Selamatkan Bumi Dengan Beralih Ke Ebook

Tentang Artikel :

Bumi sudah semakin tua. Sudah selayaknya manusia sebagai penghuni harus menjaganya. Meskipun terkesan sepele, mengganti buku fisik dengan buku digital ternyata memeiliki dampak yang besar untuk menyelamatkan bumi, lho.


WAKOOL.ID - Pemikiran adalah sebuah proses mental manusia menciptakan model konseptual tentang dunia dalam rangka menempuh hidup secara efektif dan sesuai dengan tujuan dan keinginan. Pemikiran tercipta dari proses berfikir dan belajar yang sangat panjang. Manifestasi pemikiran setiap manusia dari masa ke masa merupakan sumbangan peradaban manusia di bumi. Namun, eksistensi pemikiran seseorang akan bisa tetap bermanfaat untuk kehidupan kedepannya apabila diabadikan. Cara terbaik dalam mengabadikan sebuah pemikiran yakni melalui tulisan. Hal ini sesuai petuah Pramoedya Ananta Toer yang berbunyi “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Dengan demikian, lahirnya sebuah pemikiran tidak akan ada artinya jika tanpa menulis

Menulis pada hakikatnya adalah alat yang mewakili pikiran penulis dengan mengungkapkan hasil pemikirannya, sehingga di dalam proses menulis pasti tidak terlepas dari berpikir atau bernalar. Berpikir merupakan kegiatan memproses atau mengolah data menggunakan otak, fisik, dan psikis. Dalam menulis, seseorang harus bisa menuangkan hasil berfikirnya baik itu berupa ide, gagasan atau pendapat melalui media bahasa dalam paragraf atau karangan.

Menulis merupakan proses kognitif yang sangat sulit. Keterampilan menulis lebih sulit dibandingkan dengan keterampilan berbahasa lainnya seperti berbicara, membaca dan mendengarkan. Hal ini dikarenakan, keterampilan berbahasa dalam menulis menuntut penguasaan berbagai aspek lain diluar bahasa untuk menghasilkan karangan yang padu dan utuh. Namun kegiatan menulis ini tetap harus dilakukan oleh setiap orang baik ia seorang penulis ataupun bukan. Karena hanya dengan menulislah, semuanya akan menjadi bukti bahwa seseorang telah ikut memberikan sesuatu (pemikiran) bagi peradaban manusia. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Tentu setiap dari kita tidak menginginkan hidup di dunia ini hanya sekedar hidup tanpa bermanfaat bagi orang lain.

Titon Rahmawan pernah berkata “Pada akhirnya, menulis itu adalah menemukan kembali apa yang pernah hilang, menghadirkan kembali apa yang sempat pergi, menggali apa yang sebelumnya terkubur, dan menghidupkan kembali apa yang semula mati.” Hari ini kita bisa merasakan hasil buah pemikiran tokoh-tokoh besar masa lalu yang bahkan hidupnya sangat jauh dari kehidupan kita, tetapi pemikirannya masih diaplikasikan sampai saat ini bahkan menjadi rujukan solusi dalam kehidupan. Sebut saja Aristoteles, Imam Al Ghazali, Seorkarno, Soehatta, Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara dan masih banyak lagi.

Ki Hadjar Dewantara  merupakan salah satu tokoh yang hasil pemikirannya mempengaruhi dunia pendidikan di Indonesia sampai saat ini. Sistem pugoron yang merupakan suatu sistem pendidikan nasional yang berorientasi pada nilai-nilai kultural, hidup kebangsaan serta kemasyarakatan Indonesia adalah hasil buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Gagasan ini mencakup tri pusat pendidikan, yaitu sebagai tempat guru, sebagai tempat belajar, dan sebagai tempat pendidikan dalam masyarakat. Dan wujud nyata dari hasil pemikiran Ki Hadjar Dewantara ini yakni SMA Taruna Nusantara. Sekolah ini menggunakan asrama sebagai sistem pendidikannya, yang mana semua tinggal bersama-sama satu kompleks dengan para guru, pamong, dan pengurus sekolah, membentuk suatu masyarakat kekeluargaan dalam kebersamaan yang tinggi.

Sudah tidak ada alasan lagi bagi setiap orang untuk tidak menulis karena pasti semua orang pernah berfikir menggunakan akalnya. Dengan kita menulis, kita bisa mencatat atau mendokumentasikan setiap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi saat kita hidup dan hal tersebut akan menjadi investasi ilmu di masa depan. Pada akhirnya, menulis memang membutuhkan sebuah perjuangan untuk kehidupan yang akan dikenang. [wkid/]

 


Referensi
Suparlan H. 2015. FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DAN SUMBANGANNYA BAGI PENDIDIKAN INDONESIA. Jurnal Filsafat. 25(1): 57-74


ARTIKEL TERKAIT