Darwinisme Digital

Tentang Artikel :

Survival of the fittest. Istilah yang menjadi populer setelah diulas oleh Charles Darwin. Darwin menyatakan bahwa organisme yang paling berhasil dalam bertahan hidup adalah yang terbaik dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Tapi bagaimana memaknai itu bagi bisnis saat ini, ketika perubahan global terjadi begitu cepat dan terus menerus?


WAKOOL.ID- Survival of the fittest. Istilah yang menjadi populer setelah diulas oleh Charles Darwin. Darwin menyatakan bahwa organisme yang paling berhasil dalam bertahan hidup adalah yang terbaik dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Teori ini adalah basis penting yang mendasari studi tentang evolusi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Tapi bagaimana memaknai itu bagi bisnis saat ini, ketika perubahan global terjadi begitu cepat dan terus menerus. Mungkin sebagian akan berpikir bahwa perusahaan yang paling sukses dalam bertahan adalah perusahaan besar dengan tim ahli yang lengkap, aset berlimpah dan milyaran uang yang siap untuk dibelanjakan.

Namun darwinisme di era digital ini ternyata tidak terkait itu. Ia adalah tentang kemampuan berkembang dengan memanfaatkan perubahan global yang cepat. Ini tentang kemampuan beradaptasi dengan cepat terhadap apapun yang mungkin terjadi di masa depan yang tidak pasti.

Bisnis besar dengan jangkauan global yang telah ada selama 30 hingga 50 tahun bukan lagi perusahaan paling sukses di luar sana. Bahkan, bisnis ini sangat mungkin berada pada posisi yang sulit di masa-masa ini. Mereka dapat dengan mudah terjebak dalam cara mereka sehingga mereka merasa sulit untuk membuat perubahan sama sekali.

Mari kita lihat kisahnya Sony yang berinvestasi besar-besaran untuk produk Walkman dan Discman nya dulu. Produknya ini membuat mereka menjadi pemimpin pasar. Hingga kemudian hadirlah MP3 dan musik digital. Waktu itu sebenarnya Sony bisa saja pindah ke pasar baru dan berpotensi sangat menguntungkan ini.  Tetapi mereka berpikir jika kemudian musik digital ini benar-benar sukses, maka apa yang akan terjadi pada semua Walkman dan Discman mereka tadi? Produk itu tentu akan menjadi ketinggalan zaman. Tak menjual lagi. Jadi, Sony melihat perpindahan ke digital sebagai tindakan yang mengancam diri sendiri. Akibatnya, perusahaan ragu-ragu untuk bergerak di pasar baru dan akhirnya kehilangan posisi terdepan karena para pesaing yang tidak menyia-nyiakan kesempatan disrupsi tersebut.

Di luar itu, ada banyak bisnis juga yang tanggung-tanggung dalam mengadopsi teknologi baru. Seperti sebuah bank yang mau memanfaatkan teknologi digital hanya dengan memungkinkan cek disetorkan dengan cara memotret cek kertasnya untuk dikirimkan melalui Internet. Mengapa tidak sekalian menghilangkan penggunaan kertas saja. Mereka memaksakan adopsi teknologi baru pada sistem lama yang sudah kadaluarsa.

Hal yang sama biasanya juga terjadi pada bisnis-bisnis warisan. Alih-alih mengutak-atik sistem yang sudah sakit, seharusnya pemiliknya bersedia membuat perubahan mendasar untuk benar-benar beradaptasi.

Jika ada sesuatu yang pasti, maka itu adalah ketidakpastian masa depan. Memang sebagian orang suka melakukan prediksi-prediksi, tapi tidak ada yang benar-benar yakin dengan apa yang ada di depan. 

Jika kita melihat kembali sejarah kita baru-baru ini, kita dapat mengenali tiga era penting yang menunjukkan pola bagaimana bisnis merespons teknologi baru. Dengan melihat munculnya listrik dan komputer, kita dapat melihat bahwa kita berada di tengah era yang sangat mirip dengan internet.

Memang kalau kita melihat ke belakang, hal ini mirip dengan bagaimana respon masyarakat terhadap teknologi baru yang menciptakan revolusi industri sebelum ini. Berkali-kali, orang berusaha menerapkan teknologi pada cara-cara lama mereka dalam melakukan sesuatu. Cara lama dan baru akan bertemu satu sama lain dengan cara yang berbeda-beda hingga, mau tidak mau, teknologi baru sepenuhnya diterima, terintegrasi dan menjadi kelaziman dalam kehidupan sehari-hari.

