Kembali pada Fitrah: Personal dan Kolektif

Tentang Artikel :

Iedul Fitri adalah momentum istimewa. Untuk evaluasi dan memompa motivasi diri ke arah perbaikan yang berkelanjutan. Evaluasi apakah kita sudah menjadi hamba Nya yang baik, apakah kita sudah menjalankan peran-peran kita di dunia ini dengan baik. Kurikulum Ramadhan semestinya dapat mendidik kita untuk kembali kepada jalur yang benar dimana seharusnya kita berperan dalam kehidupan. Kembali ke fitrah, baik secara personal maupun kolektif. Apabila kita dapat mewujudkannya, maka kita akan mendapatkan kenikmatan surgawi di dunia ini sebelum surga yang sesungguhnya di akhirat kelak.

Disarikan dari materi yang disampaikan oleh Prof Fathul Wahid, PhD. pada acara Halal Bihalal Alumni ITB '93, hari Senin/24 Mei 2021 secara daring

WAKOOL.ID-- Hidup ini selalu bergerak. Bahkan bergerak adalah salah satu tanda adanya kehidupan. Hidup kita bergerak bersama kendaraan waktu yang tak bisa dihentikan. Karena terus bergeraknya itu seringkali manusia lupa kalau dia terus bergerak. Sehingga manusia butuh momen-momen tertentu untuk memperlambat laju aktifitasnya untuk mengevaluasi diri untuk kemudian melaju lagi melakukan perbaikan-perbaikan dalam sikap maupun perbuatan. Sedemikian pentingnya melakukan ini sehingga antara lain Nabi Muhammad SAW pernah berpesan bahwa tafakur sesaat itu lebih utama dibanding ibadah setahun (dalam riwayat lain bahkan ada yang menyebut 60 bahkan 1000 tahun). 

Sehingga orang kemudian banyak memanfaatkan waktu-waktu tertentu sebagai momentum untuk evaluasi diri dalam rangka untuk melakukan perbaikan dan peningkatan-peningkatan. Salah satu momen tepat yang seringkali digunakan untuk melakukan itu adalah momen hari raya Iedul Fitri. Hal ini mengingat bagi orang Islam, ia adalah momen setelah masa "pelatihan" diri selama sebulan Ramadhan. Dimana silabus Ramadhan mengajarkan berbagai mata pelajaran baik yang bersifat ritual maupun sosial, personal maupun kolektif. Setelah semua kurikulum itu kita perlu mengevaluasi, adakah yang bertambah dari kebaikan pada diri kita? Rencana perbaikan apa yang akan kita lakukan setelah kita melewati sekolah Ramadhan? Salah satu prasyarat penting dari melakukan perbaikan itu adalah adanya keharmonisan hubungan kita dengan sesama manusia di sekitar kita. Oleh karena itu pada momen Iedul Fitri ini kita juga dianjurkan untuk saling bermaafan satu dengan lainnya. Diharapkan dengan saling memaafkan tersebut maka akan tercipta harmoni dan sinergi positif yang menciptakan berbagai lompatan perbaikan di tengah masyarakat. Di negeri kita, momen ini ditradisikan dan diberi nama dengan HALAL BI HALAL. 

Puasa sebagai Peneladanan Sifat Tuhan

Ibnu Arabi, salah satu ulama besar Islam abad ke-12 mengatakan bahwa ibadah puasa itu adalah ibadah yang unik. Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Puasa itu seperti meminta manusia untuk meneladani sifat Ketuhanan, yaitu tidak bergantung pada selain Nya (shamadiyah). Manusia yang biasa membutuhkan makan, minum dan berhubungan suami istri diminta untuk menahan diri selama puasa. Diharapkan dengan melepaskan keterikatan dengan materi, maka manusia dapat memiliki ketergantungan hanya kepada Allah SWT. Selama Ramadhan juga sangat dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, ini juga untuk melatih kita agar melepaskan keterikatan kita dengan harta. Melonggarkan ikatan cinta kita pada harta dapat memperkuat cinta dan kebergantungan kita pada Tuhan Yang Maha Cinta dan Dermawan. Sehingga dalam sebuah hadits Qudsy, Dia berfirman bahwa puasa ini untuk Ku, dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya.

