Mati dan Hidup adalah Karunia

Tentang Artikel :

Kematian seringkali dipersepsikan sebagai sesuatu yang menyeramkan dan menakutkan. Akibatnya ia bisa membuat salah sangka kepada yang memberikan kematian dan justru berusaha dilupakan. Bagaimana seharusnya kita menyikapi kematian dan kehidupan?

Dengarkan



WAKOOL.ID-- Belakangan ini hampir tiap hari kita selalu disuguhi dengan berita yang kurang mengenakkan mengenai orang-orang terdekat kita yang terlebih dahulu dipanggil oleh Tuhannya. Pandemi ini semakin menunjukkan eksistensinya belakangan ini dengan korban yang terus berjatuhan. Berita-berita kematian itu terus menghampiri dan membuat suasana hidup kita seperti mencekam. Kematian terus mendekat dan semakin mendekat. Setiap orang seperti sedang menunggu giliran, tanpa memiliki cukup kuasa untuk menolaknya. 

Benarkah sikap demikian menyangkut kematian? Apakah kematian itu memang sesuatu yang menakutkan? 

Mungkin cerita-cerita, buku-buku, dan ceramah-ceramah lebih banyak berbicara tentang kematian sebagai sesuatu yang menakutkan, menyeramkan sehingga kematian dipersepsikan sebagai sesuatu yang sangat menakutkan. 

Bagaimana Allah SWT ingin kita menyikapi kematian itu?

Dalam awal surat Al-Mulk, Allah SWT berfirman:

Maha berlimpah karunia (tabarak) Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Mulk: 1)

Allah SWT menyatakan bahwa sungguh sangat berlimpah tak terbatas karunia Nya. Dia yang di "genggaman" Nya segala kerajaan, ditambah lagi Dia juga Mahakuasa atas segala sesuatu. Ayat ini menjelaskan betapa Allah SWT itu memiliki karunia yang berlimpah ruah tak terbatas, dan Dia pun berkuasa atas segalanya, baik yang saat ini sudah ada (kerajaan-kerajaan), maupun yang saat ini belum ada. Virus yang saat ini sudah ada dan meneror manusia di seluruh dunia adalah anggota kerajaan yang berada di genggaman Nya. Demikian juga yang saat ini belum wujud, Allah Mahakuasa untuk mewujudkannya.

Kemudian pada ayat lanjutannya Allah menyebutkan diantara karunia Nya yang berlimpah:

(Dia Allah) Yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk: 2)

Karunia yang disebutkan oleh Sang Pelimpah Karunia itu adalah karunia KEMATIAN dan KEHIDUPAN. Kedua karunia tersebut diciptakan untuk menguji kita semua, siapa yang lebih baik amalnya. Jadi kematian bukanlah bencana, tapi sebagaimana kehidupan juga merupakan karunia Nya. Yang lebih penting adalah bagaimana menjadikan kedua karunia tersebut (kematian dan kehidupan) untuk berusaha berbuat yang sebaik-baiknya. Jangan khawatir kita punya Allah Yang Mahaperkasa tempat kita meminta pertolongan. Dan jangan khawatir pula kalau setelah kita berusaha yang sekuat kemampuan namun masih sering kalah dan gagal, karena Dia juga Maha Pengampun.

Jadi kematian itu --sebagaimana kehidupan-- adalah karunia Allah SWT yang perlu disyukuri dan disikapi dengan benar. Bukankah setiap hari ketika kita mau tidur, kita berucap "Dengan nama Mu ya Allah aku hidup dan dengan nama Mu pula aku mati"? Lalu ketika kita bangun dari tidur kita berucap "segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanku setelah kematian (tidur)ku....."? Setiap hari kita berucap yang mempersamakan tidur kita dengan mati. Bukankah tidur itu enak? Bukankah dengan tidur itu kita beristirahat untuk memulihkan tenaga apabila dihidupkan di pagi harinya? Jadi apakah kita takut akan mati? Aneh, karena setiap hari kita merasakan tidur! 