Hal yang sama dulu juga terjadi pada listrik. Butuh waktu yang lama dari ketika potensinya ditemukan untuk dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan bisnis dan rumah sampai listrik menjadi hal yang biasa. Untuk waktu yang lama, pabrik-pabrik yang mengandalkan tenaga uap ragu-ragu untuk mengubah cara mereka. Butuh waktu yang lebih lama lagi bagi perusahaan-perusahaan untuk menyadari bahwa yang mereka butuhkan adalah pabrik baru yang menggunakan energi listrik, bukan pabrik lama yang coba diperbarui di sebagian tempatnya saja.

Proses serupa terjadi dengan komputer. Meskipun untuk yang ini dibutuhkan waktu pengenalan hingga penerimaan masal yang lebih cepat dibanding yang dibutuhkan sebelumnya. Pada periode ini, bisnis masih berhati-hati dengan mencoba mengkomputerisasi hanya beberapa proses sambil mempertahankan sebanyak mungkin proses tradisional mereka.

Beberapa konflik era komputer diselesaikan dengan masuknya era digital, termasuk Internet.

PC dan Mac, yang tadinya tidak kompatibel, sekarang dapat terhubung satu sama lain melalui Internet. Tetapi sekali lagi, kita mendapati diri kita dengan banyak bisnis hanya menerapkan teknologi modern di pinggiran bisnis mereka. Masih ragu-ragu untuk menyentuh ke jantungnya.

Membuat Disrupsi

Clayton Christensen dari Harvard Business School, menggambarkan disrupsi di dunia bisnis sebagai perusahaan baru yang hadir dengan teknologi baru dan harga yang lebih rendah untuk melemahkan perusahaan lama. 

Tapi definisi ini dipandang beberapa ahli lain tidak cukup cocok.

Coba kita lihat beberapa pendisrupsi terbesar dalam beberapa tahun terakhir ini. Uber atau AirBnB misalnya. Kita melihat bahwa bisnis ini tidak selalu memiliki harga yang lebih murah dan juga tidak sekedar membawa beberapa teknologi baru. Bahkan mungkin pelanggan AirBnB mungkin akan mengeluarkan uang lebih banyak daripada yang mereka belanjakan unutk hotel tradisional. Jadi apa yang sebenarnya dilakukan oleh para pendisrupsi adalah memikirkan kembali cara melakukan sesuatu. Baik untuk menjalankan layanan transportasi seperti Uber atau beroperasi di industri perhotelan seperti AirBnB. Dengan kata lain, mereka mengubah paradigma dan mengubah cara orang melakukan sesuatu secara mendasar.

Jadi untuk benar-benar mendisrupsi Industri, kita harus melakukan lebih dari sekedar menerapkan beberapa teknologi baru dan menawarkan harga yang lebih murah. Kita harus berani melampaui lapisan terluar bisnis kita dan memiliki inovasi yang berani di inti keberadaan bisnis kita. 

Lapisan luar bisnis itu tentang bagaimana Kita berkomunikasi dengan pelanggan-pelanggan kita, bagaimana usaha pemasaran kita, apa produk atau layanan kita dan bagaimana fungsi bisnis kita. Sebagian besar bisnis mungkin telah menambahkan teknologi pada lapisan ini, seperti menggunakan buletin email dan akun Instagram sebagai alat pemasaran. Hanya sedikit yang menempatkan teknologi dan cara-cara yang benar-benar inovatif dalam menjalankan bisnis pada intinya.. 

Salah satu kunci untuk menghasilkan rencana inovatif adlaah memikirkan ide-ide yang tidak dibatasi oleh parameter dan asumsi standar pada industri kita. Perusahaan seperti Uber, Gojek, dan AirBnB berani menghapus parameter standar industri yang mengatakan bahwa perusahaan pada area ini harus memiliki aset fisik, seperti mobil dan kamar, untuk menghubungkan pelanggan dengan tumpangan dari satu titik ke titik yang lain atau kamar untuk menginap selama liburan atau perjalanan bisnis seseorang.

Ketika ide kita berhasil menemukan solusi yang mengubah parameter tersebut, maka kita mungkin sedang dalam jalur yang benar untuk menciptakan disrupsi yang nyata.

4 Jalan untuk merubah Bisnis

Kita tidak perlu menjadi bisnis baru untuk mendisrupsi Industri. Pada dasarnya ada empat cara bagi bisnis yang sudah mapan untuk berubah dan menjadi inovatif.

