Fiqih Zakat (7): Zakat Hasil Eksploitasi dan Investasi

Tentang Artikel :

Penjelasan praktis hukum islam atas kewajiban Zakat pada hasil eksploitasi dan investasi.

WAKOOL.ID-- Pada artikel sebelumnya telah dibahas jenis harta yang wajib dizakati berupa Hasil Profesi. Pada tulisan ini akan dibahas fiqih terkait zakat dari hasil eksploitasi dan investasi yang berupa sewa gedung, jasa transportasi, dan perusahaan manufaktur.

Telah disepakati oleh para ulama bahwa rumah kediaman seseorang serta perabotnya, kendaraan pribadinya dan alat-alat sederhana yang digunakan sebagai alat bantu dalam profesinya, semua itu tidak ada zakatnya. Hal ini mengingat bahwa barang-barang seperti itu meru-pakan kebutuhan pokok, di samping tidak dimiliki untuk menghasilkan laba komersil.

Akan tetapi di masa sekarang ini, telah timbul pelbagai usaha dagang lainnya, yang di antaranya menyangkut pembangunan gedung-gedung untuk diambil hasil sewanya, atau pabrik-pabrik yang menggunakan mesin-mesin amat mahal untuk menghasilkan barang-barang manifaktur yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, dan mendatangkan keuntungan materiil amat banyak. Demikian pula kendaraan-kendaraan seperti pesawat terbang, kapal laut, serta bus dan taksi dalam usaha trnsportasi.

Tentunya semua ini tidak dapat disamakan dengan rumah atau kendaraan sederhana milik pribadi, seperti unta, kuda, keledai dan sebagainya, atau alat-alat kerja seperti kerbau untuk membajak tanah, atau gergaji, palu dan sebagainya yang oleh para ulama di masa-masa dahulu, dibebaskan dari kewajiban zakat.

Fatwa Para Ulama Kontemporer

Oleh sebab itu, setelah menelitinya dari segala aspeknya, dan mengingat bahwa semua itu memenuhi ketentuan sebagai harta yang ‘berkembang dan bertambah’, beberapa ahli fiqih kontemporer yang berwenang dan diakui keahliannya, sebagaimana disebutkan oleh Al-Qaradhawi dalam Fiqh Az-Zakah, telah menetapkan kewajiban zakat atas hasil eksploitasi bangunan-bangunan, pabrik-pabrik dan kendaraan-kendaraan yang digunakan dalam usaha properti, industri, transportasi dan sebagainya. Adapun sebagai dasarnya ialah peng-qias-an semua itu dengan tanah-tanah pertanian (yang dikeluarkan zakatnya dari hasil tanaman yang tumbuh di atasnya).

Di bawah ini diuraikan secara lebih rinci:

1. Zakat Gedung-Gedung Untuk Disewakan

Telah dijelaskan dalam pembahasan tentang Zakat Perdagangan, bahwa para pengusaha real estate, yang membeli tanah-tanah dan membangun rumah-rumah untuk diperjualbelikan, wajib mengeluar-kan zakatnya, sebanyak 2,5 % dari seluruh aset yang dimilikinya, setelah dikurangi dengan hutang-hutang yang membebaninya.

Akan tetapi hal itu tidak dapat disamakan dengan gedung-gedung yang disewakan kepada orang lain (termasuk perkantoran, hotel-hotel dan sebagainya). Gedung-gedung ini tidak untuk diperjualbelikan tetapi semata-mata dieksploitasi hasil yang diperoleh darinya. Karena-nya, wajib dikeluarkan zakatnya dari hasil sewanya, bukan dari harga gedung-gedung itu sendiri.

Dalam hal ini, gedung-gedung itu tidak dianalogikan dengan bangunan-bangunan dalam usaha real estate, melainkan dengan tanah pertanian yang digunakan untuk ditanami tanam-tanaman atau buah buahan. Maka zakatnya pun dihitung seperti menghitung zakat pertanian. Yaitu 10 % dari hasil “bersih” harga sewanya. Yang dimaksud dengan “bersih” adalah hasil kotor setelah dikurangi semua biaya yang telah dikeluarkan, termasuk biaya pemeliharaan dan penyusutan gedung, uang yang dipakai secara wajar untuk keperluan hidup si pemilik (jika ia tidak memiliki sumber penghasilan lain) dan sebagainya.

