Fiqih Zakat (4): Harta yang Wajib Dizakati

Tentang Artikel :

Penjelasan praktis tentang jenis-jenis harta yang wajib dizakati dalam Islam.

Disarikan dari Buku "Fiqih Praktis I: Menurut Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Pendapat Para Ulama", karya Muhammad Bagir

WAKOOL.ID--Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan tentang beberapa aturan umum yang penting diketahui terkait fiqih Zakat. Selanjutnya yang penting untuk diketahui adalah jenis-jenis harta yang wajib dizakati. Berikut ini adalah jenis-jenis harta yang wajib dizakati:

1. EMAS, PERAK DAN UANG

Zakat Emas dan Perak

Nisab emas ialah 85 gram (sama dengan 20 dinar). Maka jika seseorang memiliki simpanan emas sebanyak 85 gram atau lebih, dan telah cukup haul-nya (yakni satu tahun menurut kalender hijriah), wajiblah ia mengeluarkan zakatnya, sebanyak 2,5 % (dua setengah persen) dari jumlah emas miliknya itu. Selanjutnya, apabila emas tersebut masih ada padanya sampai setahun kemudian, wajiblah ia mengeluarkan lagi zakatnya sebanyak 2,5 % dari sisa yang dimilikinya. Dan begitulah seterusnya.      

Sedangkan nisab perak ialah 200 dirham (atau kira-kira 595 gram). Maka jika seseorang memiliki perak sebanyak 595 gram atau lebih, dan telah cukup haul-nya, wajiblah ia mengeluarkan zakatnya sebanyak 2,5 % (dua setengah persen) dari jumlah perak yang dimiliknya sejak setahun yang lalu itu.

Zakat Uang

Nisab uang disamakan dengan nisab emas. Maka jika seseorang memiliki uang simpanan berupa rupiah, dolar, riyal dan sebagainya, yang nilainya sama dengan harga emas seberat 85 gram atau lebih, dan telah cukup haul-nya (yakni telah satu tahun sejak pertama kali dimilikinya), wajiblah ia mengeluarkan zakatnya, sebanyak 2,5 % (dua setengah persen) dari jumlah yang dimiliki.

Zakat Diwajibkan Atas Harta Yang Melebihi Kebutuhan Pokok

Seorang Muslim yang memiliki simpanan uang mencapai nisab, tetapi ia masih memerlukannya untuk pakaiannya serta makanannya, untuk dirinya serta keluarganya selama satu tahun, atau untuk membeli buku-buku atau alat-alat pekerjaan yang sangat diperlukan bagi profesinya, atau untuk melunasi hutang-hutangnya, sedangkan ia tidak memiliki sumber penghasilan lain selain uang simpanannya itu, maka orang seperti ini tidak tergolong dalam kategori ‘orang-orang kaya’ yang wajib mengeluarkan zakat. Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Saw., bahwa “zakat diambil dari orang-orang kaya mereka, untuk diberikan kepada kaum fakir-miskin mereka.” Atau hadis beliau: “Tiada kewajiban sedekah (zakat) kecuali bagi pemilik kekayaan.

Zakat Perhiasan

Terdapat beberapa perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang Zakat Perhiasan. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa perhiasan yang terbuat dari emas dan perak, atau berupa batu-batu permata, (berlian, intan, mutiara dan sebagainya) yang semata-mata dipakai oleh seorang wanita sebagai perhiasan yang mubâh (yakni yang jumlahnya wajar dan diperkenankan oleh agama), tidak wajib dizakati. Hal ini disamakan dengan keperluan pribadi seseorang, seperti perabot rumah tangga, atau buku-buku dan alat-alat kerja yang diperlu-kan guna menunjang profesi seseorang, dan yang kesemuanya itu tidak wajib dizakati.

Kecuali apabila perhiasan tersebut dimiliki untuk disimpan (sebagai investasi) atau dimaksudkan sebagai barang dagangan; atau jumlahnya amat banyak, melampaui batas kewajaran sebagai perhiasan biasa; sedemikian rupa sehingga menunjukkan sikap berboros-boros atau untuk bermegah-megahan, maka harus dizakati setiap tahun (sebanyak dua setengah persen dari jumlah nilainya, seperti barang-barang per-dagangan).

Telah dirawikan bahwa seorang perempuan dari Yaman meng-hadap Nabi Saw. bersama seorang putrinya. Nabi Saw. melihat dua gelang emas cukup besar melingkari tangan putrinya itu. Maka beliau bertanya, “Adakah Anda mengeluarkan zakat gelang ini?” “Tidak,” jawab perempuan itu. Maka Nabi Saw. bertanya lagi, “Akankah Anda merasa senang, sekiranya Allah SWT kelak melingkari Anda dengan dua gelang dari api neraka?” Mendengar itu, si perempuan melepaskan kedua gelang itu dan meletakkannya di hadapan Nabi Saw. seraya berkata, “Kuberikan ini untuk Allah dan RasulNya.”

Demikian pula jika perhiasan tersebut digunakan untuk hal hal yang diharamkan oleh agama, seperti apabila seorang laki-laki memakai perhiasan terbuat dari emas, maka ia wajib dizakati.

Atau seseorang memiliki bejana-bejana (peralatan makan-minum, seperti piring, gelas, periuk dan sebagainya) yang terbuat dari emas dan perak, maka di samping pemilikan tersebut diharamkan dalam agama, semua itu wajib dikeluarkan zakatnya setiap tahunnya.         

Berdasarkan hadis tentang kedua wanita di atas itu pula, ada beberapa ulama dari mazhab Syafi‘i yang mewajibkan zakat atas perhiasan wanita, tanpa membatasinya dengan jumlah tertentu, baik jumlahnya mencapai nisab atapun tidak.

Begitulah dalam kenyataannya, mengenai zakat perhiasan ini memang terdapat banyak perbedaan pendapat ulama yang saling bertentangan; antara yang mewajibkan zakatnya dan yang tidak, sehingga dapat menimbulkan kebingungan.

Oleh sebab itu, menurut hemat kami—wallâhu a‘lam—sangat tepatlah pendapat sebagian ulama yang menganjurkan kita ber-ihtiyâth (bersikap hati-hati dengan mengutamakan keselamatan dalam ber-agama). Yaitu dengan mengeluarkan zakat perhiasan setiap tahun. Kalaupun tidak pada setiap tahun, maka paling sedikit satu kali, yaitu ketika membelinya. Hal ini mengingat bahwa harga perhiasan yang terbuat dari emas sangat mahal harganya. Apalagi yang diberi batu permata seperti berlian dan sebagainya. Sedangkan uang pembeli perhiasan tersebut diambil dari harta yang termasuk di dalamnya bagian hak kaum fakir-miskin. (seperti dalam QS Adz-Dzâriat [51]: 19). Di samping itu, mengeluarkan zakatnya walau hanya satu kali saja, merupakan manifestasi rasa syukur kita kepada Allah Swt., yang telah memberi kita kelebihan rezki sehingga mampu membeli perhiasan yang mahal seperti itu.[wkid/fiqihpraktis1/picture:unair]


ARTIKEL TERKAIT

Fiqih Zakat (2): Aturan Umum

Fiqih Zakat (5): Zakat Perdagangan

Fiqih Zakat (1): Pengantar

Fiqih Zakat (3): Aturan Umum (2)

Fiqih Zakat (6): Zakat Profesi