Fiqih Zakat (6): Zakat Profesi

Tentang Artikel :

Penjelasan praktis tentang Hukum Zakat Profesi menurut berbagai pendapat.

Disarikan dari Buku "Fiqih Praktis I: Menurut Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Pendapat Para Ulama", karya Muhammad Bagir

WAKOOL.ID-- Pada artkel sebelumnya telah dibahas 2 (dua) jenis harta yang wajib dizakati, yaitu: (1) Emas, Perak, dan Uang; (2) Perdagangan. Pada tulisan ini akan disampaikan jenis yang ketiga, yaitu: Zakat Profesi.

Telah dirawikan oleh Bukhari dari Abu Musa Al-Asy‘ari r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda, Setiap Muslim wajib bersedekah. Mereka bertanya, “Wahai Nabi Allah, bagaimana jika ia tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan?” Jawab beliau, hendaklah ia bekerja dengan tangan-nya, sehingga bermanfaat bagi dirinya dan mampu bersedekah. Mereka bertanya lagi, “Bagaimana jika ia tetap tidak memiliki sesuatu untuk disedekahkan?” Jawab beliau, Hendaklah ia membantu orang yang memerlukan bantuan. Mereka bertanya lagi, “Bagaimana jika ia tidak mampu memberi bantuan?” Jawab beliau, Hendaklah ia mencegah dirinya sendiri dari perbuatan yang tidak baik. Yang demikian itu menjadi sedekah baginya.

Berdasarkan hadis tersebut, serta pengertian umum ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi Saw. tentang kewajiban bersedekah atau ber-zakat, seperti telah dinukilkan sebelum ini, maka penghasilan seseorang dari profesinya, sebagai pegawai negeri, karyawan perkantoran atau perusahaan, ataupun sebagai pekerja swasta, seperti notaris, pengacara, dokter, insinyur dan sebagainya, wajib dizakati apabila jumlah bersihnya selama setahun mencapai nisab seperti nisab uang; yakni senilai harga 85 gram emas.

Yang dimaksud dengan ‘jumlah bersih’ di sini, adalah total penerimaan dari semua jenis penghasilan (gaji tetap, tunjangan, bonus tahunan, honorarium dan sebagainya) dalam jangka waktu satu tahun (atau 12 bulan) setelah dikurangi dengan hutang-hutang (termasuk cicilan rumah yang jatuh tempo sepanjang tahun tersebut) serta biaya hidup seseorang bersama keluarganya secara layak (yakni kehidupan orang orang kebanyakan di setiap negeri; bukan yang amat kaya dan bukan pula yang amat miskin).

Persentase Zakat Profesi

Pada hakikatnya, zakat profesi seperti dalam uraian di atas, tidak dikenal dalam literatur-literatur lama; mungkin karena jarangnya upah atau gaji karyawan yang mencapai nisab seperti nisab emas, hewan ternak, pertanian dan sebagainya. Namun di masa kini, penghasilan bulanan para karyawan di perusahaan-perusahaan besar, atau para profesional di bidang teknik, administrasi, kedokteran dan sebagainya, sering kali mencapai jumlah amat besar, jauh melampaui nisab harta-harta lainnya yang wajib dizakati.

Oleh sebab itu, tentang nisab serta jumlah zakat yang wajib, men-jadi bagian dari ijtihad para ulama kontemporer, seperti telah dising-gung di atas. Hasilnya, paling sedikit ada tiga pendapat mengenai hal ini:

1. Pendapat Dr. Yusuf Qardhawi yang menganalogikan zakat profesi dengan zakat uang. Sehingga jumlah nisab serta besarnya persentase zakatnya disamakan dengan zakat uang; yaitu 2,5% dari sisa pendapatan bersih setahun. (Yaitu, pendapatan kotor dikurangi jumlah pengeluaran utuk kebutuhan hidup layak, untuk makanan, pakaian, serta cicilan rumah selama setahun, jika ada).

2. Pendapat yang dinukil dari Syaikh Muhammad Al-Ghazali yang menganalogikan zakat profesi dengan zakat hasil pertanian (juga zakat hasil eksploitasi gedung-gedung dan kendaraan-kendaraan seperti telah disebutkan sebelum ini), baik dalam nisab maupun persentase zakat yang wajib dikeluarkan. Yaitu 10 % dari sisa pendapatan bersih. Atau pendapatan kotor dikurangi beaya yang diperlukan untuk kebutuhan hidup layak seperti dalam pendapat pertama di atas.

