Belajar dari Kisah Zakaria as: Tafsir Surat Maryam

Tentang Artikel :

Kisah Zakaria as merupakan kisah penuh hikmah yang mengawali Surat Maryam. Kisah ini mengajarkan bagaimana berdoa, bagaimana untuk selalu berharap pada Allah betapapun kondisi kita. Dan masih banyak pesan-pesan penting lain yang dapat kita ambil. Mari kita pelajari bersama.


WAKOOL.ID—Surat Maryam adalah surat ke-19 dalam Al Qur’an. Surat ini terdiri dari 98 ayat dan termasuk golongan surat-surat Makkiyah karena hampir seluruh ayatnya diturunkan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, bahkan sebelum para sahabat hijrah ke negeri Habasyah.

Menurut riwayat Ibnu Mas’ud, Ja’far bin Abi Thalib ra membacakan awal dari Surat Maryam ini kepada Raja Najasyi dan pengikut-pengikutnya di waktu Ja’far ikut hijrah bersama-sama sahabat-sahabat yang lain ke negeri Habasyah.

Surat ini dinamai Maryam, karena didalamnya mengandung kisah Maryam binti Imran (atau Maria dalam agama Kristen), ibu dari Nabi Isa AS. Surat ini mengisahkan tentang Mukjizat kelahiran yang ajaib, dimana Maryam mengandung dan melahirkan putranya, sedang ia sebelumnya belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki sekalipun. Hal itu diceritakan dalam surat maryam ayat 19 sampai 25.

Kelahiran Isa AS tanpa ayah, merupakan suatu bukti kekuasaan Allah SWT. Penjelasan kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam Surat ini, juga diawali dengan kisah kejadian ajaib lainnya. Yaitu dikabulkannya doa nabi Zakaria As oleh Allah, di mana sejak lama ia ingin dianugerahi seorang putra sebagai pewaris dan penerusnya, sedang usianya sudah sangat tua dan istrinya adalah wanita yang mandul. Kisah nabi Zakaria as yang disebutkan pertama kali pada Surat Maryam ini yang akan dipaparkan hikmah-hikmahnya pada tulisan ini.

Mengingat-ingat Rahmat Allah

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهٗ زَكَرِيَّا ۚ

Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria (QS. Maryam: 2)

Kita diminta untuk mengingat dan memelajari bagaimana rahmat Allah diturunkan kepada hamba Nya Zakaria as. Selain sebagai pelajaran mengenai bagaimana kedudukan Zakaria as di hadapan Allah SWT, juga yang mungkin lebih penting adalah kita dapat memelajari apa yang dilakukan oleh Zakaria as sehingga dapat memperoleh rahmat pula dari Allah SWT. Sehingga kita dapat meneladani beliau supaya turun rahmat dari Allah SWT pada kita.

Selain itu ayat ini juga memberi pesan agar kita sering-sering mengingat betapa banyak kasih sayang dan nikmat yang Allah limpahkan kepada kita selama ini.

Adab Berdoa

اِذْ نَادٰى رَبَّهٗ نِدَاۤءً خَفِيًّا

(yaitu) ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. (QS. Maryam: 3)

Nabi Zakaria as berdoa kepada Allah SWT dengan menyeru Nya dengan lemah lembut. Pada umumnya seseorang ketika menyeru adalah dengan suara yang lantang supaya terdengar pada lawan komunikasi yang ditujunya. Tapi disini Zakaria as berkomunikasi dengan Allah dengan seruan tapi lemah lembut. Sebagian mufassir berpendapat bahwa yang dimaksud disini adalah ketika berdoa hendaklah kita dilakukan dengan keseriusan dan konsentrasi yang kuat untuk meminta seperti mendesak pada Allah SWT, namun disampaikan dengan penuh rasa kelemahan, kesopanan dan ketakberdayaan. Ada juga yang menafsirkannya adab berdoa tidak keras dan tidak juga sampai tidak terdengar suara. Sebagian mufassir lagi berpendapat bahwa Zakaria as berdoa dengan suara yang lembut karena yang diminta itu sesuatu yang bersifat pribadi dan mungkin agak memalukan jika terdengar oleh orang lain. Wallahu a’lam.