Yang pertama adalah mengganggu diri sendiri. Ini berarti berinvestasi dalam teknologi atau cara melakukan hal-hal yang, jika berhasil, akan membuat proses kita saat ini menjadi usang. Ini juga disebut sebagai "kanibalisme" di dunia bisnis. Meskipun bisa berisiko dan sulit, serta mungkin butuh waktu yang tidak sedikit.

Pikirkan saja bagaimana Netflix melakukan tindakan yang luar biasa dari gangguan diri ketika mengalihkan fokusnya dari persewaan DVD ke streaming. Pada tahun 2007, setelah menginvestasikan $40 juta dolar dalam penyimpanan data baru, Netflix mengizinkan anggota yang ada untuk melakukan streaming konten dalam jumlah terbatas tanpa biaya tambahan, sementara perpustakaan konten streaming mereka terus bertambah.

Kemudian, pada tahun 2011, Netflix membuat rencana berlangganan untuk menyewa DVD dan konten streaming secara terpisah. Tidak hanya itu, mereka membuat paket streaming lebih murah dan memindahkan paket DVD ke layanan bernama Qwikster. Dalam beberapa bulan, harga saham anjlok dari $42 per saham menjadi di bawah $10, dan Wall Street meminta CEO Reed Hastings untuk mundur.

Tapi Netflix yakin streaming adalah jalan masa depan. Setelah melewati badai awal, menjadi jelas bahwa banyak pelanggan baru tertarik dengan biaya berlangganan yang lebih rendah, dan perpustakaan konten terus berkembang. Sekarang saham tersebut dijual dengan harga lebih dari $100.

Ini membawa kita ke cara kedua untuk berubah, yaitu: penemuan kembali yang terus-menerus. Alih-alih membuat rencana operasi yang kaku dan tidak fleksibel, sediakan ruang untuk mengadaptasi bagian penting dan mendasar dari bisnis kita. Pikirkan bagaimana Facebook secara alami berevolusi dari sekedar tempat untuk terhubung kembali dengan teman lama menjadi perusahaan media paling kuat di dunia saat ini. Tentu bukan kebetulan bahwa Facebook menghabiskan jutaan dolar setiap tahun untuk penelitian dan pengembangan.

Dua cara terakhir untuk menumbuhkan perubahan adalah membuat pertaruhan yang terukur dengan nilai terbatas. Misalnya pertaruhan terukur dari BMW yang membuat sejumlah kecil kendaraan listrik dalam seri BMWi mereka. BMW tidak mengandalkan mobil-mobil ini sebagai sumber keuntungan utamanya, tetapi usaha tersebut memungkinkannya untuk mengembangkan teknologi baru. Mungkin suatu hari teknologi BMWi akan digunakan untuk menyempurnakan model mobil mereka lainnya.

Beda lagi jalan yang dilakukan perusahaan-perusahaan seperti Google, Dell, Cisco, dan Intel. Mereka menggunakan jalan Hedging yaitu ketika mereka berinvestasi di bisnis lain untuk mengembangkan ide-ide baru yang dapat bermanfaat bagi mereka. Inilah yang dilakukan adalah oleh Google Ventures, atau yang dilakukan oleh DuPont. Mengapa DuPont yang produsen plastik berinvestasi di General Motors yang produsen mobil.

Isu Privasi

Sebagaimana lebih dari satu dekade yang lalu sudah dapat diprediksi bahwa layanan streaming video adalah cara masa depan, maka mestinya kita pun dapat membuat beberapa asumsi yang cukup aman tentnag masa depan dan teknologi digital yang akan muncul lainnya nanti. 

Saat kita mengeksplorasi apa yang akan menjadi hal besar berikutnya, ada baiknya kita mencoba dan melihat satu atau dua langkah ke depan. Misalnya, ketika smartphone muncul, maka seharusnya memicu pula pemikiran inovatif yang melihat implikasi lebih lanjut dari adanya teknologi ini. Seperti aplikasi dan bahkan hal-hal yang terlihat remeh seperti emoji dan peluang-peluang bisnis sekunder yang akan mengikuti perkembangan teknologi dan penggunaan smartphone tersebut.

Salah satu area yang banyak dieksplorasi adalah yang dikenal dengan Internet of Things. Apalagi ketika layanan Internet 5G sudah digelar luas dan matang. Maka akan memungkinkan semakin banyak perangkat yang terhubung satu sama lain secara realtime. Hal ini bukan hanya soal kemampuan memproses banyak data dibandingkan sebelumnya. Tapi ini juga tentang kemungkinan terjadinya transaksi tanpa batas.

