Sungguh Cintamu Tak Terperi, Duhai Rasul (Tafsir Al-Kahfi Bagian 3)

Tentang Artikel :

Setiap Nabi dan Rasul sangat mencintai umatnya. Tapi cinta Nabi kita Muhammad SAW pada umatnya jauh melampaui cinta-cinta nabi dan rasul lain kepada umatnya. Simak deskripsi yang disampaikan Allah mengenai hal ini dalam Surat Al-Kahfi.


WAKOOL.ID— Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan bagaimana Allah SWT telah menurunkan panduan sempurna yaitu Al-Quran melalui hamba terbaik Nya, Rasulullah SAW. Panduan tersebut membimbing manusia untuk beriman hanya pada Allah yang Maha Esa dan selalu beramal saleh. Kabar gembira bagi orang-orang yang mau mengikuti panduan Allah yang diseru oleh Rasulullah SAW, serta peringatan ancaman bagi yang mengingkari dan berpaling darinya.

Rasulullah yang sangat cinta pada seluruh umat manusia, merasa sangat sedih jika ajakan beliau pada kebaikan itu tidak didengar dan diikuti.

Kesedihan mendalam beliau SAW dan bagaimana Allah SWT menghiburnya dijelaskan pada ayat 6 berikut:

َلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur'an).” (QS. Al-Kahfi: 6)

Allah berfirman seraya menghibur Rasul-Nya, Muhammad saw. atas kesedihan beliau terhadap orang-orang musyrik karena tindakan mereka yang tidak mau menerima yang disampaikan Rasulullah SAW.

Rasul SAW merasa sedih melihat perlawanan kaumnya kepadanya dan pengingkaran mereka terhadap ajaran-ajaran yang dibawanya, sehingga sangat menyakitkan hatinya. Lalu turunlah ayat ini.

Dalam ayat ini, Allah SWT mengingatkan Rasul SAW agar tidak bersedih hati, hingga merusak kesehatan dirinya, hanya karena kaumnya tidak mau beriman kepada Al-Qur’an dan kenabiannya. Hal demikian itu tidak patut membuat Nabi sedih karena tugas beliau hanyalah menyampaikan wahyu Ilahi kepada mereka, sedangkan kesediaan jiwa mereka untuk menerima kebenaran ayat-ayat tersebut tergantung kepada petunjuk Allah swt. Seperti antara lain dituturkan pada ayat berikut:

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah: 272)

Sesungguhnya Nabi Muhammad bersedih hati karena hasratnya yang besar dan kecintaannya yang dalam terhadap kaumnya supaya mereka beriman, tidak tercapai. Beliau diberi gelar habibullah yang artinya kekasih Allah. Maka sifat kasih sayang beliau yang sangat menonjol kepada sesama manusia itu adalah pencerminan dari cintanya kepada Allah. Semakin kuat cinta kepada Allah, semakin besar pula kasihnya kepada manusia, bahkan manusia lain itu dirasakan sebagai dirinya sendiri.

Prof Quraish Shihab mengatakan setiap nabi dan rasul mempunyai kesamaan yakni mencintai umatnya. Meski setiap nabi mencintai dan mengasihi umatnya, namun kecintaan dan kasih sayang Rasulullah pada umatnya lebih besar dibanding para nabi dan rasul lainnya. 

Rasulullah SAW  tidak berkenan umatnya mendapatkan azab sekalipun mereka menolak seruannya. Rasul justru mendoakan agar suatu saat Allah SWT memberikan hidayah pada mereka. Satu-satunya sifat “Rahim” yang oleh Allah dalam al-Quran diberikan kepada manusia hanyalah kepada Nabi Muhammad SAW. Kita menemukan 114 kali kata “Rahim” disebut dalam al-Qur’an. Diantaranya 113 menunjuk pada Allah, dan hanya satu menunjuk kepada selain-Nya, yaitu tak lain hanya kepada nabi Muhammad SAW.

Kasih sayang Rasulullah pada umatnya antara lain terlihat jelas antara lain ketika Nabi berada di Thaif. Kedatangan Nabi ke Thaif tak lepas dari kondisi Makkah yang semakin tidak aman bagi Nabi terlebih setelah Nabi ditinggal wafat Sayyidah Khadijah ra dan Sayyidina Abu Thalib ra. 

Diantara alasan mengapa Nabi memilih pergi ke Thaif adalah karena terdapat suku Tsaqif yang memiliki hubungan tidak harmonis dengan suku Quraisy di Makkah. Selain itu Nabi juga memiliki keterkaitan dengan orang Thaif karena semasa kecil disusui Halimatus Sa’diyah di kota itu.

Saat itu Rasulullah SAW harus menempuh perjalanan 140 kilometer dari Makkah ke Thaif  berjalan kaki dengan segala halangan dan rintangan sepanjang perjalanan. Namun sesampainya di Thaif, orang-orang di sana justru menolak keberadaan Nabi dan mengusirnya. Mereka bahkan melempari nabi yang kala itu didampingi Zaid bin Tsabit dengan batu dan kotoran.

Karena peristiwa itu, malaikat pun menawarkan kepada Rasulullah bantuan. Malaikat penjaga gunung bersiap menimpakan gunung ke orang-orang Thaif bila Rasulullah menghendakinya. Akan tetapi Rasulullah SAW tidak menghendakinya dan justru mendoakan agar mereka dan anak keturunannya kelak mendapatkan hidayah Allah.  

Oleh karena itu, ketika kaumnya menjauhkan diri dari bimbingan Allah dan rasul-Nya, beliau merasakan kejadian itu sebagai pukulan berat bagi dirinya. Bukankah kaum yang jauh dari hidayah Allah pada akhirnya akan hancur, dan beliau sendiri akan menyaksikan kehancuran mereka itu. Hati yang sangat kasih seolah merasakan penderitaan yang lebih berat dari mereka yang tak mau mendengar seruan beliau itu akibat kebodohan atau kesombongannya dalam menolak kebenaran.

Sungguh luar biasa cinta Rasul kepada umatnya, baik yang sudah beriman dan mengikuti ajarannya maupun yang menolaknya.

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (QS. At-Taubah: 128)

Maha benar Allah dengan segala firman Nya. Semoga sholawat dan salam terbaik tercurah kepada kekasih Nya, insan termulia, nabi kita Muhammad SAW. Aamiin YRA. [wkid]


ARTIKEL TERKAIT