3. Pendapat mazhab Imamiyah (atau yang biasa juga disebut mazhab Ahlul-Bait) yang menetapkan zakat profesi sebesar 20 % dari hasil pendapatan bersih; sama seperti dalam laba perdagangan serta setiap hasil pendapatan lainnya, berdasarkan pemahaman mereka ber-kaitan dengan firman Allah Swt. dalam QS Al-Anfal [8]: 41 tentang ghanîmah

Pertimbangan dan Kesimpulan Tentang Besarnya Zakat Profesi

Demikianlah beberapa pendapat para ahli fiqih berkaitan dengan zakat profesi. Selanjutnya, silakan Anda memilih manakah di antara pendapat-pendapat tersebut yang kiranya lebih dekat dengan konsep agama Islam dalam masalah zakat, seperti telah dijelaskan sebelum ini: sebagai manifestasi syukur manusia kepada Allah SWT yang telah mengarunianya rezki; dan sebagai sarana pensucian jiwa dan harta; serta demi memenuhi hak Allah, hak masyarakat serta hak kaum dhu‘afa.

Perbedaan pendapat ini dapat pula dijadikan acuan bagi penentuan besarnya persentase zakat bagi masing-masing karyawan:

Pertama, seorang karyawan atau lainnya yang penghasilannya hanya mencukupi kebutuhan hidupnya secara pas-pasan, dan kalau-pun masih memiliki sedikit kelebihan untuk ditabung, jumlahnya pada akhir tahun tidak mencapai nisab. Orang seperti ini, tidak wajib me-ngeluarkan zakat atas penghasilannya tersebut. Kecuali jika ia ingin bersedekah secara sukarela, yang pahalanya juga besar sekali.

Kedua, seorang karyawan yang penghasilannya sedikit melebihi kebutuhan hidupnya bersama keluarganya, sehingga ia mampu, atau diperkirakan mampu, menabung sejumlah tertentu yang pada akhir tahun dapat mencapai nisab atau sedikit di atas itu. Orang seperti ini, wajib mengeluarkan zakat, paling sedikit 2,5 % dari kelebihan peng-hasilannya itu.

Ketiga, seorang karyawan yang menempati posisi cukup tinggi dalam sebuah perusahaan atau departemen dan sebagainya. Sehingga penghasilannya melebihi apa yang diterima oleh karyawan dalam kedua contoh di atas, bahkan dapat digolongkan sebagai ‘cukup kaya’. Orang seperti ini seyogianya mengeluarkan zakat sedikitnya 2,5 % langsung dari seluruh penghasilannya (sebelum dikurangi untuk keperluan hidupnya yang wajar). Atau 10% dari penghasilan bersihnya (setelah dikurangi untuk keperluan hidup).

Keempat, seorang karyawan yang penghasilannya lebih tinggi lagi dari contoh ketiga. Apalagi jika di samping penghasilan tetapnya (yang dikeluarkan zakatnya secara langsung sebanyak 2,5 %), ia sewaktu-waktu masih menerima pula pelbagai honorarium hasil seminar, wawancara, tulisan dan sebagainya. Sehingga, di samping zakat seperti tersebut di atas, sudah selayaknya pula ia mengeluarkan 20 % dari penghasilannya yang tak terduga itu (disamakan dengan zakat rikaz, harta terpendam yang berasal dari masa jahiliyah, yang zakatnya sebesar 20 %, dan wajib dikeluarkan segera setelah diperoleh).

Dari sini, sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing orang, dan sesuai pula dengan tingkat kemakmuran dan besarnya penghasilan yang diperoleh, terpulang kepada setiap individu Muslim untuk ber-tanya kepada hati nuraninya sendiri; manakah di antara keempat persentase di atas yang lebih layak untuk dijadikan dasar bagi besar-kecilnya zakat yang dikeluarkan.

Dan pada akhirnya, mengingat negara kita ini bukan negara Agama yang berhak memungut zakat dari rakyatnya, kalau perlu dengan paksaan, maka semua itu bergantung pula pada kadar keimanan dan ketulusan kepada Allah Swt., yang diharapkan makin lama makin menguat dalam diri setiap Muslim yang bertakwa. Yaitu yang kuat keyakinannya akan janji Allah dan RasulNya, bahwa “takkan berkurang sebuah harta disebabkan sedekah yang dikeluarkan darinya, bahkan bertambah, bertambah dan bertambah.” (Dari sebuah hadis sahih). Wallâhu a`lamu bishshawâb. [wkid/fiqihpraktis1/picture:kompas]


ARTIKEL TERKAIT