Kita bisa melihat misalnya teknologi pengenalan wajah. Segera, wajah kita bisa sama validnya dengan bentuk ID seperti KTP atau paspor. Jadi ide untuk bisa bepergian tanpa identitas/paspor kertas, atau bisa membayar dengan tidak melakukan apa-apa selain menunjukkan wajah kita, sangat mungkin dilakukan. Apakah sulit membayangkan rekening bank dan izin perjalanan Anda ditautkan ke sebuah sumber ID tanpa kertas?

Tentu saja, teknologi pengenalan wajah dan aspek lain yang mungkin dari Internet of Things menimbulkan pertanyaan tentang privasi dan keamanan data. Itulah sebabnya bisnis perlu fokus pada keamanan dan transparansi tentang bagaimana mereka memperlakukan data orang. Dari apa yang sudah kita lihat, kemungkinan besar manfaat dari kehidupan yang dibantu secara digital, bagi kebanyakan orang, akan lebih besar daripada kekhawatiran ini. Oleh karena itu, kembali kepada perusahaan masa depan untuk memastikan memberikan keamanan kepada orang-orang disamping nilai yang besar sebagai imbalan atas data mereka. 

Fokus pada Orang, Bukan Teknologi

Salah satu alasan mengapa opsi pembelian satu klik dari Amazon sangat mengesankan adalah karena ia memahami perbedaan antara berbelanja dan membeli. Sementara banyak perusahaan mencoba menjadikan belanja sebagai pengalaman yang tak terlupakan, tapi Amazon melakukan sebaliknya. Perusahaan yang berpikiran lebih maju perlu mempertimbangkan apa yang telah dilakukan Amazon yang membuat pengalaman membeli secepat, semudah, dan setak terlupakan mungkin.

Jika pengalaman membeli itu berkesan, biasanya karena itu adalah pengalaman buruk. Pengalaman membeli yang baik tidak sulit dan mudah, seperti mengurus seluruh proses dengan cukup satu kali klik dan selesai.

Intinya, membuat segala sesuatunya mulus dan mudah bukanlah tentang mengetahui teknologi mana yang paling mutakhir. Ini tentang empati dan mengetahui apa yang diinginkan orang dan bagaimana membuatnya lebih mudah bagi mereka untuk mencapai tujuan itu. Jadi lupakan kata kunci seperti "interaktif" dan "digital" dan pikirkan tentang alat yang sudah digunakan orang dan bagaimana membuat alat itu lebih terhubung.

Kita bisa melihat bahwa era digital membawa kita menuju dunia hybrid, dimana speaker bluetooth juga merupakan portal yang dapat membantu kita membeli barang atau mengakses informasi. Tak lama lagi, tidak akan ada batasan regional untuk konten dan hal-hal seperti mata uang nasional akan kurang menjadi perhatian. Saatnya untuk berpikir melintasi semua batasan dan bagaimana kita dapat membantu orang di mana pun memiliki pengalaman yang lebih baik dan tanpa gesekan dengan teknologi yang telah memasuki setiap bagian kehidupan kita.

Satu contoh lagi yang mungkin kita sering dapati. Banyak orang menunjuk Artificial Intelligence (AI) sebagai salah satu teknologi yang sangat menjanjikan dan banyak digunakan di masa depan. Dan memang kemungkinan besar dan saat ini pun sudah terjadi. Tetapi berapa banyak perusahaan yang hanya memasang bot obrolan ke situs web mereka, hanya untuk mengatakan, "hei, kami menggunakan AI lho". Buat apa?

Perusahaan yang benar-benar inovatif dan disruptif akan menjadi perusahaan yang menggunakan teknologi semacam ini untuk melakukan hal-hal transformatif baru. Mereka akan selalu menggunakan teknologi terbaru sebagai inti dari rencana bisnis mereka, sebagai alat untuk membantu orang dengan cara-cara yang inovatif.

Kesimpulan

Darwinisme digital bukan tentang menjadi bisnis terkuat atau terkaya. Ini tentang menjadi gesit dan mampu dengan cepat beradaptasi dengan pasar global yang terus berubah. Perusahaan dapat tetap menjadi yang terdepan dengan menempatkan inovasi dan kemauan untuk berubah sebagai inti dari rencana bisnis mereka. Mereka juga dapat berkonsentrasi untuk melihat melampaui parameter-parameter standard bisnis mereka menuju cara-cara baru dalam melakukan sesuatu. Dan yang paling penting mereka berusaha membantu memecahkan permasalahan orang untuk hidup di era digital dengan cara yang lebih mudah dan cepat. [wkid]


ARTIKEL TERKAIT