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيْ وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَّلَمْ اَكُنْۢ بِدُعَاۤىِٕكَ رَبِّ شَقِيًّا

Dia (Zakaria) berkata, “Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, Tuhanku. (QS. Maryam: 4)

Nabi Zakaria as ketika berdoa merasa dekat dengan Allah SWT. Hal in seperti ditunjukkan dengan panggilan kepada Allah tanpa menggunakan kata “Yaa” (Wahai) yang mengindikasikan memanggil sesuatu yang jauh. Tapi Zakaria as (dan begitu juga doa nabi-nabi lain yang dicontohkan dalam al-Qur’an) langsung memanggil dengan “Rabbi inni….” Bukan “Yaa Rabbi…”.

Dalam berdoa, Nabi Zakaria mengemukakan kelemahan-kelemahan yang dimilikinya, namun beliau merasa tidak pernah dikecewakan oleh Allah dengan doa-doanya selama ini. Ini juga merupakan salah satu adab berdoa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk memulai doa-doa kita dengan menyampaikan puji syukur pada Allah yang telah menganugerahkan berbagai karunia pada kita. Walaupun sudah banyak diberi itu, tetapi kita masih punya permintaan yaitu yang akan kita sampaikan dalam doa-doa kita selanjutnya.

Zakaria as belum diberikan keturunan walaupun sudah berdoa sekitar 40-50 tahun pada Allah SWT. Tapi walaupun demikian, Zakaria as sama sekali tidak kecewa apalagi putus asa terhadap Rahmat Allah. Beliau yakin bahwa apa yang diberikan kepadanya oleh Allah adalah yang terbaik untuk beliau. Sehingga dengannya beliau tetap bersyukur, alih-alih kecewa.

Runutan Kisah di Surat Ali Imran

Untuk mendapatkan hikmah lebih banyak lagi, kita perlu menengok sedikit ke belakang dengan menyimak cerita sebelumnya tentang kelahiran Siti Maryam as yang dikisahkan al-Qur’an pada surat Ali Imran.  Dimana keluarga Imran adalah salah satu keluarga yang dipilih oleh Allah melebihi yang lain di seluruh umat lain pada zamannya.

اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing)” (QS. Ali Imran: 33).

Imran dan istrinya Hannah dikisahkan tidak memiliki keturunan hingga usia yang cukup lanjut. Sehingga ketika akhirnya Hannah dikaruniai anak dalam kandungannya, maka beliau bernazar kepada Allah bahwa anak yang dikandungnya ini kelak akan diserahkan kepada Allah (mengabdi sepenuhnya pada Allah SWT).

اِذْ قَالَتِ امْرَاَتُ عِمْرَانَ رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ ۚ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 35)

Hannah berharap anak yang dalam kandungannya itu adalah seorang lelaki sehingga bisa mengabdi ke rumah Allah, karena kalau perempuan pada masa itu tidak wajar mengabdi ke rumah Allah. Namun demikian ketika melahirkan ternyata anaknya tersebut perempuan. Sehingga kemudian Hannah mengadu lagi pada Allah. Lalu Allah menjawab bahwa anak perempuan yang kamu dapatkan ini jauh lebih baik dari lelaki yang kamu harapkan.

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ اِنِّيْ وَضَعْتُهَآ اُنْثٰىۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْۗ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْاُنْثٰى ۚ وَاِنِّيْ سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَاِنِّيْٓ اُعِيْذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

Maka ketika melahirkannya, dia berkata, “Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. ”Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran: 36)

Sehingga kemudian Hannah memberi nama pada anaknya Maryam yang berarti perempuan yang taat beribadah. Ibunya yang memberi nama karena Imran sudah meninggal ketika Maryam masih dalam kandungan Hannah. Lalu Hannah berdoa meminta perlindungan pada Allah untuk anaknya tersebut berikut keturunannya dari gangguan setan yang terkutuk.

