Digitalisasi Layanan Pemerintah, Antara Kecepatan versus Keamanan

Tentang Artikel :

Tuntutan zaman yang begitu lincah dan cepat berubah menuntut pula perubahan pada berbagai sektor. Tak terkecuali sektor layanan pemerintah. Kalau tidak, maka pemerintah akan justru dapat menghambat pertumbuhan kemajuan bangsa, alih-alih mendorong. Pada posisi ini peran Teknologi Informasi sangat dibutuhkan, namun di sisi lain ia juga dapat menimbulkan risiko yang tidak kecil juga. Lalu bagaimana seharusnya bersikap?


WAKOOL.ID – Zaman dimana saat ini kita berada dan yang ada di depan kita semua adalah zaman perubahan eksponensial. Bisnis zaman ini dan masa depan bertumpu pada tiga faktor utama: kecepatan dan kelincahan, inovasi, serta customer experiences. Segala sesuatu dapat berubah di luar yang direncanakan sebelumnya dan dengan perubahan yang sangat cepat. Sehingga semua pihak juga mesti siap untuk menghadapi dinamika yang dapat terjadi dengan begitu cepat tersebut. Hal yang seringkali menghambat bisnis di negeri kita ini antara lain adalah berbelitnya layanan perizinan, tumpang-tindihnya peraturan dan masih rendahnya tingkat layanan aparat pemerintah. Kondisi tersebut sangat menyulitkan dunia usaha di negeri kita untuk bisa hidup dan berkembang di era yang serba dinamis seperti sekarang ini dan masa depan.

Peran Teknologi Informasi dan Aspek yang Harus Diperhatikan

Dalam hal ini peran Teknologi Informasi (TI) menjadi sangat strategis. Digitalisasi layanan menjanjikan kecepatan dan kemudahan dalam melakukan proses-proses yang tadinya berbelit-belit, lama dan banyak keterbatasan karena banyak berurusan dengan orang dan proses manual. Namun demikian TI tidak dapat begitu saja dibeli, dipasang dan jalan sendiri. Tapi terdapat sejumlah aspek lain yang mesti diperhatikan agar manfaat yang diharapkan itu bisa direalisasikan seperti diharapkan. COBIT 2019 mendefinisikan bahwa ada 7 komponen yang harus diperhatikan dalam sebuah sistem tata kelola itu, yaitu:

1. Proses

Penerapan TI tanpa melakukan penyesuaian proses bisnis akan membuat TI tidak dapat memberikan manfaat yang seharusnya, bahkan berpotensi besar berujung kegagalan.  

2. Struktur Organisasi

Struktur organisasi merupakan mesin yang menjalankan proses-proses. Sehingga ketika proses dibenahi, maka struktur organisasi juga mesti disesuaikan. Perubahan bisa dalam bentuk perampingan organisasi, perubahan formasi, perubahan tupoksi (job desc), dan sebagainya.

Komponen Tata Kelola TI

[Baca juga: VIDEO: Komponen Pembentuk Sistem Tata Kelola TI]

3. Prinsip-prinsip, kebijakan, dan kerangka kerja

Keberhasilan penerapan TI juga perlu didukung oleh prinsip-prinsip, kebijakan dan kerangka kerja yang sesuai dengan perubahan yang dilakukan dengan menggunakan TI. Hal ini yang akan menjadi pedoman praktis dalam operasional sehari-hari.

4. Informasi

Pemanfaatan TI yang semakin intensif juga menyebabkan membanjirnya informasi yang dihasilkan. Tanpa pengelolaan informasi yang baik, maka implementasi sistem TI dapat justru jadi bencana.

5. Kultur, etika, dan kebiasaan

Implementasi TI mesti memerhatikan secara serius kultur, etika dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di lingkungan dimana dia diimplementasikan. Dalam hal ini konteks lingkungan kerja para aparatur sipil negara ini perlu menjadi perhatian serius untuk dibenahi. Sistem digital bisa gagal karena kebiasaan-kebiasaan konvensional yang masih berlaku.

