Sabar dan Shalat Sebagai Penolong

Tentang Artikel :

Dalam surat Al Baqarah, Allah SWT memerintahkan bagi hamba-Nya untuk meminta pertolongan dengan bersabar dan mendirikan sholat. “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah: 153). Alquran kerap menggandengkan sholat dengan sikap sabar. Mengapa sabar dan sholat? Sholat yang khusyu akan menghasilkan kemampuan bersabar. Sebaliknya kesabaran yang baik akan menghasilkan shalat yang berkualitas. Konsisten dalam menjaga sabar dan sholat akan menjadikan ketenangan dan kedamaian di hati, yang akan menjadi kunci turunnya pertolongan Allah SWT.

Dengarkan



WAKOOL.ID - Dalam surat Al Baqarah, Allah SWT memerintahkan bagi hamba-Nya untuk meminta pertolongan dengan bersabar dan mendirikan sholat.

Allah Ta’ala berfirman,

“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al Baqarah: 45).

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah: 153).

Alquran kerap menggandengkan sholat dengan sikap sabar. Mengapa sabar dan sholat?

Sabar

Secara etimologi, sabar (ash-shabr) dapat diartikan dengan “menahan” (al-habs). Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah. Difirmankan, “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabb-nya.” (QS. ar-Ra'd :22). 

Sabar termasuk kata yang banyak disebutkan Alquran. Jumlahnya lebih dari seratus kali. Tidak mengherankan, karena sabar adalah poros sekaligus asas segala macam kemuliaan akhlak. Jika kita telusuri lebih lanjut ternyata hakekat seluruh akhlak mulia adalah sabar. Sabar selalu menjadi asas atau landasaannya orang beriman.

Syukur adalah bentuk kesabaran untuk tidak mengingkari nikmat yang telah Allah karuniakan. Qana'ah [merasa cukup dengan apa yang ada] adalah sabar dengan menahan diri dari angan-angan dan keserakahan. Hilm [lemah-lembut] adalah kesabaran dalam menahan dan mengendalikan amarah. 

Pemaaf adalah sabar untuk tidak membalas dendam. Demikian pula akhlak-akhlak mulia lainnya. Semuanya saling berkaitan. Faktor-faktor pengukuh agama semuanya bersumbu pada kesabaran, hanya nama dan jenisnya saja yang berbeda.

Cakupan sabar ternyata sangat luas.

Dengan kata lain secara psikologis kita bisa memaknai kesabaran sebagai suatu kemampuan untuk menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Jadi bisa dikatakan sabar adalah upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk mencapai ridho Allah SWT.

Maka orang yang sabar adalah orang yang mampu menempatkan diri dan bersikap optimal dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputus-asaan tapi merupakan optimisme yang terukur. Ketika menghadapi situasi dimana kita harus marah misalnya maka marahlah secara bijak dan diniatkan untuk kebaikan bersama.

Didalam QS Al Baqarah [2] ayat 153 Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Ayat di atas menunjukkan secara khusus keutamaan sabar, karena sabar menjadi sebab datangnya pertolongan Allah dari berbagai hal yang dihadapi.

Sholat

Sholat adalah sebab pertolongan berbagai permasalahan.

Allah telah menerangkan dalam kitab-Nya bahwa sholat akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Jika seorang hamba meminta pertolongan dengan melakukan sholat dalam setiap urusannya, maka Allah akan mudahkan baginya karena sholat merupakan penghubung antara hamba dengan Rabb-Nya.

Dalam shalat dan sabar terintegrasi proses latihan yang meletakkan kendali diri secara proporsional, mulai dari gerakan (kecerdasan motorik), inderawi (kecerdasan sensibilitas), aql, dan pengelolaan nafs menjadi motivasi yang bersifat muthma'innah. 

 “Hai jiwa yang tenang (nafs yang muthmainah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang bening dalam ridha-Nya.”(QS al-Fajr [89]: 27-28).

Orang-orang yang memiliki jiwa muthma'innah akan mampu mengaplikasikan semua dimensi sholat dalam kesehariannya. Sebuah nilai yang didominasi kesabaran paripurna. Praktiknya tercermin dari sikap penuh syukur, pemaaf, lemah lembut, penyayang, tawakal, merasa cukup dengan yang ada, pandai menjaga kesucian diri, serta konsisten.

Ketika mendapat rezeki berlimpah, sholatlah ungkapan kesyukurannya. Ketika beban hidup semakin berat, shalatlah yang meringankannya. Ketika rasa cemas membelenggu, sholatlah yang menjadi media pertolongan Allah SWT kepadanya.

Sholat yang khusyu akan menghasilkan kemampuan bersabar. Sebaliknya kesabaran yang baik akan menghasilkan shalat yang berkualitas. Ciri sholat berkualitas adalah terjadinya dialog dengan Allah sehingga melahirkan ketenangan dan kedamaian di hati. 

Komunikasi dengan Allah yang terbebas dari “titipan” kepentingan, Insya Allah sholat kita akan mencapai derajat komunikasi tertinggi. Siapa pun yang mampu merasakan nikmatnya berdialog dengan Allah SWT, hingga berbuah pengalaman spiritual yang dalam, niscaya ia tidak akan sekali melalaikan shalat. Ia rela kehilangan apa pun, asal tidak kehilangan shalat. Jika sudah demikian, Insya Allah pertolongan Allah pasti akan datang.

 

Semoga bermanfaat. 

 

 

Referensi :

https://www.kompasiana.com/wijayalabs/552e0d9b6ea834962c8b4569/jadikan-sabar-dan-sholat-sebagai-penolongmu

https://www.republika.co.id/berita/q0afll320/mengapa-shalat-dan-sabar-sering-disandingkan-dalam-alquran

https://muslim.or.id/60368-jadikanlah-sabar-dan-shalat-sebagai-penolongmu.html 

wkid/muslim/republika/kompasiana