Dari kisah ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting untuk orang yang akan memiliki anak, antara lain:

  • Anak perempuan dan laki-laki sama saja. Apa yang diberikan oleh Allah maka itulah yang terbaik.
  • Sebaiknya canangkan niat sejak anak dalam kandungan mengenai akan menjadi apa anak tersebut.
  • Memberi nama anak sesuai dengan niat kita untuk anak tersebut.
  • Mendoakan anak berikut keturunannya agar terlindung dari godaan setan

Mengingat Siti Maryam sudah tidak memiliki ayah lagi, maka ibu Maryam menitipkan pendidikannya kepada Zakaria as (ipar dari Hannah) yang merupakan orang pandai dan saleh di masa tersebut. Ibu Maryam juga membuat mihrab (tempat ibadah) di rumahnya agar Maryam dapat beribadah disana seperti niat/nazar yang direncanakannya sejak maryam masih berada di kandungan. Ini juga pelajaran berharga bagi kita untuk memberikan kepada anak tempat belajar dan guru pembimbing yang baik sesuai dengan niat baik yang telah dicanangkan.

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُوْلٍ حَسَنٍ وَّاَنْۢبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًاۖ وَّكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۗ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَۙ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۚ قَالَ يٰمَرْيَمُ اَنّٰى لَكِ هٰذَا ۗ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. (QS. Ali Imran: 37)

Ada kejadian aneh yang dihadapi oleh Zakaria as dalam pengasuhan beliau pada Maryam as. Yaitu bahwa Maryam as selalu mendapatkan makanan dan minuman di mihrabnya padahal Zakaria as baru mau mengantarkannya. Nabi Zakaria tentu mengetahui bahwa Maryam as dipilih oleh Allah untuk mendapatkan rezeki tersebut. Tapi Zakaria as bertanya kepada Maryam as tentang darimana ia mendapatkan rezeki-rezeki tersebut agar supaya Zakaria dapat mengikutinya sehingga dapat terpilih pula untuk mendapatkan rezeki dari Allah SWT.

Maka kemudian Zakaria as pun meniru apa yang dilakukan oleh Maryam yaitu dengan berdoa pada Allah di mihrab.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهٗ ۚ قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)

…disanalah kemudian Zakaria as berdoa kepada Tuhannya. Yaitu doa yang telah beliau panjatkan sekian lama untuk mendapatkan keturunan yang baik dari sisi Allah SWT.

Kembali lagi ke surat Maryam

Zakaria berdoa kepada Allah sesuatu yang kalau melihat kondisinya saat itu dapat dikatakan mustahil menurut kebiasaan. Karena bagaimana seseorang akan dapat memiliki keturunan sedangkan lelakinya sudah lemah fisiknya dan wanitanya sudah mandul (atau menopause).

Namun Zakaria as mengenal Tuhannya memiliki sifat Maha Pemberi tanpa batas (al-Wahhab). Maka dengan menyebut namanya tersebut, Zakariyya berdoa:

فَهَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّا

“….maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu” (QS. Maryam: 5)

قَالَ رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

“Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38)

Kata “hab” merupakan potongan dari “wahhab” yaitu memohon kepada Dzat yang Maha Pemberi tanpa batas. Bahwa pemberian Nya tanpa batas sehingga tidak ada yang mustahil bagi Nya jika Dia berkehendak.

Maka segera (tidak lama berselang) setelah beliau berdoa di mihrab tersebut, dikisahkan bahwa Allah memerintahkan pada malaikat Nya untuk memberikan kabar gembira kepada Zakariyya as sedangkan beliau masih berdiri sholat di mihrab tersebut.

فَنَادَتْهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَهُوَ قَاۤىِٕمٌ يُّصَلِّيْ فِى الْمِحْرَابِۙ اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًاۢ بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.” (QS. Ali Imran: 39)

يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ِۨاسْمُهٗ يَحْيٰىۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

(Allah berfirman), “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.” (QS. Maryam: 7)

Bahwa Allah akan mengaruniakan kepadanya seorang anak yang diberi nama Yahya oleh Allah SWT. Nama anak ini unik, belum ada orang yang memiliki nama seperti itu sebelumnya. Bukan hanya diberikan anak dalam kondisi mustahil menurut kebiasaan, tapi Allah juga mengabarkan bahwa anaknya ini nantinya akan menjadi nabi diantara orang-orang saleh.

