Fiqih Zakat (3): Aturan Umum (2)

Tentang Artikel :

Penjelasan praktis tentang aturan-aturan umum Fiqih Zakat dalam Islam.

Disarikan dari Buku "Fiqih Praktis I: Menurut Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Pendapat Para Ulama", karya Muhammad Bagir

WAKOOL.ID-- Melanjutkan aturan-aturan umum dalam fiqih zakat dari artikel sebelumnya

Zakat Atas Hutang

Apabila seseorang memiliki harta yang wajib dizakati, sedangkan ia juga berhutang kepada orang lain, maka hartanya itu dikurangi dahulu sejumlah hutangnya, kemudian dikeluarkan zakat dari hartanya yang tersisa, apabila mencapai nisab.

Tetapi jika jumlah yang tersisa kurang dari nisab, maka tidak ada zakat atasnya, mengingat bahwa dalam keadaan seperti ini, ia dianggap sebagai seorang miskin. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tiada sedekah (yakni zakat) kecuali atas orang yang kaya.” (HR. Ahmad). Dan sabda beliau pula, “(Zakat) diambil dari para hartawan mereka dan diberikan kepada para fakir-miskin di antara mereka.”

Zakat Atas Piutang

Piutang dapat dibagi atas dua bagian, yaitu: yang lancar, dan yang tidak lancar.

1. Piutang lancar, ialah yang diakui oleh yang berhutang dan dapat dibayarkan sewaktu-waktu ataupun pada waktu tertentu sesuai dengan perjanjian. Piutang seperti itu dianggap sama seperti harta lainnya yang dimiliki secara sempurna, dan karenanya wajib dizakati bersama harta lainnya yang telah cukup nisabnya serta haul-nya.

2. Piutang tidak lancar adalah yang diragukan atau hampir-hampir tidak ada harapan akan dibayarkan kembali kepada pemiliknya. Piutang seperti itu, dianggap sebagai harta yang tidak dimiliki secara sempurna, dan karenanya tidak wajib dizakati kecuali untuk satu tahun saja, kelak apabila dapat diterima kembali oleh pemiliknya.

Termasuk dalam hal ini, uang atas nama para pegawai negeri atau karyawan perusahaan yang disimpan dalam Bank atau lainnya, oleh negara atau perusahaan di mana mereka bekerja, sebagai dana pensiun, bonus atau penghargaan atas prestasi mereka. Jika uang itu dapat diterima oleh mereka setiap saat yang mereka kehendaki, maka ia dianggap milik sempurna mereka, sama seperti piutang yang lancar. Dan karenanya wajib dizakati setiap tahunnya.

Tetapi jika uang tersebut tidak dapat diterima oleh mereka setiap saat mereka kehendaki, maka ia dianggap sama seperti piutang yang diragukan atau tidak ada harapan dapat diterima kembali. Dan karenanya tidak wajib dizakati, kecuali kelak apabila mereka benar-benar menerimanya. Dalam hal ini mereka cukup mengeluarkan zakatnya (sebesar dua setengah persen) satu kali saja.

Waktu Membayarkan Zakat

Seseorang yang telah memenuhi persyaratan untuk mengeluarkan zakat, wajib melaksanakannya segera, dan tidak boleh mengundurkannya sampai waktu lain (misalnya menunggu sampai bulan Ramadhan dsb). Apabila tidak dibayarkannya pada waktunya, lalu hartanya itu hilang atau musnah, maka zakatnya tetap menjadi tanggung jawabnya dan dalam jaminannya.

Mendahulukan Pembayaran Zakat Sebelum Waktunya

Sebaliknya, dibolehkan mendahulukan (men-ta‘jil-kan) pembayaran zakat sebelum tiba saat wajibnya (yakni sebelum haul-nya, msalnya agar bertepatan dengan bulan Ramadhan, atau ada keperluan tertentu si miskin yang mendesak), walaupun sebelum setahun atau lebih. Hal ini mengingat bahwa zakat adalah hak kaum fakir-miskin, sehingga apabila penyerahannya sebelum waktunya dianggap lebih menguntungkan bagi mereka, maka tidak ada salahnya hal itu dilakukan.

Niat Untuk Membayarkan Zakat

Mengingat bahwa zakat merupakan ibadah, maka harus pula disertai dengan niat (cukup di dalam hati) ketika mengeluarkannya, atau ketika menyisihkannya dari harta asalnya. Yaitu dengan niat bahwa yang dibayarkan atau disisihkan itu adalah bagian dari zakat yang diwajibkan Allah atas dirinya. [wkid/fiqihpraktis1/picture:unair]


ARTIKEL TERKAIT