Dengarkan apa kata Allah lagi:

"Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir." (QS. Az-Zumar: 42)

Menurut ayat di atas, pada saat tidur maka nyawa kita "diambil" oleh Allah SWT. Ada sebagian dari kita yang masih diberikan kesempatan usia lebih panjang, maka Allah kembalikan nyawa itu ke jasad sampai waktu yang ditentukan. Sementara sebagian lagi nyawanya Dia tetap tahan, yang berarti hidupnya telah sampai pada ajalnya. Jadi kematian dan kehidupan adalah bagian dari keseharian kita. Bagian dari karunia Nya yang sama-sama harus disyukuri dan disikapi dengan baik untuk berbuat yang terbaik setiap saat. 

Malaikat Maut dan Sakaratul Maut

Hal lain menyangkut kematian yang sering dikesankan menyeramkan adalah malaikat maut dan momen sakaratul maut. Bahwa Malaikat Maut itu adalah sosok menyeramkan yang dingin dan tak punya empati. Dia akan mencabut nyawa dari setiap manusia yang telah sampai pada ajalnya, tak ada kompromi, dia akan mencabutnya dengan keras sehingga tak mampu ditahan oleh jasad yang dihuninya selama hidup. 

Bagaimana kata Al-Qur'an?

Dalam surat an-Nazi'at memang Allah mengatakan bahwa ada orang-orang yang dicabut nyawanya dengan keras. Tapi ayat selanjutnya menyatakan bahwa ada sebagian lain yang dicabut nyawanya dengan lemah lembut. 

Dalam surat Fushilat ayat 30-32, Allah berfirman:

30. Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka istiqamah dengannya, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”  

31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. 

32. Sebagai hidangan pembuka (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang

Sebagian tafsir menjelaskan bahwa peristiwa turunnya malaikat tersebut adalah pada saat-saat menjelang kematian seseorang yang istiqamah bertuhankan Allah. Maka pada orang-orang tersebut malaikat-malaikat akan turun untuk menenangkan dan memberi kabar gembira saat sakaratul mautnya. Para malaikat juga akan menenangkan orang saat menjelang ajalnya tersebut bahwa mereka akan menjadi pelindung dari apa-apa yang akan ditinggalkannya di dunia dan juga pada alam baru yang akan ditujunya. Karena mungkin seorang takut menghadapi kematian karena khawatir tentang nasib keluarga yang akan ditinggalkannya dan juga akan seperti nasibnya di alam baru yang segera dia akan masuki. Malaikat menenangkannya bahwa di alam baru yang akan kamu tuju itu engkau akan mendapat apa yang kamu minta. Semuanya itu akan disajikan sebagai hidangan pembukaan bagi manusia hamba Allah yang istiqamah itu dari Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Penafsiran ini juga dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan melalui Sayyidah Aisyah ra yang menjelaskan bagaimana kondisi ketika penjemputan ruh mu'min oleh malaikat maut.  Malaikat maut duduk disamping kepala sang mu'min yang mau meninggal tersebut dan berkata: "Wahai jiwa yang baik --dalam riwayat lain jiwa yang tenang-- keluarlah menuju Ampunan Allah dan keridhaannya.". Lalu Ruhnya keluar bagaikan cucuran air dari tempatnya. Kemudian ruh itu dibawa oleh malaikat maut dengan penuh kasih sayang seperti layaknya seorang perawat membawa bayi yang baru lahir dengan hati-hati dan kasih sayang. 

Ruh sang mukmin itu menebar wangi semerbak yang memenuhi langit. Sehingga malaikat di langit bertanya-tanya darimana asalnya harum tersebut. Kemudian dijawab bahwa harum tersebut berasal dari ruh dari Fulan bin Fulan, dengan menyebut nama terbaiknya sewaktu di dunia. Hingga akhirnya ruh ini mengalami perjalanan terus hingga pada tempatnya yang telah disiapkan di alam yang disebut dengan alam Barzakh.