Kabar gembira yang luar biasa tersebut tentunya sangat membahagiakan Zakaria as. Namun beliau sempat mengklarifikasi kabar tersebut mengingat kondisi beliau dan istrinya saat itu.

قَالَ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ غُلٰمٌ وَّكَانَتِ امْرَاَتِيْ عَاقِرًا وَّقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

Dia (Zakaria) berkata, “Tuhanku, bagaimana aku akan mempunyai anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai usia yang sangat tua?” (QS. Maryam: 8)

Namun Allah mengingatkan bahwa bagi Allah semuanya mudah jika Dia kehendaki. Dan Allah mengingatkan Zakaria as tentang penciptaan manusia yang sebelumnya tidak berwujud. Jadi jangankan menciptakan anak dari ayah yang sudah tua dan ibu yang mandul, bahkan manusia pertama (adam as) diciptakan oleh Allah tanpa ayah dan ibu.

قَالَ كَذٰلِكَۗ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَّقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْـًٔا

(Allah) berfirman, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal (pada waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali.” (QS. Maryam: 9)

Mengingat karunia yang Allah berikan padanya adalah sesuatu yang diluar kebiasaan (mustahil menurut kebiasaan), maka Zakaria as memohon petunjuk lagi pada Allah mengenai kapan waktunya karunia istrinya akan mengandung anak tersebut.

قَالَ رَبِّ اجْعَلْ لِّيْٓ اٰيَةً ۗقَالَ اٰيَتُكَ اَلَّا تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلٰثَ لَيَالٍ سَوِيًّا

Dia (Zakaria) berkata, “Tuhanku, berilah aku suatu tanda.” (Allah) berfirman, “Tandamu ialah engkau tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, padahal engkau sehat.” (QS. Maryam: 10)

Maka Allah memberikan petunjuk bahwa tandanya adalah Zakaria as akan tiba-tiba tidak dapat berbicara kepada manusia selama 3 malam berturut-turut padahal Zakaria dalam keadaan sehat afiat tanpa kurang suatu apa.

Maka tak lama berselang Zakaria as keluar dari mihrabnya untuk bertemu dengan orang-orang. Ternyata saat itu beliau tidak dapat berkata-kata apa-apa kepada manusia. Melainkan hanya dapat memberikan isyarat untuk selalu mensucikan Allah setiap saat.

فَخَرَجَ عَلٰى قَوْمِهٖ مِنَ الْمِحْرَابِ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ اَنْ سَبِّحُوْا بُكْرَةً وَّعَشِيًّا

Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia memberi isyarat kepada mereka; bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang. (QS. Maryam: 11)

Hal ini juga dapat memberikan pesan pada kita bahwa diam pada manusia sembari terus berzikir pada Allah merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan karunia yang luar biasa dari Allah. Tidak selalu yang dikatakan oleh orang-orang harus kita respon dengan kata-kata pula. Kisah Zakaria as ini memberikan pesan bahwa diam sambil terus mengingat dan mengingatkan orang untuk selalu mengingat Allah merupakan respon yang baik atas karunia yang diberikan Allah pada kita.

Disamping itu bertasbih atau mensucikan Allah SWT juga dianjurkan untuk banyak diucapkan ketika kita mendapatkan nikmat yang luar biasa. Seperti ketika Rasulullah SAW mendapat karunia Fathu Makkah, maka Allah SWT memerintahkan untuk menyucikan Nya, memuji Nya, dan meminta ampun pada Nya. Fa sabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu.

Demikianlah sekelumit kisah ajaib terkait Zakaria as yang dikisahkan oleh Al-Qur’an. Kisahnya kemudian akan berlanjut kepada kisah anaknya yang juga penuh dengan hikmah. Insya Allah kita akan lanjutkan pada tulisan selanjutnya. Semoga Allah menurunkan RahmatNya padada kita. Aamiin YRA. [wkid]