kas negara, yang dihimpun dari pelbagai macam zakat, pajak, cukai dan sebagainya; tidak ada zakatnya mengingat bahwa itu adalah milik rakyat semuanya, termasuk kaum fakir-miskin mereka.        

Demikian pula harta yang diwakafkan untuk kepentingan umum, seperti masjid, lembaga pendidikan, panti asuhan untuk anak yatim, orang jompo, fakir-miskin dan sebagainya.

Lain halnya dengan harta yang diwakafkan secara khusus untuk kepentingan seorang anggota keluarga tertentu atau keturunannya, maka zakat tetap dipungut atas harta seperti itu, mengingat bahwa kepemilikannya telah berpindah secara sempurna dari orang yang mewakafkannya kepada yang menerimanya. (Yusuf Qaradhawi, Fiqh Az-Zakah I/132). [wkid/fiqihpraktis1]


ARTIKEL TERKAIT