Imam Ahmad ibn Athaillah dalam salah satu hikmah yang dimuat dalam masterpiece nya "Al-Hikam" mengungkapkan bahwa saat-saat terbaik yang kau miliki adalah ketika engkau menyadari betapa tergantungnya dirimu pada Allah, dan betapa lemah dan hinanya dirimu. Karenanya orang yang lulus dari bulan Ramadhan dengan sukses maka seharusnya dia akan mendapati momen-momen terbaiknya. Saat Iedul Fitri seharusnya akan menjadi saat-saat terbaiknya, karena walaupun masih butuh materi, tapi ia tak lagi terikat dengannya. Tempatnya bergantung hanyalah pada Allah SWT yang Maha Kasih dan Maha Sayang.

Puasa untuk Membentuk Ketaqwaan

Dalam ayat yang mewajibakan puasa, Allah menyebutkan bahwa orang beriman diperintahkan berpuasa agar dapat menjadi orang yang selalu bertaqwa. Taqwa itu mencakup dimensi spasial (dimanapun kamu berada, haitsu ma kunta), harus selalu dipegang sepanjang hidup (hatta ataakalyaqin), dan berbuah pada akhlaq yang baik kepada sesama manusia (apapun suku, agama, ras dan afiliasinya). 

Hal yang paling menantang adalah bagaimana untuk berada selalu pada kondisi taqwa ini secara konsisten. Berbuat baik sesekali itu mungkin tidak sulit, tapi selalu berbuat baik itu sangat sulit. Ketika seseorang sudah dapat bertaqwa secara konsisten (istiqamah) maka bagi orang tersebut tidak akan ada rasa khawatir dan sedih mengenai apapun yang dihadapinya dalam kehidupan. Dia akan merasa yakin bahwa Allah selalu melihatnya, tahu kondisi dan kebutuhan yang terbaik untuknya. Para malaikat akan diperintahkan untuk menjadi pelindung dan pembantunya untuk segala urusan-urusannya. 

Pertanyaannya: Sudahkah kita bertaqwa secara konsisten?

Puasa untuk kembali pada Fitrah Personal dan Kolektif

Dalam sebuah hadits yang terkenal diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Sehingga seorang yang mencapai akhir Ramadhan dengan sukses, maka Insya Allah ia akan diampuni dosa dan salahnya pada Allah sehingga apabila ia juga mendapatkan maaf dari sesama manusia maka ia akan keluar dari Ramadhan dalam keadaan suci seperti sewaktu ia dilahirkan dari kandungan ibunya. 

Fitrah personal tersebut diharapkan lebih lanjut dapat menghasilkan fitrah kolektif yang berdampak pada kehidupan sosial yang lebih luas untuk mencapai tujuan dari penciptaan manusia. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT bahwa manusia diciptakan bersuku, bangsa dan bahasa yang berbeda-beda untuk saling mengenal satu dengan lainnya. Manusia diminta untuk saling menasehati dalam kebaikan, kesabaran, dan kasih sayang. Mereka diminta untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, untuk membantu yang lemah, membebaskan yang terbelenggu, dan sebagainya. Juga sejumlah "jangan" yang dapat merusak fitrah penciptaan manusia. Seperti jangan saling tolong menolong dalam kejahatan dan permusuhan. Jangan mencari-cari kesalahan orang lain. Jangan memberi julukan yang buruk pada orang lain. Jangan memaki/mencela sesembahan atau yang dihormati oleh orang lain. dan seterusnya merupakan panduan agar kita bisa mencapai fitrah kolektif. Yang apabila ini dapat dicapai, maka kiranya kita akan dapat merasakan kehidupan surgawi yang tidak ada padanya kecuali kedamaian. Orang-orang yang merasakan kenikmatan surga juga hanya orang-orang yang hatinya damai.

Kita diciptakan oleh Allah SWT dengan karakteristik yang berbeda-beda. Masing-masing kita dapat berkontribusi dalam peran-perannya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Dengan peran masing-masing tersebut kita bisa bekerja sama untuk saling menguatkan, jangan menegasikan. Kita tidak perlu memainkan instrumen yang sama, tapi kita perlu dalam tangga nada yang sama. [wkid/itb93]


ARTIKEL TERKAIT