Ketika sampai di barzakh, ruh-ruh orang yang beriman akan menyambut ruh yang baru meninggal tersebut, seperti seorang perindu yang lama tidak bertemu orang yang dikasihinya. Lalu ketika bertemu, ruh-ruh orang yang beriman tadi berebut bertanya tentang kabar di dunia. Bagaimana kabar si fulan? Bagaimana si fulanah? Sampai malaikat yang mengantarnya berkata: "Ssssttt....jangan ganggu dia dulu. Dia baru istirahat dari kelelahan dunia, jangan ganggu dia dulu, dia masih lelah." 

Allahu Akbar...Kemana cerita ini? Kenapa malaikat maut itu disebut selalu sebagai sesuatu yang menyeramkan dan menakutkan?

Bukankah Allah SWT dalam al-Qur'an juga menyatakan bahwa orang yang wafat syahid di jalan Allah itu sebenarnya tidak mati, melainkan hidup dan mendapatkan rezeki di sisi Tuhannya?

"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki," (QS. Ali Imran: 169)

Kita berharap dan meyakini bahwa Insya Allah saudara-saudara kita yang meninggal terlebih dahulu dalam pandemi ini adalah meninggal dalam keadaan syahid. Seperti pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada istri beliau mengenai pandemi (tho'un) yang pernah terjadi dulu.

“Dari Aisyah ra, istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tho'un. Rasulullah lalu menjawab: Sesungguhnya wabah tho'un (penyakit menular dan mematikan) itu adalah ujian yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman. Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi tho'un lalu tetap tinggal di sana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala disisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid" (HR Al-Bukhari).

MATI adalah PERJUMPAAN

Terdapat beberapa terminologi yang digunakan Al-Qur'an untuk menyebut kematian. Salah satu yang digunakan adalah "Liqa'" yang berarti perjumpaan. Seperti antara lain disebutkan dalam penghujung Surat Al-Kahfi:

"....Maka barangsiapa mengharap PERJUMPAAN dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Mempersamakan mati dengan kata perjumpaan dengan Allah Yang Sangat Mencintai kita itu merupakan keindahan yang luar biasa. Bagaimana ia bisa menjadi sesuatu yang menyeramkan? Adakah yang lebih mencintai kita dibandingkan Allah SWT?

Diriwayatkan pada saat Nabi Ibrahim as yang dikenal dengan kekasih Allah (khaliluLlah) itu sesaat sebelum diambil nyawanya terjadi dialog dengan malaikat maut. 

Nabi Ibrahim bertanya pada Izrail apakah masih ada kesempatan aku mengajukan satu pertanyaan? Izrail menjawab masih ada waktu. 

Kemudian Nabi Ibrahim as kemudian meminta agar malaikat menyampaikan sebuah pertanyaan terakhir kepada Allah. Ibrahim as menitip pertanyaan: "Apakah ada kekasih yang tega mengambil nyawa kekasihnya?"

Malaikat maut pun menyampaikan pertanyaan Ibrahim as itu pada Allah dan kemudian Allah menjawab: 

"Apakah ada kekasih yang menolak untuk berjumpa dengan kekasihnya?"

Allahu Akbar! 

Nabi kita tercinta SAW, Sang Habibballah, makhluq yang paling dicintai Allah, di ujung hayatnya memandang langit-langit rumah beliau sambil berucap: "ila rafiqil-a'la". Menuju ke teman yang Maha Tinggi. Dan beliau pun pergi berjumpa dengan teman yang beliau cintai dan mencintainya. Sang Maha Cinta Kasih. Inna liLLahi wa inna ilaiHi raji'un.

Kematian adalah satu-satunya jalan yang mengantarkan kekasih untuk berjumpa dengan Maha Kekasihnya.

Mati dan Hidup adalah Karunia.

Maka manfaatkan karunia hidup dengan berbuat yang terbaik.

Sebagai bekal,

kapanpun kita akan mendapat karunia kematian,

dipanggil untuk berjumpa dengan Sang Pemberi Karunia,

Dengan penuh ketenangan dan kerelaan. 

Ila rafiqil-a'la

[wkid/picture:anim]


ARTIKEL TERKAIT

Tafsir Surat Yasin (Bagian 1)

Bersemangat dan Bersegera

Standar Ganda

JANGAN MARAH