Sekedar percaya kepada wujud allah swt ternyata tidak cukup

Tentang Artikel :

Sekedar percaya akan wujudnya Tuhan belum cukup sebagai seorang untuk menjadi Islam yang sesungguhnya. Dijelaskan dalam Al Qur’an bahwa sesungguhnya iblis pun percaya akan wujud Allah SWT. Kesalahan iblis yang sangat fatal ialah bahwa iblis telah menyombongkan diri dengan membanggakan asal usul keturunannya yang telah diciptakan Allah SWT dari api. Sikap sombong telah menyebabkan iblis kufur atau ingkar kepada Allah SWT. Iblis enggan mematuhi perintah Allah SWT agar memberi hormat kepada Adam, yang telah dibuktikan Allah SWT, mampu menguasai ilmu pengetahuan tentang alam sekitarnya yang tidak dapat dipahami iblis. Satu hal yang paling menarik ialah bahwa sekedar akan wujud Allah SWT tidaklah cukup. Hal yang paling utama di dalam hubungan makhluk dengan Tuhan ialah kepatuhan yang bulat dan utuh hanya kepada-Nya. Inilah intisari yang sesungguhnya dari ajaran Islam, yaitu men-Tauhid-kan atau meng-Esa-kan Allah SWT.

Dengarkan



WAKOOL.ID - Untuk menjadi seorang Islam yang sesungguhnya, tidaklah cukup hanya sekedar percaya akan wujudnya Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan sesungguhnya sudah ada dengan sendirinya, tertanam di dalam hati sanubari setiap manusia sejak lahir.

Walaupun kadang kepercayaan ini seolah tertutupi, namun dalam keadaan tertentu, kepercayaan itu akan muncul dengan sendirinya. Seringkali dalam keadaan gembira, orang sering melupakan Tuhan, bahkan ada sebagian orang dengan sombong yang mengatakan bahwa “tidak ada Tuhan”. Namun dalam keadaan yang kritis , ketika sedang diancam bahaya maut, atau sedang berlayar di tengah lautan yang dilanda badai dan taufan yang dasyat, orang tersebut dengan kusyu berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan.

Hal tersebut digambarkan di dalam Al Qur’an dalam surat

هُوَ ٱلَّذِى يُسَيِّرُكُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا كُنتُمْ فِى ٱلْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِم بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا۟ بِهَا جَآءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَآءَهُمُ ٱلْمَوْجُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوٓا۟ أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ
فَلَمَّآ أَنجَىٰهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ ۗ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُم ۖ مَّتَٰعَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
 

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya. Kemudian datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".

Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Al Quran surat Yunus ayat 22-23)

Ayat ayat seperti ini diulang ulang beberapa kali dalam Al Qur’an. Bahkan dalam ayat yang lain, Al Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa manusia itu dengan sendirinya memang sudah mengakui akan wujud dan kekuasaan Allah SWT .

Seperti sudah dijelaskan di atas, maka sekedar percaya akan wujud Tuhan tidaklah cukup bagi seseorang untuk menjadi seorang Islam yang sesungguhnya. Semua orang pada dasarnya akan percaya kepada wujud Tuhan, bahkan orang yang kafir juga percaya akan hal ini. Al Qur’an menceritakan kenyataan ini dalam peristiwa kejadian manusia dan iblis dengan jelas sekali. Di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah 30-34, kita bisa memahami peristiwa ini.

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلْأَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى ٱلْمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِـُٔونِى بِأَسْمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ
قَالُوا۟ سُبْحَٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ
لَ يَٰٓـَٔادَمُ أَنۢبِئْهُم بِأَسْمَآئِهِمْ ۖ فَلَمَّآ أَنۢبَأَهُم بِأَسْمَآئِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّىٓ أَعْلَمُ غَيْبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ
 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
 

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar"
 

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".

Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
 

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

(Al Quran surat Al Baqarah ayat 30-34)

Dalam peristiwa yang diceritakan Allah SWT dalam Al Qur’an ini, ternyata iblis juga percaya dengan yakin akan wujud Allah SWT sebagai Tuhan. Kesalahan iblis bukan tidak percaya akan wujud Allah SWT sebagai Tuhan. Kesalahan iblis yang sangat fatal ialah bahwa iblis telah menyombongkan diri dengan membanggakan asal usul  keturunannya yang telah diciptakan Allah SWT dari api. Kesombongan itu telah menumbuhkan rasa iri hati kepada manusia yang ternyata lebih cerdas dalam memahami sifat sifat alam. Hal ini yang menyebabkan iblis enggan mematuhi perintah Allah SWT agar menghormati Adam, manusia yang diciptakan dari tanah.

Rasa sombong, membesarkan diri ini adalah penyakit jiwa yang sengaja ditularkan iblis kepada manusia. Sikap sombong telah menyebabkan iblis kufur atau ingkar kepada Allah SWT. Iblis enggan mematuhi perintah Allah SWT agar memberi hormat kepada Adam, yang telah dibuktikan Allah SWT, mampu menguasai ilmu pengetahuan tentang alam sekitarnya yang tidak dapat dipahami iblis.

Satu hal yang paling menarik dalam peristiwa ini ialah bahwa sekedar akan wujud Allah SWT tidaklah cukup. Hal yang paling utama di dalam hubungan makhluk dengan Tuhan ialah kepatuhan yang bulat dan utuh hanya kepada-Nya. Inilah intisari yang sesungguhnya dari ajaran Islam, yaitu men-Tauhid-kan atau meng-Esa-kan Allah SWT. Hal ini juga berarti meletakkan Allah SWT dan semua perintah perintah Nya di atas segalanya, terutama di atas kepentingan dan keinginan pribadi. Oleh sebab itu men-Tauhid-kan Allah SWT adalah jauh lebih sulit dari sekedar mempercayai akan wujud Nya. Men-Tauhid-kan Allah SWT membutuhkan suatu perjuangan berat dan konsistensi dalam setiap langkah menghadapi kehidupan.

 

Referensi: Muhammad Imadudin Abdulrahim, Kuliah Tauhid, Yayasan Pembina Sari Insan, 1982.