6. SDM

The man behind the gun jelas sangat berpengaruh terhadap hasil. Kualifikasi SDM yang mengelola dan menjalankan sistem TI harus benar-benar diperhatikan sesuai dengan kebutuhan.

7. Layanan, infrastruktur dan sistem aplikasi

Last but not least baru terkait kualitas layanan, infrastrukturnya, aplikasi-aplikasi yang digunakan. Bagaimana kehandalannya, integrasinya, dan aspek-aspek teknis lainnya.

Jadi implementasi sistem teknologi informasi untuk mendukung tuntutan zaman now seperti kecepatan, kelincahan, dan lain-lain itu TIDAK dapat diwujudkan hanya dengan beli infrastruktur dan install aplikasinya lalu selesai. Ada sejumlah aspek yang harus diperhatikan seperti disebutkan diatas. Otherwise, investasi yang dikeluarkan untuk TI akan tidak optimal manfaatnya atau bahkan justru dapat berdampak buruk yang berbahaya.

[Baca juga: Transformasi Digital dan Manajemen Investasi]

Value dan Risiko: Dua Sisi Mata Uang

Hal ini karena Teknologi Informasi tidak hanya membawa manfaat (value) bagi yang menggunakannya, tapi juga pada saat yang sama membawa risiko-risiko. Manfaat dan risiko itu ibarah sisi-sisi dari mata uang yang sama. Tidak bisa kita hanya mau mengambil salah satunya saja dan membuang atau mengabaikan yang lainnya.

Salah satu risiko yang menuntut perhatian serius saat ini adalah risiko keamanan siber (cyber security). Pada zaman sekarang ini, pertahanan negara tidak cukup bertumpu pada alutsista (alat utama sistem senjata) untuk angkatan darat, udara, dan laut belaka. Tapi seiring dengan makin intensifnya penggunaan TI pada berbagai sektor maka telah membuka ruang perang baru yaitu perang di dunia siber. Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), siber Indonesia pada 2018 tercatat diserang 225,9 juta kali. Bahkan menurut kajian Frost & Sullivan yang diprakarsai Microsoft, potensi kerugian ekonomi Indonesia akibat insiden keamanan siber mencapai US$ 34.2 miliar atau Rp 483 triliun (kurs Rp 14.120 per USD).

Jadi jelas risiko keamanan siber ini menuntut perhatian yang sangat-sangat serius. Namun demikian apakah adanya ancaman keamanan tersebut, membuat kita mau kembali menggunakan teknologi jaman doeloe? Apakah kita akan melewatkan berbagai value yang didapat dari TI hanya karena takut ancaman keamanannya? Lebih jauh apakah mungkin menghindari penggunaan teknologi di masa kini dan masa depan? Kembali ke jaman doeloe di jaman now malah justru memiliki risiko yang jauh lebih besar.

[Baca juga: Transformasi Digital: Tahapan yang Harus Dilalui]

Penggunaan teknologi itu bukan lagi sebuah pilihan, tapi sudah merupakan keharusan. Yang dapat dilakukan adalah menerapkan sistem tata kelola yang komprehensif sedemikian sehingga value dari TI dapat terealisasi dan pada saat yang sama risiko-risiko yang terdapat padanya dapat dikelola dengan sebaik-baiknya. Tak mungkin kita dapat menghilangkan semua risiko. Kita hanya dapat mengelolanya sehingga dampak negatifnya dapat ditekan sampai pada tingkatan yang dapat diterima. Jadi, sambut era Digital dengan penuh kesiapan. Maju terus Indonesia Kita! [wkid/picture:geotimes]

Penulis: Umar Alhabsyi, ST, MT, CISA, CRISC.

Founder & CEO iValueIT Consulting (PT IVIT Konsulindo)


ARTIKEL TERKAIT