2. Zakat Hasil Industri

Usaha industri di masa kini, ada yang menggunakan alat-alat sederhana, seperti usaha-usaha kerajinan tradisional, dan ada pula yang menggunakan pelbagai peralatan besar, mahal dan canggih guna meng-hasilkan barang-barang hasil olahan, seperti pabrik pemintalan benang, tekstil, keramik, semen, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, harus dibedakan antara (1) perusahaan yang hanya menggunakan alat-alat sederhana, dan yang modal utamanya untuk membeli bahan-bahan pokok, membayar upah karyawan dan ongkos-ongkos, dengan (2) perusahaan yang modal utamanya untuk membeli alat-alat canggih yang amat mahal harganya.

Perusahaan-perusahaan jenis pertama, yang menggunakan alat alat produksi sangat sederhana, seperti mebel tradisional, batik tulis dan sebagainya; pengeluaran zakatnya termasuk dalam kategori Zakat Perdagangan. Yakni dengan cara menghitung saldo uang di kas dan simpanan di bank pada akhir tahun, ditambah persediaan bahan-bahan dan barang jadi, serta piutang yang lancar. Kemudian jumlah semua itu dikurangi dengan beban hutang yang harus dibayar, lalu dikeluarkan zakatnya sebanyak 2,5 % dari total jumlah aset yang tersisa.

Sedangkan perusahaan jenis kedua, adalah yang menggunakan banyak ‘modal tak bergerak’ berupa mesin-mesin canggih dan mahal, sehingga merupakan modal utama atau bagian terbesar dari modal perusahaan. Mesin-mesin itu tidak untuk diperjualbelikan, tetapi hanya untuk memproduksi barang-barang tertentu yang menghasilkan keuntungan bagi pemiliknya. Dalam hal ini, dapat disamakan dengan tanah untuk pertanian, yang juga tidak untuk diperjualbelikan, tetapi untuk ditanami tanaman atau buah-buahan yang menghasilkan ke-untungan.

Karenanya, zakat perusahaan-perusahaan besar seperti ini tidak dihitung dari harga mesin-mesin tersebut, tetapi dari hasil produksinya, sama seperti zakat pertanian. Yaitu dengan mengeluarkan 10 % dari nilai hasil bersih laba yang diperoleh. Atau total laba kotor selama setahun, dikurangi biaya-biaya produksi, termasuk nilai penyusutan mesin-mesin tersebut setiap tahunnya. Demikian pula pemakaian uang dari perusahaan selama setahun untuk keperluan hidup si pemilik dan keluarganya (jika tidak memiliki sumber penghasilan lain), dibebas-kan dari zakat.

Perbedaan persentase zakat berkaitan dengan kedua jenis per-usahaan di atas: 2,5 % dan 10 %, adalah karena yang pertama meng-gunakan seluruh modalnya untuk diputarkan, sehingga dianggap sebagai ‘harta yang tumbuh dan berkembang’, dan zakatnya pun dihitung dari hampir seluruh modal beserta laba yang diperoleh.           

Sedangkan pada jenis perusahaan kedua, sebagian besar dari modalnya digunakan untuk membeli alat-alat yang mahal tersebut, yang tidak dikenai kewajiban zakat karena tidak dianggap sebagai ‘harta yang tumbuh dan berkembang’, sehingga zakatnya pun tidak dihitung dari keseluruhan modal beserta labanya, tetapi dihitung dan dikeluarkan hanya dari hasil laba yang diperoleh saja.

3. Zakat Perusahaan Jasa Transportasi

Menghitung zakat pelbagai perusahaan jasa transportasi yang menggunakan pesawat terbang, kapal laut, bus, taksi dan sebagainya, sama saja seperti zakat pabrik-pabrik seperti tersebut di atas. Yaitu dengan mengeluarkan 10 % dari hasil bersih yang diperoleh. (Atau hasil kotor dikurangi semua biaya eksploitasi, termasuk juga biaya hidup si pemilik serta biaya penyusutan yang biasa dilakukan dalam dunia usaha seperti itu).[wkid/fiqihpraktis1/picture:99]


ARTIKEL TERKAIT

Fiqih Zakat (2): Aturan Umum

Fiqih Zakat (6): Zakat Profesi

Fiqih Zakat (1): Pengantar

Fiqih Zakat (3): Aturan Umum (2)

Fiqih Zakat (5): Zakat Perdagangan