Reset Otak 🧠

Tentang Artikel :

How to train your brain? Pembahasan suatu metode reset otak yang sangat kontroversial


WAKOOL.ID - Hah reset otak? Tenang... ini bukan judul clickbait. Reset otak disini bukan berarti otak kita direset seperti smartphone dengan setting factory reset ya. Bicara soal smartphone, sudah menjadi kebiasaan kita menggunakan smartphone untuk segala aktivitas. Scrolling social media, main game, browsing, dll, kebanyakan aktivitas hiburan. Tidak jarang sampai bikin kecanduan dan mengganggu kewajiban kita. Nah, maksud dari reset otak disini adalah cara "me-reset" otak kita dari kecanduan tersebut.

Kita pasti sudah tidak asing dengan istilah detox. Detox atau detoksifikasi berarti mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Ada istilah dopamine detox. Dopamine adalah zat pada otak yang mengatur kadar kesenangan dari seseorang.

Balik lagi ke smartphone, saat kita main game kadar dopamine akan meningkat drastis sehingga membuat kita senang. Saat kita membaca buku kadar dopamine cenderung rendah. Kegiatan yang menurut kita membosankan cenderung akan lebih cepat ditinggalkan. Metode dopamine detox yang ekstrim mengharuskan kita untuk meninggalkan kegiatan yang bersifat candu secara total. Mungkin hasilnya tidak efektif, bahkan kebiasaan lama akan dilakukan lebih sering. Maka sebaiknya dilakukan bertahap.

Kita berkuasa terhadap setiap kegiatan

Kita pakai contoh kasus sebelumnya yaitu candu main game. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan main game. Saya pun bermain game di waktu senggang. Tapi yang salah adalah jika waktu untuk melakukan kewajiban kita habiskan untuk main game, akhirnya waktu istirahat dikorbankan untuk melakukan kewajiban yang tertunda. Buatlah jadwal kegiatan harian, bahkan di hari libur sekalipun. Dan kita harus komitmen dengan jadwal yang dibuat.

Untuk seseorang yang candu main game, otaknya berpikir bahwa kegiatan apapun selain main game tidak menarik bagi dia. Aktivitas sehari-hari selalu ter-distraksi dengan hal-hal yang ada pada game yang ia mainkan. Orang yang mengalaminya akan kesulitan untuk fokus. Mungkin secara teori mudah diatasi. Tapi tidak secara prakteknya. Dengan bertahap, kurangi intensitas kegiatan yang dianggap otak paling menyenangkan. Sebaliknya, tingkatkan intensitas kegiatan yang dianggap membosankan seperti membaca buku. Dengan metode ini, secara perlahan otak kita akan menganggap bahwa membaca buku adalah hal yang menyenangkan. Kebiasaan membaca juga meningkatkan fokus kita.

Self Reward

Penghargaan bukan hanya diberikan untuk orang lain, tapi kita juga bisa mendapatkan penghargaan dari kita sendiri. Self reward setiap orang pasti berbeda. Di era sekarang, platform streaming film semakin mudah dan murah dijangkau. Kalangan anak muda di usia produktif pasti kebanyakan hobi streaming film. Terutama yang hobi sampai candu streaming drama korea atau disingkat drakor. Untuk mensiasatinya, jadikan nonton film sebagai reward dari kewajiban. Hasilnya kita cenderung lebih fokus melakukan kegiatan sehari-hari tanpa distraksi streaming film.

Don't push yourself!

Dopamine detox mengarahkan kita untuk lebih memilih kegiatan yang produktif seperti membaca, olahraga, bersosial. Bukan berarti kegiatan yang sifatnya hiburan harus ditinggalkan. Banyak yang salah persepsi bahwa dopamine detox itu harus menjauhi apa pun yang berkaitan dengan teknologi. Tidak salah dan tidak benar. Semakin canggih, semakin diuji kemampuan diri untuk memilih dan memilah. Tetap lakukan kegiatan yang berkaitan dengan teknologi dan berkreasi lah sesuai minatmu.

Banyak yang berhasil melakukan dopamine detox dan "me-reset" otaknya sehingga lebih produktif, tapi tidak sedikit juga yang gagal dan kembali ke habit buruk sebelumnya. Seorang pemalas bisa menjelma jadi si rajin "pecandu belajar". Pada akhirnya menimbulkan masalah baru, yaitu burnout. Burnout sangat menarik untuk dibahas, mungkin akan saya bahas di tulisan berikutnya.

Itulah sekilas tentang "reset" otak melalui metode dopamine detox. Menurut saya keberhasilan metode ini sangat tergantung dari motivasi orang yang melakukan. Apakah efektif? Bisa ya, bisa tidak :). Apa pendapatmu tentang dopamine detox?

[wkid/ilham-gunawan]

[wkid/picture:unsplash]


ARTIKEL TERKAIT