Mereka Telah Berdusta: Mukadimah Tafsir Surat Al-Kahfi (2)

Tentang Artikel :

Banyak sekali pesan yang dapat kita ambil dari Surat Al-Kahfi yang indah ini. Pesan-pesan tersebut dibuka dengan sangat indah dalam ayat-ayat awalnya. Mari kita simak.


WAKOOL.ID—Banyak sekali pesan yang dapat kita ambil dari Surat Al-Kahfi yang indah ini. Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas pendahuluan Surat Al-Kahfi. Surat Al-Kahfi ini begitu banyak mengandung pesan penting yang berguna bagi kita. Di antara pokok kandungan surat Al-Kahfi adalah:

  1. Menjelaskan tentang kekuasaan Allah, yang dapat memberi daya hidup kepada siapapun yang dikehendaki-Nya walaupun di luar hukum kebiasaan;
  2. Menjelaskan tentang dasar-dasar tauhid dan keadilan Allah;
  3. Menjelaskan tentang tugas Rasul
  4. Menjelaskan tentang kepastian akan datangnya hari kebangkitan;
  5. Menjelaskan tentang dasar hukum seperti wakalah;
  6. Menjelaskan tentang membangun tempat ibadah di atas kuburan;
  7. Menjelaskan pertimbangan maslahat dan mudharat dalam melakukan suatu tindakan;
  8. Menceritakan tentang bagaimana bersikap terhadap orang mukmin dan kafir;
  9. Menceritakan tentang kisah ashabul Kahfi, pemilik kebun, Nabi Khidhir dan Musa as, Dzul Qurnain dengan Ya’juj Ma’juj;
  10. Menjelaskan adab-adab murid kepada gurunya;
  11. Menjelaskan teladan penguasa dalam mencari dan menjalankan kekuasaannya.
  12. Dan banyak hal penting lainnya.

Pesan-pesan penting yang akan dijelaskan di Surat Al-Kahfi seperti diantaranya disebutkan diatas itu  dijelaskan dengan mukadimah delapan ayat pertama dari surat ini. Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas ayat pertamanya. Mari kita lanjutkan dengan ayat-ayat pembuka berikutnya. BismiLLahirrahmanirrahim.

Ayat 2-5

قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا مِّنْ لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا حَسَنًاۙ

sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih dari sisi-Nya dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik, (QS. Al-Kahfi: 2)

Allah SWT menerangkan bahwa Al-Qur’an itu lurus, sesuai fitrah, yang berarti tidak cenderung untuk berlebih-lebihan dalam memuat peraturan-peraturan, sehingga memberatkan para hamba-Nya. Tetapi juga tidak terlalu singkat sehingga tidak dapat membentuk manusia menjadi hamba Nya dan khalifah Nya di muka bumi ini.

Kitab al-Qur’an yang sempurna dan sesuai dengan fitrah manusia itu berisi peringatan dan kabar gembira. Kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa mereka akan mendapatkan balasan yang baik pula. Mereka akan kekal dalam kenikmatan kebahagiaan yang abadi.

مَّاكِثِيْنَ فِيْهِ اَبَدًاۙ

mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. (QS. Al-Kahfi: 3)

وَّيُنْذِرَ الَّذِيْنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًاۖ

Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.” (QS. Al-Kahfi: 4)

Dalam ayat ini Allah kembali menyebutkan tugas Rasulullah SAW untuk memberikan peringatan kepada kaum kafir. Karena kekufuran mereka dipandang perkara besar oleh Allah, terutama orang-orang kafir yang mengatakan Allah itu mempunyai atau mengambil anak. Mereka telah melekatkan sifat makhluq kepada sang Khaliq. Sebuah kesalahan yang sangat fatal.

Mereka yang dirujuk saat itu menurut sebagian mufassir terbagi menjadi tiga golongan, yaitu: pertama, golongan musyrikin Mekah (Arab) yang mengatakan bahwa malaikat-malaikat itu putri Tuhan; kedua, golongan orang Yahudi yang mengatakan bahwa Uzair putra Tuhan; dan ketiga, golongan orang Nasrani yang mengatakan bahwa Isa putra Tuhan. Namun bisa jadi ayat ini berlaku kepada siapapun yang melakukan kesalahan seperti itu sepanjang zaman.

Al-Qur’an diturunkan ke dunia untuk mengembalikan kepercayaan umat manusia kepada tauhid yang sebenar-benarnya. Banyak ayat-ayat yang mengancam berbagai kepercayaan kepada selain Allah yang dianggap sebagai keyakinan yang sangat keliru.

Firman Allah swt:

Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. at-Taubah: 30)

مَّا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ وَّلَا لِاٰبَاۤىِٕهِمْۗ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۗ اِنْ يَّقُوْلُوْنَ اِلَّا كَذِبًا

Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka. (QS. Al-Kahfi: 5)

Mereka itu mengatakan hal tersebut tanpa dasar pengetahuan dan argumentasi yang jelas. Demikian juga nenek-moyang mereka yang mereka rujuk (mereka menganggap kepercayaannya sebagai agama nenek moyang mereka).

Kelancangan mereka mengucapkan kalimat kufur itu ditegaskan Allah sebagai sebuah kebohongan, yang tidak mengandung kebenaran. Allah swt mengingatkan Rasul untuk memerintahkan kepada umatnya supaya kembali kepada agama tauhid, sebagaimana yang diajarkan Al-Qur’an.

Firman Allah:

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 64)

Mereka telah berdusta! [wkid]


ARTIKEL TERKAIT